No Debat! One Piece Lebih Baik daripada Naruto – Terminal Mojok

No Debat! One Piece Lebih Baik daripada Naruto

Featured

M. Farid Hermawan

Di media sosial Twitter cukup ramai orang-orang memperdebatkan segala hal dengan judul “no debat” disertai dengan tanda “> “yang justru memunculkan kubu A dan kubu B. Melihat hal itu saya tertarik untuk membuat hal semacamnya. Kali ini saya ingin mengangkat dua jenis manga yang terbilang sangat populer di dunia, antara One Piece dan Naruto. Saya berani mengatakan: No debat, One Piece > Naruto.

Alasannya apa, Cuk! Naruto yang lebih baik!

Woe, santai, santai. Saya punya beberapa alasan mengapa One Piece layak dinobatkan sebagai manga yang lebih baik dari Naruto. Alasan yang paling mendasar karena Naruto sudah tamat. Jadi, Naruto bisa dibilang is dead. Nggak ada lagi cerita Naruto. One Piece? Masih chapter 977 dan akan terus lanjut. Hahaha~

Naruto ada kelanjutannya, Woy! Itu Boruto!?

Eits, saya sedang tidak sedang membahas Boruto. Saya hanya mengatakan One Piece lebih baik dari Naruto. Soal Boruto, mau bagus atau jelek. Ya bodo amat.

Nah, di bawah ini akan saya list alasan lebih detail supaya kalian mudah mudah menangkap poin utama: Kenapa One Piece lebih baik daripada Naruto?

Satu: Eiichiro Oda lebih kaya daripada Masashi Kishimoto

Jangan langsung terjun soal cerita mana yang lebih bagus. Ada baiknya kita coba tilik kekayaan masing-masing penciptanya, hayooo, lebih kaya siapa? Jadi per tanggal 14 Februari 2020, Eiichiro Oda dinobatkan sebagai mangaka terkaya di seantero Jepang. Konon kabarnya dengan penjualan komik One Piece yang mencapai 450 juta kopi, Oda berhasil meraup pundi-pundi uang sebanyak 230 juta dolar. Kalau pakai kurs rupiah sekarang, pendapatannya senilai 3 triliun rupiah lebih, Cuy.

Bahkan nih ya, Akira Toriyama sang pencipta Dragon Ball harus puas menempati posisi kedua setelah Oda. Masashi Kishimoto? Dia hanya meraup keuntungan sebesar 20 juta dolar, alias 300 miliar rupiah agak lebih dikit. Gimana? Seharusnya sudah jelas, dari segi kekayaan dan keuntungan mangaka-nya saja, One Piece sudah lebih baik daripada Naruto.

Baca Juga:  Mudahnya Melupakan Karya Medioker dan Perkara One Piece vs Naruto yang Belum Usai

Dua: Naruto kebanyakan ceramah. Mau kultum Ramadan apa bertarung?

Mau kuliah tujuh menit atau bertarung, Pak Naruto? Dalam cerita, Naruto ceramahnya kadang sangat bertele-tele. Alih-alih fokus duel, Naruto sering kali menang akibat kekuatan ceramahnya yang mustajab. Ngelawan Nagato, masih sempat-sempatnya ceramah ina ini itu. Bukannya langsung di-KO, Nagato dikasih siraman rohani dulu sama si Naruto. Kebiasaan membosankan Naruto itu sudah ia praktikkan sejak kecil ketika bikin insyaf Neji di saat ujian chuunin. Bikin tobat Gaara saat dia ngamuk. Bikin Zabuza nangis sesenggukan. Bahkan sempat-sempatnya dia ngasih ceramah kepada Obito supaya insyaf di tengah perang dunia ninja keempat.

Bagi saya, sumpah itu membosankan banget. Bertarung ya bertarung. Ceramah ya ceramah. Jika dibandingkan dengan  One Piece, sepertinya momen ketika Ace dibantai Akainu saja, Luffy nggak bakal kepikiran buat ngasih ceramah ke Akainu nyuruh dia tobat dan temenan sama Ace. Naruto sepertinya mau menunjukkan sisi humanis yang sebenarnya tidak masuk akal. Kalau One Piece, ya jelas dong, orang kalau emosi pasti bawaannya pengin kelahi terosss. Pokoknya hajar aja dulu, ceramahnya nanti aja.

Tiga: One Piece menyimpan cerita dan karakter penuh misteri. Naruto menyimpan cerita dan karakter yang itu-itu aja.

Setuju nggak kalian dengan kalimat di atas? Kalau saya sih, itu memang benar adanya. Sampai sejauh ini One Piece selalu memompa adrenalin penasaran saya. Saya tidak pernah menduga bahwa Ace akan mati dan Sabo ternyata masih hidup. Saya selalu penasaran dan selalu bertanya-tanya ada karakter apa dan cerita macam apa lagi nih di chapter berikutnya. Chapter berikutnya adalah sebuah kejutan yang sangat sulit ditebak. Selain karena ceritanya, selalu ada karakter-karakter baru misterius yang akan muncul di setiap chapternya.

Sedangkan Naruto? Akhir cerita Naruto bahkan sudah bocor dan dijadikan buku ulasan berjudul Bocoran Akhir Cerita Naruto yang bisa saya beli di Gramedia. Betulan ini. Naruto tidak terlalu banyak memberikan efek kejut yang benar-benar baru. Bahkan hingga akhir cerita, karakter yang muncul pun orangnya itu-itu juga.

Baca Juga:  Ketika Film Vivarium Ber-setting Tempat di Perumahan Banguntapan Jogja

Empat: Naruto sudah kayak FTV cinta-cintaan, One Piece fokus ngejar impian

Sadarilah kisah romansa cinta di Naruto sudah kayak FTV. Khususnya cinta segitiga Naruto, Sakura, dan Sasuke. Berbelit-belit di awal dan ujungnya tetap happy ending. Cinta segitiga Naruto, Sakura dan Sasuke bisa dibuat jadi judul FTV, judulnya Suamiku Adalah Buronan, Teman, dan Mantan Musuh Sahabatku. Berbelit-belit pokoknya.

Sementara dalam One Piece, nggak ada kisah cinta bertele-tele. Sanji aja rela melepas wanita semanis Pudding. Luffy aja bodo amat sama cintanya ratu paling cantik sejagat One Piece, Boa Hancock. Mereka tuh nggak terlalu mikirin ngebucin, yang penting fokus ngejar impian dulu. Ngebucin urusan belakangan.

Lima: One Piece bikin mata segar, Naruto bikin mata cuma fokus ke Tsunade

Saya tidak tahu ini bisa dijadikan perbandingan atau tidak. Namun, sejauh saya mengikuti One Piece, mata saya selalu dibuat segar. Contohnya saat adegan Luffy terdampar di Amazon Lily. Dan waktu arc Thriller Bark, saat Absalom lagi ngecek calon pengantinnya, Nami. Jujur menyenangkan sekali melihat adegan itu.

Apalagi semakin ke sini, bentuk badan para karakter dalam manga ini sehat-sehat, khususnya karakter wanita. Sehat dan sangat menarik. Coba kalau Naruto, paling kesegaran mata hanya saat Tsunade muncul. Itu pun harus kena sensor kalau ditayangin di Indonesia.

Seharusnya, daftar di atas sudah menggambarkan dengan cukup jelas kalau One Piece selangkah lebih di depan daripada Naruto. Ingat, no debat. One Piece memang lebih baik daripada Naruto.

BACA JUGA Sarankan Nonton Anime Naruto pada Kaum Penghujat Jomblo dan tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
67


Komentar

Comments are closed.