Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah

Artikel

Fatimatuz Zahra

Pengalaman biologis perempuan itu nggak cuma menstruasi, loh. Ada hamil, melahirkan, nifas, dan ada juga istihadhah. Nifas itu perdarahan pasca melahirkan dengan durasi maksimal 60 hari. Sedangkan istihadhah itu kalau di kitab risalah disebut sebagai darah penyakit atau darah yang tidak normal. Dengan kata lain, istihadhah ini anomali yang bisa dialami oleh perempuan di luar perdarahan wajar seperti haid dan nifas.

Istihadhah ini, secara fisik lebih melelahkan dibanding perdarahan yang lain. Selain karena sering disebabkan oleh stres, perlakuan terhadap anomali yang satu ini juga terbilang cukup rumit. Betapa tidak? Perempuan yang mengalami istihadhah tetap diwajibkan menjalankan ibadah sebagaimana mestinya seperti salat, puasa, dan lain-lain. Cara salatnya pun lain, karena harus membersihkan area kemaluan terlebih dahulu dan menyumbat darah yang keluar supaya tidak menetes ketika salat karena jika pakaian kita terkena tetesan darah(yang bersifat najis) maka salatnya akan dianggap gugur atau tidak sah. Sulit bukan?

Kompleksitas mengurus kenangan ibadah saat istihadhah tidak berhenti sampai di situ. Menjalankan ibadah puasa pun akan terasa sangat berbeda. Bukan hanya karena badan lebih lemas karena keluar banyak darah, tetapi juga karena tanggung jawab untuk tetap mengganti puasa di luar Ramadan. Iya, jadi selama Ramadan tetap puasa, tetapi juga dihitung sebagai hutang puasa layaknya orang menstruasi. Nah loh, gimana, tuh?

Hal tersebut terjadi karena peristiwa sumpel menyumpel saat salat seperti yang saya paparkan di atas. Jadi, selama istihadhah kan tetap wajib salat, tuh. Kalau mau salat kan harus melakukan ritual penyumpelan itu dan biasanya dilakukan dengan memasukkan kapas untuk mencegah tetesan darah. Sedangkan salah satu sebab batalnya puasa, kalau ada benda yang masuk ke dalam lubang-lubang tubuh kita (kecuali pori-pori). Jadinya yang begitu itu, puasa tapi batal puasanya.

Ilmu ini saya dapat dari Pesantren Lirboyo selama menjalankan ibadah puasa di sana. Saya mengalami istihadhah selama 14 hari yang berarti juga akan saya ganti di bulan berikutnya selama 14 hari + utang puasa akibat menstruasi. Total utang puasa saya tahun itu adalah 21 hari. Bayangkan, puasa Ramadan saya hanya terhitung 9 hari saja. Bagaimana rasanya? Mengenaskan.

Selama masa istihadhah tersebut, saya tetap ikut antre sahur dan berbuka seperti teman-teman yang puasa pada umumnya. Bedanya, saya memiliki kesadaran penuh bahwa puasa yang sedang saya jalankan adalah puasa yang tidak sah, atau batal. Ya, rasanya mirip-mirip orang sakit yang minum obat tetapi dengan kesadaran penuh bahwa ia tidak akan sembuh. Begitulah kira-kira.

Belum lagi jika waktu salat tiba, sudah hampir dipastikan saya tidak akan kebagian salat jamaah bareng Bu Nyai. Pasalnya, saya tidak berani antre kamar mandi sebelum orang-orang lain yang biasanya hanya pipis dan wudhu. Maklum, untuk ritual sumpal menyumpal itu, saya butuh waktu sekitar dua puluh menit. Kasihan kan yang ngantre setelah saya? Jadilah saya mengalah demi kemaslahatan umat. Hehehe. Padahal, biar nggak digedor-gedor sama mbak-mbak senior penguasa kompleks aja.

Meski demikian, tidak semua ulama ahli fikih sepakat dengan hal ini. Ada yang berpendapat bahwa perempuan istihadhah tidak wajib berpuasa. Ada pula yang berpendapat wajib berpuasa tanpa harus mengganti karena ritual sumpel menyumpel itu tidak diperlukan. Perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu memang wajar, karena jalan ijtihad yang ditempuh juga berbeda-beda tetapi masih dalam satu keinginan yang sama yaitu mendapatkan rida dari Sang Khaliq. Jadi kita sebagai awam tidak perlu saling merasa benar. Cukup yakini dan ikuti, dilanjutkan dengan terus belajar dan mendalami ilmunya.

Jadi, pesan saya kepada kawan-kawan sekalian, nggak usah istihadhah, ya. Gimana caranya? Hindari stres dan beban pikiran. Kalau ada masalah, segera diurai dan jangan ditumpuk. Pasalnya kalau stres dan berujung mendapatkan istihadhah saat menjalankan ibadah puasa, itu akan sangat merepotkan. Jika bukan karena tata cara ibadah yang berbeda, minimal karena beban berlipat saat berpuasa karena badan jadi lemas akibat mengeluarkan darah dalam jumlah banyak.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Rekomendasi Sirup untuk Melengkapi Manisnya Berbuka Puasa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.