Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
16 Mei 2026
A A
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama

Share on FacebookShare on Twitter

Terus terang saja, dulu saya termasuk orang yang agak sinis ketika mendengar ada pengajian berbayar. Dalam kepala saya pada waktu itu, kok bisa-bisanya pengajian tiketnya. Bahkan dulu ketika masih pacaran dengan istri saya, saya terbahak-bahak ketika ia menawari saya ikut pengajian Hanan Attaki.

Bukan saya tidak suka ustadnya, cuma bagi orang desa yang hampir selalu ada pengajian gratis, saya tidak menerima konsep pengajian berbayar. Bahkan saya pernah nyeletuk, “Kalau harus bayar, mending nonton konser sekalian.”

ADVERTISEMENT

Iya, waktu itu saya benar-benar tidak paham kenapa konsep pengajian berbayar bisa laris. Kok ada saja orang yang mau datang, bahkan rela membeli tiket lebih dulu.

Namun, setelah berkali-kali mengikuti pelatihan, saya merasa yang berbayar memang lebih layak diikuti. Pun ketika akhirnya kembali mendengarkan pengajian gratisan di desa, saya merasa seperti mendengar angin lalu. Tidak ada struktur pembahasan yang jelas. Terasa ngambang.

Ini bukan cuma kesimpulan saya, beberapa yang ikut mendengarkan juga merasa demikian. Dari sana, saya kepikiran, jangan-jangan konsep pengajian berbayar memang paling layak diikuti.

Pembicara lebih fokus dan tidak ngomong ke mana-mana

Iya, dalam banyak pengajian gratis yang pernah saya ikuti, ceramah sering kali berjalan sangat bebas. Kadang pembicara memulai dari satu tema, lalu tiba-tiba melompat ke cerita lain, kemudian berbelok lagi ke topik berbeda.

Tidak selalu buruk memang. Kadang justru menghibur. Tapi sering juga membuat jamaah pulang dengan perasaan agak kosong. Ketika pulang dan ditanya, “Tadi bahas apa?” jawabannya tidak tahu. Tidak paham. Rasanya seperti habis mendengar banyak cerita, tapi inti pembahasannya sulit dirangkum.

Sebaliknya, dalam pengajian yang lebih terkonsep—yang biasanya memang berbayar—materinya terasa lebih rapi. Pembicara datang dengan persiapan. Ada alur pembahasan yang jelas. Kadang bahkan menggunakan slide presentasi atau materi visual.

Baca Juga:

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama

Acara Pengajian dan Dangdutan di Waktu yang Sama Adalah Cara Wali Kota Tegal Mencintai Warganya

Alhasil, pembahasannya lebih fokus. Tidak terlalu melebar ke mana-mana. Jamaah juga lebih mudah mengikuti dan bisa mengambil kesimpulan.

BACA JUGA: Fenomena Hijrah Fest dan Mewahnya Pengajian Bocah Remaja Masa Kini

Jamaah pengajian berbayar datang dengan niat

Hal lain yang saya perhatikan adalah sikap para peserta. Karena harus membeli tiket atau membayar biaya tertentu, orang yang datang biasanya memang berniat mengikuti pengajian dengan serius. Mereka tidak sekadar coba-coba.

Ini membuat suasana jadi berbeda. Orang-orang datang untuk mendengarkan, bukan sekadar hadir. Mereka memperhatikan pembicara, mencatat poin penting, atau benar-benar mencoba memahami isi ceramah.

Dalam kajian psikologis, ketika kita sudah mengeluarkan uang untuk sesuatu, kita cenderung lebih menghargainya. Hal ini juga berlaku dalam pengajian.

Aturan acara dalam pengajian berbayar lebih jelas

Karena diselenggarakan secara lebih profesional, biasanya ada aturan yang jelas selama acara berlangsung. Misalnya larangan merokok di area pengajian, aturan menjaga ketertiban, atau pembagian tempat duduk yang lebih rapi.

Hal-hal kecil seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada kenyamanan. Tidak ada gangguan asap rokok, tidak ada orang yang keluar masuk sembarangan, dan suasana terasa lebih kondusif untuk mendengarkan.

Bagi orang yang ingin benar-benar fokus mengikuti kajian, kondisi seperti ini tentu jauh lebih membantu.

Tempatnya lebih nyaman

Ini mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya cukup penting. Pengajian yang berbayar biasanya diselenggarakan di tempat yang nyaman, seperti aula hotel, gedung pertemuan, atau ruang acara yang tertata dengan baik.

Kursinya nyaman. Sistem suaranya jelas. Kalau hujan, tidak perlu khawatir atapnya bocor.

Bandingkan dengan beberapa pengajian umum yang kadang digelar di tempat seadanya. Tidak jarang jamaah harus duduk berdesakan, kepanasan, atau bahkan kehujanan jika cuaca berubah. Dalam kondisi seperti itu, sulit rasanya benar-benar fokus mendengarkan materi.

Dengan beberapa pertimbangan di atas, saya sampai pada kesimpulan bahwa membayar tidak selalu berarti komersialisasi agama. Dalam konteks tertentu, biaya justru membuat sebuah acara menjadi lebih terkelola.

Pembicara lebih siap. Materi lebih terstruktur. Tempat lebih nyaman. Pesertanya pun datang dengan niat yang jelas. Dan yang paling terasa, karena kita sudah membayar, kita juga merasa “sayang” kalau tidak benar-benar memperhatikan. Artinya ekosistemnya jadi lebih fokus untuk mendengarkan.

Jadi kalau sekarang ada orang bertanya pendapat saya tentang pengajian berbayar, jawabannya sudah berubah. Saya tidak lagi terlalu sinis seperti dulu. Bukan berarti semua pengajian harus berbayar. Pengajian gratis tetap penting dan punya tempatnya sendiri.

Tapi sekarang saya paham, dalam kondisi tertentu, konsep pengajian berbayar memang masuk akal. Bahkan kadang justru membuat kita pulang dengan pemahaman yang lebih jelas daripada gratisan tapi pulang dengan keadaan bingung dan mempertanyakan tadi pengajiannya membahas apa, ya?

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Mei 2026 oleh

Tags: hanan attakipengajianpengajian berbayar
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Model Dakwah Ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah terminal mojok.co

Kultum Pemuda Tersesat: Akhirnya Ada Wadah untuk Pertanyaan Liar Seputar Agama

1 September 2020
5 Tipe Ibu-ibu Pengajian yang Sering Ditemui Saat Ngaji Mingguan terminal mojok.co

5 Tipe Ibu-ibu Pengajian yang Sering Ditemui Saat Ngaji Mingguan

15 Desember 2020
Sama-sama Direvitalisasi, Berikut Ini 4 Hal yang Ada di Alun-alun Tegal tapi Tidak Ditemui di Alun-alun Utara Jogja

Acara Pengajian dan Dangdutan di Waktu yang Sama Adalah Cara Wali Kota Tegal Mencintai Warganya

23 Desember 2022
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama

6 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul daripada Stasiun Solo Balapan di Mata Saya Mojok.co

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul Dibanding Stasiun Solo Balapan di Mata Saya

22 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

23 Juni 2026
Pengelola Kafe Seharusnya Lebih Tegas pada Pengunjung Nggak Peka, Mereka Tak Hanya Mengganggu Pembeli lain, tapi Juga Mengancam Kelangsungan Bisnis Mojok.co

Pengelola Kafe Seharusnya Lebih Tegas pada Pengunjung Nggak Peka, Mereka Tak Hanya Mengganggu Pembeli Lain, tapi Juga Mengancam Kelangsungan Bisnis

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.