Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bukber Berkedok Reuni Itu Seperti “Scam”: Adu Outfit, Adu Gaji, Adu Kerjaan, Ujung-ujungnya Adu Nasib

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
1 Maret 2026
A A
Bukber Berkedok Reuni Itu Scam- Arena Bunuh Teman (Unsplash)

Bukber Berkedok Reuni Itu Scam- Arena Bunuh Teman (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ramadan selalu punya satu agenda sosial yang hampir tak terhindarkan, yaitu bukber. Dari grup keluarga, teman kuliah, rekan kerja, sampai alumni sekolah, semuanya berlomba-lomba membuat jadwal. Awalnya terdengar hangat. Tapi semakin dewasa, semakin terasa ada yang berbeda. Khusunya yang pakai tajuk “reuni” karena hanya menjadi ajang “membunuh teman”.

Bukber yang dulu sederhana cukup pesan es teh manis dan gorengan sekarang berubah menjadi ajang yang rasanya lebih mirip kompetisi tak resmi. Kadang saya merasa, bukber berkedok reuni itu seperti “scam” sosial yang dibungkus dengan kata silaturahmi.

Bukan karena acaranya buruk. Bukan juga karena orang-orangnya jahat. Tapi karena ada atmosfer tak kasatmata bernama adu outfit, gaji, pekerjaan, status, dan pada akhirnya… nasib.

Bukber berkedok reuni cuma menjadi ajang adu outfit

Sebelum hari-H bukber sekaligus reuni, obrolan di grup sudah ramai. 

“Tempatnya estetik ya.” 

“Outfit-nya semi formal aja.” 

“Biar sekalian foto-foto.”

Lalu, datanglah hari itu. Semua tampil versi terbaiknya. Makeup flawless, tas branded (atau setidaknya terlihat branded), sepatu baru, parfum mahal. Tak ada yang salah dengan tampil rapi dan percaya diri. Tapi kadang yang terasa bukan lagi sekadar berdandan, melainkan unjuk pencapaian.

Baca Juga:

Bukber Itu Cuma Akal-akalan Kapitalisme, Kalian Cuma Dibodohi, dan Anehnya, Kalian Nurut!

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

Yang dulu sederhana, kini datang dengan gaya metropolitan. Ada yang dulu cuek, sekarang tampil seperti selebgram. Saling memuji ketika bukber, tapi di balik senyum ada tatapan yang seperti sedang mengukur.

“Oh, sekarang kamu makin stylish ya.”

“Kurus banget sekarang, diet ya?”

Kalimatnya terdengar manis, tapi terasa seperti penilaian terselubung. Bukber berkedok reuni berubah menjadi panggung kecil untuk menunjukkan siapa yang paling “berhasil” glow up sejak terakhir kali bertemu.

Adu gaji

Setelah makanan datang dan suasana mulai hangat, topik yang tak pernah gagal muncul adalah pekerjaan.

“Sekarang kerja di mana?”

“Udah berapa lama di situ?”

“Gajinya lumayan dong pasti?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Tapi ketika mendengarnya dengan nada tertentu, saya malah merasa lagi wawancara kerja, bukan bukber. Apalagi kalau ada yang dengan bangga menyebut angka, fasilitas kantor, atau bonus tahunan.

Yang bekerja di perusahaan besar otomatis menjadi pusat perhatian. Tapi bagaimana dengan yang masih kontrak, belum punya kerja, dan yang sedang bertahan di pekerjaan yang tak sesuai passion?

Kami hanya bisa tersenyum, mengalihkan pembicaraan, atau menjawab sekenanya. Di tengah riuh tawa bukber, ada perasaan kecil yang pelan-pelan menggerogoti: apakah nilai diri sekarang ditentukan oleh nominal slip gaji?

Bukber yang katanya untuk mempererat hubungan, malah membuat sebagian orang pulang dengan perasaan tak cukup.

Adu kerjaan: Siapa paling bergengsi jadi pusat perhatian di kala bukber berkedok reuni

Tak berhenti di soal gaji, obrolan biasanya naik level ke jabatan dan pencapaian.

“Alhamdulillah, baru naik posisi.”

Lagi-lagi, tak ada yang salah dengan berbagi kabar baik ketika reuni. Justru kita seharusnya ikut senang. Tapi suasana bukber malah berubah jadi kompetitif. Tanpa sadar, orang-orang mulai membandingkan jalur hidup.

Teman yang berani menikah duluan merasa lebih “mapan”. Mereka yang sudah punya rumah, merasa lebih “stabil”. Lalu, yang sudah bawa anak ketika bukber, merasa lebih “dewasa”.

Sementara yang belum menikah? Ditanya kapan punya momongan. Belum punya rumah? Bisa nabung nggak sih. Karier mentok segitu doang? Hidupmu tuh ngapain aja? Seolah-olah hidup punya timeline seragam yang wajib dipatuhi. Bukber menjadi ruang evaluasi tak resmi: siapa yang sudah sampai mana.

Ujung-ujungnya, bukber berkedok reuni jadi ajang adu nasib

Semua kembali pada satu hal: nasib. Padahal kita tak pernah benar-benar tahu isi perjuangan masing-masing.

Ada yang kelihatan glamor, ternyata menderita karena banyak cicilan. Teman datang bukber kelihatan bahagia, ternyata pernikahannya di ujung tanduk. Jangan lupa, yang kelihatan santai, nyatanya menyimpan kecemasan tentang masa depan.

Tapi, di meja bukber, yang terlihat hanya permukaan. Dan permukaan itulah yang dibandingkan.

Ironisnya, setelah acara selesai dan foto-foto diunggah ke media sosial, semua tampak harmonis. Caption-nya penuh kata “silaturahmi”, “kebersamaan”, dan “masyaAllah reuninya seru banget”.

Bukber tetap bisa menjadi momen yang tulus, jika niatnya memang untuk menyambung hubungan, bukan membandingkan pencapaian. Masalahnya bukan pada acaranya, tapi pada mindset yang kita bawa.

Kalau datang hanya untuk validasi, maka yang kita cari adalah pengakuan. Bukber hanya untuk, kamu hanya akan menemukan kecemasan. Tapi, kalau datang untuk benar-benar mendengar kabar dan berbagi cerita, suasananya akan berbeda. 

Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, melainkan cara kita memaknainya. Bukber kini hanya sebatas scam karena kita menjadikannya ajang kompetisi.

Penulis: Intan Permata Putri

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2026 oleh

Tags: Batal PuasaBuka BersamaBukberbukber ramadanbukber reunimenu bukberPuasaPuasa Ramadan
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Kalau di Kota Ada Kirim Parsel, di Desa Ada Ater-ater Tipe-tipe Orang saat Menunggu Lebaran Datang Terima kasih kepada Tim Pencari Hilal! Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Bulan Syawal Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Lebaran Buku Turutan Legendaris dan Variasi Buku Belajar Huruf Hijaiyah dari Masa ke Masa Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah Pandemi dan Ikhtiar Zakat Menuju Manusia Saleh Sosial Inovasi Produk Mushaf Alquran, Mana yang Jadi Pilihanmu? Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita Nggak Takut Hantu, Cuma Pas Bulan Ramadan Doang? Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road Menuai Hikmah Nyanyian Pujian di Masjid Kampung Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan Menjadi Bucin Syar'i dengan Syair Kasidah Burdah Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Pandemi Corona Datang, Ngaji Daring Jadi Andalan Tips Buka Bersama Anti Kejang karena Kantong Kering Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Rebutan Nonton Acara Sahur yang Seru-seruan vs Tausiyah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Aduh, Lemah Amat Terlalu Ngeribetin Warung Makan yang Tetap Buka Saat Ramadan Tong Tek: Tradisi Bangunin Sahur yang Dirindukan Kolak: Santapan Legendaris Saat Ramadan

Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah

6 Mei 2020
macam-macam puasa sunnah dan wajib muslim islam mojok.co

Beberapa Tingkatan Kuantitas Puasa Seorang Muslim

22 Mei 2020
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

Bukber Itu Cuma Akal-akalan Kapitalisme, Kalian Cuma Dibodohi, dan Anehnya, Kalian Nurut!

4 Maret 2026
4 Alasan Saya Nggak Kangen Bukber Sama Sekali Tidak Ada Ajakan Buka Bersama Hari Ini bukber ramadan

4 Alasan Saya Nggak Kangen Bukber Sama Sekali

9 Mei 2020
Bukan Ibadah Salat Saya yang Kecepetan, tapi Salat Anda yang Kelamaan mojok.co/terminal

Tarawih Sepanjang Waktu, Puasa Sepanjang Usia

8 Mei 2020
3 Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Kota Bandung yang Bikin Puasa Kamu Nggak Berasa, Tahu-tahu Sudah Azan Magrib!

3 Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Kota Bandung yang Bikin Puasa Kamu Nggak Berasa, Tahu-tahu Sudah Azan Magrib

19 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

20 Mei 2026
Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

20 Mei 2026
Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.