Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni – Terminal Mojok

Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni

Artikel

Banyak yang merasa sedih dan berat akan beberapa musibah yang terjadi pada tahun 2020 ini. Tidak bisa dimungkiri, kalau dampak dari pandemi ini berujung membuat kita semua nelangsa. Dari anak sekolah yang harus belajar via daring, kelulusan tanpa ujian dan upacara perpisahan, menjemput sidang dengan bimbingan daring, menikah hanya di KUA nggak bisa resepsi, orang tua yang semakin susah mencari nafkah buat keluarga, hingga euforia Ramadan yang tidak seperti biasanya.

Terlebih menjadi momen yang sangat menyentuh kita adalah banyak keluarga yang kehilangan orang-orang tercintanya karena covid-19. Namun, kesedihan pada tahun 2020 sampai pertengahan tahun ini tidak hanya karena pandemi saja. Banyak tokoh di Indonesia pada tahun ini telah berpulang ke hadapan-Nya dengan tiba-tiba dan tanpa dinyana.

Beberapa tokoh ulama Indonesia baru-baru ini juga telah meninggalkan kita. Semakin berkurangnya ulama di dunia ini sebagai pembawa cahaya, menjadikan kesedihan semakin mendalam. Ada ungkapan, mautul alim mautul alam, meninggalnya orang alim (berilmu) adalah matinya alam raya. Ungkapan ini bermakna ketika orang alim semakin sedikit, maka ajaran-ajaran agama juga semakin sedikit pula disyiarkan di alam raya ini.

Panggung hiburan, juga baru saja ditimpa kehilangan beberapa sosok yang sangat mengispirasi para penggemarnya. Di antaranya, almarhum Glenn Fredly dan Didi Kempot, yang tiba-tiba saja meninggalkan kita semua. Di saat Indonesia sedang ambyar-ambyarnya, sambil menikmati lagu-lagu cidro dari sang maestro campur sari, kabar duka datang begitu saja.

“Kullu nafsin dzaaiqotul maut,” setiap jiwa pasti akan mengalami kematian. Kita tidak tahu seberapa panjang umur setiap manusia. Semua tetap menjadi rahasia Tuhan. Kematian yang datang tiba-tiba ini menjadi pengingat bahwa kita semua pasti akan menemui ajal. Selalu dan terus berusaha menjadi orang baik adalah sebaik-baiknya bekal kita untuk menghadap-Nya.

Beberapa waktu lalu, saya menonton Catatan Najwa episode cerita pahlawan kesehatan. Dikisahkan seorang suami menjadi perawat yang bertugas di bagian penanganan pasien covid-19, yang dikabarkan istrinya meninggal dunia. Setelah berbulan-bulan bertugas, sekalinya pulang ke rumah, kehilangan sang istri tercinta.

Wajar, jika merasa kehilangan dengan orang yang sudah berpengaruh dan begitu dekat dengan kita. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya memang sangat berat untuk menerima kenyataan yang ada.

Media sosial yang akrab menjadi ruang sambat warganet, beberapa waktu lalu terlihat banyak cuitan di media sosial bertajuk “Dear 2020” yang berisi ungkapan kesedihan dan kekecewaannya pada tahun dengan angka yang cantik ini. Namun, keadaan yang terjadi tidak secantik angka 2-0-2-0.

Kesedihan baru-baru ini banyak diungkapkan, atas perginya tokoh-tokoh yang dekat di hati para pengagumnya.

Apakah tahun 2020 ini benar menjadi tahun kesedihan bagi kita?

Mari kita menengok kembali kisah tahun kesedihan yang dialami oleh Rasulullah Saw. Pada tahun kesepuluh masa kenabian, Rasulullah mendapat musibah yang beruntun pada satu tahun sekaligus.

Tepat tanggal 10 Ramadan 619 M, Sayyidah Khadijah wafat. Sayyidah Khadijah, istri tercinta dan istri paling setia dari sebelum diangkat menjadi Rasul, hingga akhir hayatnya menemani Rasulullah. Dua puluh lima tahun hidup berdampingan, Sayyidah Khadijah tak pernah sedikit pun berpaling dari Rasulullah, selalu membersamainya dalam suka duka.

Tidak lama setelah sang istri tercinta wafat, selisih tiga bulan kemudian, Abu Thalib wafat. Paman Rasulullah yang setia mengasuh dan menjaga sejak masa kecil Rasulullah, menjadi figur yang menggantikan sosok ayah dalam hidup Rasulullah.

Bagaimana tidak sangat sedih, sampai tahun tersebut dalam sejarah disebut sebagai ‘amul huzni (tahun kesedihan). Ditinggal pasangan yang paling setia menemani Rasulullah pada masa-masa sulit berjuang dalam berdakwah. Ditinggal paman yang selalu membela Rasulullah, mencintai, mengasuh, menjaga Rasulullah yang sedari kecil sudah ditinggal kedua orang tua.

Tentu semua itu tidak mudah bagi Rasulullah, ditinggal kedua orang yang sangat dicintanya dalam waktu yang berdekatan. Tiada apa, jika tahun ini disebut-sebut sebagai tahun kesedihan, karena kehilangan orang-orang yang begitu dekat dengan kita. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saja mengalami kesedihan yang teramat dalam pada tahun tersebut.

Melihat kembali kisah Rasulullah setelah mengalami kesedihan yang bertubi-tubi pada tahun tersebut. Pasca itu, antara tahun 620-621 M, Rasulullah mendapat kabar gembira dari Allah Swt, dengan memberikan perjalanan yang sangat indah bagi Rasulullah, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj.

Kita semua harus meyakini, kalau Allah tidak akan menguji hamba sesuai kemampuan. Dan pasti akan mendatangkan kemudahan, usai kesulitan. Mendatangkan bahagia, usaha berduka. Peristiwa ‘amul huzni Rasulullah ini menjadi refleksi kita, semoga usai musibah-musibah yang terjadi di tahun 2020 ini, akan ada hikmah yang indah buat kita semua.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Sahur: Penyebab Kegalauan Hakiki Anak Kos di Bulan Ramadan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.