Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Lockdown Menyebalkan, Itu yang Saya Alami di Maroko

Hanif Hidayatullah oleh Hanif Hidayatullah
25 Maret 2020
A A
lockdown

Lockdown Menyebalkan, Itu yang Saya Alami di Maroko

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Pak Jokowi memberi kebijakan untuk physical distancing dan mengambil langkah untuk tes massal dalam menghadapi pandemi, banyak dari teman-teman saya yang menceritakan kekesalannya hanya karena merasa bosan, mendapat banyak tugas, atau tidak bisa nongkrong dengan teman-teman yang sejawat.

Tapi, di sisi lain, menurut saya seharusnya mereka bisa lebih bersyukur. Karena bisa menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah, atau menghemat lebih banyak waktu dan bensin daripada hari biasa, dan yang terpenting adalah masih bisa keluar untuk membeli sesuatu sekiranya butuh.

Sangat berbanding terbalik dengan dampak pandemi yang saya alami di Maroko, karena pertanggal 19 maret lalu, lockdown wilayah telah ditetapkan pemerintah Kerajaan Maroko dalam menyikapi pandemi. mulai dari tempat-tempat umum; kafe, rumah makan, bandara, gedung bioskop, dan beberapa ruang publik lainnya bertahap ditutup dalam skala nasional. Dan setiap rumah hanya ada satu orang yang boleh keluar untuk membeli sesuatu dengan ‘surat izin keluar’ yang diberi pemerintah daerah setempat.

Orang Indonesia harusnya bersyukur tidak lockdown karena daripada physical distancing, lockdown lebih menyebalkan khususnya buat mahasiswa asing yang tinggal di asrama kayak saya yang harus merasakan hal-hal seperti ini:

1. Tidak boleh keluar sama sekali

Karena saya tinggal di asrama kampus, saya merasa senang dengan adanya pemberhentian belajar mengajar ini, musabab saya akan menghabiskan waktu di apartemen sewaan dan berkumpul dengan teman-teman saya setanah air.

Tapi kelihatannya takdir belum menggariskan demikian, sebagai mahasiswa asing dan tinggal di asrama, saya dan teman-teman yang senasib berada di bawah naungan tanggung jawab kementrian wakaf dan urusan agama Maroko, yang artinya pilihan saya untuk balik ke apartemen sewaan atau untuk menetap di asrama tergantung kebijakan yang dikeluarkan kementrian.

Dan benar saja, kementrian mengeluarkan surat khusus bagi setiap mahasiswa asing yang tinggal di asrama untuk menetap dan tidak boleh keluar sama sekali! Bahkan jika ingin membeli jajan di warung pun, harus melalui satpam agar dia yang membelikan apa yang saya butuh. Lah, saya butuhnya ciki-cikian, emangnya saya tahu bahasa arabnya! Hadehhh.

2. rasialisme

Pengaruh virus corna yang saya rasakan nggak sebatas itu, stigma bahwa orang asia adalah orang China juga masih jamak terjadi di Maroko. Rasialisme lah bahasa kerennya.

Baca Juga:

Bahagianya Warga Kota Tegal Punya Walikota sang Inspirator Pembangunan

Rakyat Jogja Wajib Memaklumi Sultan yang Inkosisten Perihal Lockdown

Sehingga, jika dalam keadaan biasa, saya berjalan-jalan di tempat keramaian, sudah barang tentu akan dilirik sinis dan dihujami panggilan “china” dengan nada meledek seperti ini.

“Hei, China!” Kata salah satu dari sekumpulan orang Maroko.

“Bukan! Saya bukan orang China, saya Orang Indonesia”.

“Hei, China. Cilakalah kau!” Saut salah satu yang lain.

Kalau sudah begitu, saya berusaha langsung berjalan cepat, berusaha meninggalkan, dan tidak memedulikan. Daripada saya ngamuk, terus ngeluarin rasengan, kan bahaya kalau orang-orang mengenal saya sebagai lulusan akademi ninja.

Belakangan ini saya mengidentifikasi, dan akhirnya mengetahui, bahwa kebanyakan orang-orang yang rasialis berasal dari golongan anak-anak dan lansia. Alasannya? Mungkin karena mereka belum punya akses informasi—seperti internet—untuk tahu bahwa tidak hanya “mereka” dan satu ras dengan mereka yang hidup di bumi ini. Dan saya jarang melihat orang Maroko yang rasis berasal dari kaum intelek dan remaja.

Beda halnya dengan keadaan biasa, keadaan darurat seperti pandemi ini, golongan tadi, malah berinisiatif—tapi unfaedah—merubah ‘panggilan china’ menjadi ‘corona’ ditambah embel-embel gerak tangan menutup hidung dan mulut ketika saya memulai dialog dengan “mereka”.

Dan yang lebih bikin saya ngelus dada adalah ketika sopir taksi menolak kami (orang asia) saat akan masuk, ini dialami beberapa teman saya saat akan berpergian, dan hal ini terjadi di beberapa kota di Maroko.

3. Makanan yang tidak sedap

Sudah hidup di asrama, tidak boleh keluar pula. Mungkin, ini kemungkinan terburuk yang saya alami selama masa isolasi.

Tapi oh tapi, ternyata ada yang lebih buruk, yaitu makanan di asrama. Makanan ini sukses membuat saya dan teman-teman eneg, dan tidak kenyang.

Karena menu makanan yang monoton, dan tidak diganti selama 3 hari! Saya tahu karena makanan hari pertama dan ketiga itu sama, dan hanya dipanaskan ulang.

Makanan yang saya maksud kurang enak adalah makanan seperti roti gandum dimakan dengan minyak zaitun, daging yang rasanya hambar karena tidak pandai mengolah dan dipanaskan berulang-ulang, dan makan nasi pun bisa dihitung jari dalam seminggu. Padahal orang Indonesia itu kalau belum makan nasi, bukan makan namanya.

Tiga poin inilah, yang membuat saya dan teman-teman saya di asrama merasa tertekan secara mental, dan tidak bisa melakukan apa-apa, walaupun kami sudah protes dan meminta ke pihak asrama. Tapi, ya mau bagaimana, ini sudah kebijakan kementrian.

Dan satu-satunya jalan untuk merubah keadaan, adalah dengan mengirimkan surat melalui kedutaan Indonesia ke kementrian wakaf dan urusan agama Maroko, sehingga mereka bisa merubah kebijakan, dan saya diperbolehkan kembali ke apartemen sewa.

Nah loh. Bisa dilihat sendirikan? Lockdown di sini lebih menyebalkan daripada physical distancing di Indonesia.

BACA JUGA Orang Desa Nggak Takut Corona Bukan Karena Agama atau tulisan Hanif Hidayatullah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2020 oleh

Tags: lockdownpandemi coronapengalaman lockdownsocial distancingvirus corona
Hanif Hidayatullah

Hanif Hidayatullah

Spesies bedhes sapiens yang mlipir di Maroko

ArtikelTerkait

isolasi wilayah karantina wilayah tegal local lockdown laporan pandangan mata proses situasi mojok.co, wali kota tegal

Bukti Wali Kota Tegal Adalah Superhero bagi Warganya

17 Mei 2020
Saya Curiga Pakde Jokowi Hidup di Universe yang Lain terminal mojok.co

Bundesliga, Rasa Iri, dan Alasan Saya Mengkritik Jokowi

17 Mei 2020
Cerita Prihatin yang Mungkin Dipahami Pedagang Pinggir Jalan Ketika Hujan terminal mojok.co

Surat untuk Mas Pur, Tukang Ojek yang Tetap Bekerja di Tengah Pandemi Corona

31 Maret 2020
Dampak Ekonomi Corona

Dampak Ekonomi Pandemi Corona yang Bisa Bikin Perekonomian Negara Hancur Lebur

15 Maret 2020
tattoo artist

Sambatan Mas Pacar yang Seorang Tattoo Artist di Tengah Pandemi

17 April 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa?

15 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia (Unsplash)

3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia

25 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.