Kehidupan Saya di Jerman Selama Ada Virus Corona – Terminal Mojok

Kehidupan Saya di Jerman Selama Ada Virus Corona

Artikel

Siapa sih yang tidak was was dengan kondisi dunia saat ini? Apalagi bagi yang tinggal di negara dengan kasus Covid yang sangat banyak. Saya sekarang tinggal di Jerman sebagai Au Pair, Jerman sendiri jadi negara yang menduduki kasus terbesar kelima di dunia setelah Amerika, Spanyol, Italia dan Perancis.

Sudah hampir satu bulan sejak kebijakan social distancing dan pembatasan aktivitas di luar rumah oleh Pemerintah Jerman, kasus Covid-19 sudah menyentuh angka 12.975 per tanggal 12 April 2020. Kasus Covid-19 teridentifikasi pertama kali di Jerman tanggal 27 Januari lalu pada seorang pria di kota Stanberg, 30 kilometer barat daya Munich, Bavaria.

Seperti yang kita ketahui, virus ini bermula Wuhan, salah satu kota di China. Kasus Covid 19 kemudian semakin meningkat di awal maret dan terus bertambah hingga hari ini. Saya tinggal di Coburg, kota kecil di negara bagian Bavaria yang memiliki kasus paling banyak di Jerman yaitu sebanyak 32.782 kasus per 12 April 2020.

Di Jerman sendiri, peningkatan kasus Covid-19 mulai signifikan terjadi di minggu kedua bulan maret. Langkah yang diambil pemerintah untuk mencegah tersebarnya virus ini dengan menutup semua sekolah, taman bermain, toko-toko (selain supermarket dan apotek), restaurant, serta kantor publik selama 5 minggu terhitung sejak tanggal 16 maret 2020.

Hal ini tentu saja berimbas kepada banyak orang, termasuk orang-orang Indonesia yang masa izin tinggalnya sudah hampir habis. Contohnya, salah satu teman saya yang tinggal di Munich. Dia sudah membeli tiket pulang ke Indonesia untuk akhir maret beberapa bulan sebelum keberangkatan. Namun akibat situasi seperti saat ini, maskapai penerbangan membatalkannya hingga kondisi membaik. Sehingga pihak imigrasi memperpanjang izin tinggalnya hingga 2 bulan kedepan.

Baca Juga:  Keresahan Radiografer yang Suka Dikatain Mandul dan Profesinya Nggak Ada di KBBI

Sedikit cerita, setelah pengumuman penutupan ruang publik yang sudah saya sebutkan di atas, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan untuk tidak keluar rumah sama sekali. Tanggal 19 Maret, saya mencoba keluar rumah untuk melihat bagaimana kondisi kota dan pergi ke supermarket. Saya selalu berpergian naik bus. Bus disini sama seperti busway di Jakarta yang memiliki 2 pintu. Hanya saja disini, pintu depan digunakan sebagai tempat masuk dan pintu belakang untuk keluar. Namun saat itu saya harus masuk dan keluar lewat pintu belakang. Interaksi dengan pengemudi sudah ditiadakan, bahkan penumpang sudah tidak bisa membeli tiket langsung kepada pengemudi. Hal ini dilakukan untuk melindungi pengemudi dari kemungkinan terpapar virus.

Setibanya di supermarket, stok barang yang terlihat nyaris kosong adalah makanan beku dan tissue toilet. Orang-orang membeli barang yang bisa disimpan dan ditimbun untuk jangka waktu yang lama. Orang Indonesia yang disini sih tidak masalah kehabisan tissue karena kita menggunakan air untuk keperluan buang hajat. Hehehehe.

Di beberapa sudut supermarket terpajang himbauan untuk tetap berjarak satu sama lain minimal 1,5 m. Setelah mendapat barang yang saya butuhkan, saya langsung menuju kasir. Tempat antrian dikasir, sudah diberi tanda yang berjarak 1, 5 meter dan tidak menerima pembayaran secara tunai. Hal ini dikarenakan uang kertas adalah salah satu media penyebaran virus yang paling luas. Pembayaran hanya bisa dilakukan menggunakan kartu debit atau kartu kredit. Saya langsung memutuskan untuk pulang ke rumah setelah dari Supermarket.

Baca Juga:  Google Street View: Solusi Masyarakat untuk Jalan-jalan di Tengah Pandemi

Di hari yang sama, di malam hari, pemerintah mengumumkan karantina wilayah secara luas. Tidak ada yang bisa masuk dan keluar kota. Bus dan kereta antar kota sudah berhenti beroperasi per tanggal 19 Maret 2020 tengah malam. Saya langsung sedikit panik karena saya memiliki jadwal wawancara di Munich dan saya sudah terlanjur membeli tiket. Keesokan harinya saya langsung menghubungi träger yang memanggil saya wawancara dan meminta penundaan hingga kondisi membaik.

Selain karantina wilayah, pemerintah resmi membatasi segala aktivitas di luar rumah. Saya adalah tipe ‘anak rumahan’ yang jarang keluar apalagi sangat jarang kumpul-kumpul dengan banyak orang sehingga kebijakan social distancing tidak begitu memberatkan. Tapi meskipun begitu, saya juga butuh keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara segar. Beruntung pemerintah masih mengizinkan keluar rumah selama tidak berkelompok lebih dari 2 orang kecuali keluarga dan tetap memberi jarak dengan orang lain.

Saat keluar rumah juga wajib membawa identitas diri baik paspor atau aufenhaltstitel. Bagi siapa saja yang melanggar, harus siap menerima konsekuensinya yaitu di denda hingga maksimal 25.000 euro atau dipenjara. Ada seorang lelaki yang tinggal di Bamberg dipenjara akibat membuat party dirumahnya.

Alhamdulillah, hampir satu bulan tidak beraktivitas seperti sebelumnya masih membuat saya waras. Bagi saya sendiri, dampak yang paling memberatkan sebenarnya bukan tidak bisa keluar rumah tapi akan berpengaruh pada rencana saya setelah program Au Pair berakhir.

Visa saya berakhir di minggu pertama bulan Agustus dan rencananya saya ingin mengikuti program Freiwilliges Soziales Jahr (FSJ). Kelihatannya memang masih lumayan lama dan saya masih punya waktu 3 bulan sebelum visa saya berakhir. Tapi saya butuh waktu mencari tempat yang cocok dan wawancara untuk melakukan program FSJ. Sedangkan saat ini hampir semua lembaga tutup hingga waktu yang belum pasti. Sebenarnya saya sudah memiliki jadwal untuk wawancara dan magang di salah satu sekolah sejak bulan lalu. Namun akibat kondisi yang tidak memungkinan, semuanya diundur hingga waktu yang belum pasti.

Baca Juga:  Hanoman yang Terpaksa Alih Profesi Jadi Kurir

Hampir setiap hari saya mengecek perkembangan kasus ini dan menurut saya sudah mulai bisa dikendalikan. Jumlah kasus memang masih bertambah setiap hari, namun pola pertambahan kasusnya sudah mulai menurun. Saya tahu, tidak ada negara yang siap dengan kondisi ini. Sekalipun itu negara maju.

5 negara dengan kasus Covid-19 terbanyak, semuanya adalah negara maju yang memiliki fasilitas kesehatan baik. Hanya saja, perilaku masyarakatnya sangat mempengaruhi penyebaran virus ini. Di Italia misalnya, jumlah faslitas kesehatan tidak bisa menampung semua pasien sehingga dokter harus memilih siapa yang akan diselamatkan. Sehingga kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan, kebersihan serta menerapkan social distancing menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Saya berharap seluruh dunia segera bisa mengatasi dan pulih seperti sedia kala.

BACA JUGA Lockdown Menyebalkan, Itu yang Saya Alami di Maroko atau tulisan Dina Noviana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.