Belajar Menjadi Manusia Merdeka dari Ki Ageng Suryomentaram – Terminal Mojok

Belajar Menjadi Manusia Merdeka dari Ki Ageng Suryomentaram

Artikel

Setiap meluangkan waktu nongkrong di kedai kopi, saya selalu mendengar pembicaraan seru tentang filsafat. Dan lumrah jika saya selalu mendengar nama Nietzsche, Descartes, Socrates, dan Plato dalam pembicaraan tadi. Para filsuf tersebut memang terdengar seksi ketika dibicarakan. Terkesan ndakik-ndakik dan ubermensch. Namun, membicarakan nama tersebut terasa kurang jika tidak dibandingkan salah satu filsuf lokal bernama Ki Ageng Suryomentaram.

Mendengar nama blio, mungkin yang terbayangkan adalah seorang sakti dengan tampilan pertapa yang sederhana. Masalah tampilan memang benar, blio memiliki outfit khas berupa kaus polos berkalung sarung. Namun Ki Ageng Suryomentaram bukanlah ahli klenik. Bahkan ilmu yang dikemukakan blio jauh dari kata mistik.

Ki Ageng Suryomentaram (Sebelumnya BPH Suryomentaram, 1892-1962) adalah anak ke-55 dari 79 putra putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, raja Jogja. Sebagai seorang pangeran, blio tidak mendapat kepuasan. Suryomentaram habiskan masa mudanya dengan mempelajari sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Namun, blio tetap tidak mendapat kepuasan. Bahkan blio harus menghadapi kejadian pahit berulang kali. Puncaknya adalah permohonan blio untuk mundur dari posisi pangeran serta naik haji. Kedua permohonan itu tidak dikabulkan. Akhirnya Suryomentaram memilih minggat.

Suryomentaram kabur ke Cilacap menjadi pedagang batik. Namun kaburnya blio membuat Sultan tidak berkenan. Sultan memerintahkan pencarian dan menjemput Suryomentaram untuk pulang ke Kraton. Perburuan membuahkan hasil, blio ditemukan di daerah Kroya saat sedang menggali sumur. Terpaksalah Suryomentaram pulang ke Kraton.

Namun kepulangannya tidak memberi kepuasan. Bahkan blio melelang seluruh harta bendanya karena berpikir harta adalah sumber kekecewaan. Blio habiskan waktu dengan keluyuran ke tempat sakral untuk tirakat. Konon, saat Sultan HB VII wafat, blio melayat dengan penampilan seperti gelandangan. Pada fase ini, Suryomentaram dipandang sebagai pangeran edan atau gila.

Baca Juga:  Wawancara dengan Asisten Bidan tentang Pengalaman Mereka Melayani Pasien

Sepeninggal Sultan HB VII, Suryomentaram tetap mengajukan permohonan berhenti sebagai pangeran. Akhirnya Kraton mengabulkan dan menggaji £ 75 per bulan sebagai bentuk penghargaan anggota keluarga. Blio membeli tanah di Bringin, Salatiga dan menjadi petani. Sejak itu, blio dikenal dengan nama Ki Ageng Suryomentaram. Kebebasan ini digunakan blio untuk mengkaji alam kejiwaan serta falsafah hidup. Selama 40 tahun blio mengkaji dengan menggunakan diri sendiri sebagai media eksperimen.

Dari kisah Ki Ageng Suryomentaram, kita dapat melihat pergolakan seorang manusia untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan. Blio berjuang membebaskan diri dari segala kekecewaan dan depresi. Kristalisasi pemikiran Suryomentaram dikenal sebagai Kawruh Jiwo atau Ilmu Jiwa. Beberapa sumber menyebut sebagai Kawruh Begja atau ilmu kebahagiaan/keberuntungan. Anda dapat mendalami ilmu ini banyak buku atau tesis sampai disertasi. Namun saya utarakan sedikit ringkasan hasil belajar perkara ajaran blio yang terkesan mudah namun aslinya njelimet ini. Terutama pada bagian yang membantu kita lepas dari depresi.

Ilmu ini bukanlah ilmu klenik. Kawruh Begja tidak menuntut sesaji atau kemenyan. Kawruh Begja menganalisis fenomena jiwa dan inti pribadi manusia. Suryomentaram mengamati bagaimana seorang manusia bisa bahagia, sedih, lalu bahagia lagi. Kajian blio bermuara pada kenyataan bahwa bahagia bukan datang dari “benda”. Namun seluruh rasa berasal dari diri sendiri. Berasal dari pikiran pribadi.

Baca Juga:  Prejengan Mahasiswa Filsafat yang Pasti Ada dalam Ketiadaan di Kampusnya

“Di kolong langit ini anakku, tak ada sesuatupun yang pantas diratapi atau ditakuti.” Pemikiran Suryomentaram tersebut yang membebaskan blio dari kekecewaan berpuluh-puluh tahun. Blio menemukan kenyataan bahwa bahagia dan sedih datang silih berganti. Tidak ada manusia yang bahagia atau sedih seumur hidup. “Beribu-ribu keinginan manusia telah gagal digapai, namun manusia tidak lantas sengsara seumur hidup.” Demikian pula sebaliknya. Tapi, manusia bisa membebaskan diri dari kesedihan dengan merasa begja atau beruntung.

Perasaan beruntung tersebut dapat memisahkan manusia dari ‘diri’. Diri yang dimaksud adalah segala ‘catatan’ identitas, dari jabatan hingga harta. Keberhasilan lepas dari ‘diri’ ini membawa manusia pada kondisi manusia tanpa ciri. Manusia tanpa ciri inilah yang tenteram, santuy, dan bahagia. Dia tidak lagi terjebak catatan-catatan yang membuat diri kalap dan galau.

Cara pikir begja ini dapat membebaskan manusia dari depresi. Perasaan celaka dan sedih yang mendalam tidak lebih dari olah pikir personal. Dengan merasa beruntung serta membebaskan diri dari ‘catatan’, manusia tidak perlu menyibukkan diri pada sumber kesedihan. Misalnya Anda sakit hati karena putus cinta, Anda harus bersyukur hanya putus cinta. Setidaknya cinta yang putus lebih baik daripada kepala yang putus. Inilah contoh ekstrim pemaknaan kawruh begja.

Jika Anda lebih mendalami Kawruh Begja, Anda akan menemukan banyak kemiripan pemikiran Suryomentaram dengan konsep psikoterapi. Namun, Kawruh Begja tidak mengajak manusia untuk meredam dan beradaptasi dengan ‘catatan’ yang menjadi sumber trauma. Suryomentaram mengajak kita untuk mematikan segala catatan dan rekaman buruk ini untuk mencapai kebahagiaan.

Baca Juga:  Memperbesar Peluang Masuk Surga dengan Menganut Lebih dari Satu Agama

Inilah yang saya katakan mudah namun njelimet. Membebaskan diri dari segala catatan dan rekaman hidup terasa mustahil. Namun, mencapai manusia tanpa ciri memang memerlukan olah pribadi yang tidak instan. Meresapi setiap peristiwa dalam hidup, lalu mengkajinya dengan inti pribadi. Pada akhirnya, kita akan menemukan kenyataan bahwa “susah seneng iku digawe dhewe.” Atau susah senang itu dibuat sendiri.

Sebenarnya banyak kisah hidup Ki Ageng Suryomentaram yang belum terbahas. Dari gerilya melawan penjajah, sampai berbagi ilmu tata negara kepada Soekarno. Namun, opus magnum blio tetaplah Kawruh Begja. Sebuah ilmu filsafat lokal yang tetap relevan, bahkan dikaji cabang keilmuan lain dari psikologi sampai sastra. Warisan ini yang menyebabkan blio dijuluki Plato dari Jawa. Menggoreskan nama blio dalam sejarah bukan sebagai pangeran. Namun sebagai manusia merdeka.

BACA JUGA Meningkatnya Pamor Nasi Goreng Tanpa Kecap di Tangan Selebtwit dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.