Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk dalam Hidup Saya?

Hafidzallah Umar oleh Hafidzallah Umar
27 Desember 2025
A A
Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk yang Pernah Ada? (Unsplash)

Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk yang Pernah Ada? (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Malam itu, saya pulang dari latihan yang melelahkan dengan kepala berisi banyak pertanyaan. “Untuk apa saya melakukan semua ini? Apa sih yang saya kejar? Apakah menjadi atlet adalah investasi yang buruk bagi saya?”

Berbagai pertanyaan itu menggetarkan hati saya. Iya juga ya. Apa yang saya cari dari semua usaha ini? Saya kejam kepada tubuh, beriringan dengan otak yang memutar kembali rekaman pengorbanan, kepahitan, dan kegagalan mengejar cita-cita sebagai atlet. 

Sesampainya di kos, berbagai pertanyaan itu semakin membara membakar kepala saya. Hampir 30 menit saya hanya berdiam diri membiarkan hati dan logika berdebat. Namun, pada akhirnya, saya tidak menemukan jawaban.

Tubuh ini sudah terlalu lelah dengan kuliah dan latihan. Saya tidak bisa memaksa tubuh untuk mengerti kenapa saya mau investasi ke tubuh ini untuk menjadi atlet. Maka, saya biarkan pikiran berjalan sendiri hingga pelan-pelan melemah. Sampai dinginnya Malang membawa saya ke alam mimpi.

Apakah menjadi atlet semata untuk validasi?

Alarm pukul 04:30 berdering kencang. Setelah bangun, saya berjalan ke kamar mandi dengan kepala yang terasa berat. Saya mengambil air wudu dan menunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslim di pagi hari.

Biasanya, setelah subuhan, saya mengerjakan tugas kuliah yang belum selesai. Namun, pagi itu, saya memutuskan untuk membaca buku berjudul “Psychology of Money” karya Morgan Housel. 

Entah kenapa saya mengambil dan membaca buku itu. Rasanya sangat random karena tujuan awal saya hanya untuk mengendurkan merilekskan pikiran.

Setelah melahap sekitar 15 halaman, mata saya terpaku pada sebuah paragraf yang seolah menampar realita. Paragraf tersebut menyebutkan bahwa banyak anak muda lebih memilih menjadi atlet profesional hanya karena mereka haus akan satu hal, yaitu validasi.

Baca Juga:

Mencibir Wacana Bodoh Menghapus Jurusan Filsafat karena Mereka Nggak Paham kalau Kuliah di Filsafat UGM Bikin Saya Bahagia Seumur Hidup

Cuan Investasi Tanah di Bondowoso Lebih Menggiurkan Dibanding Emas

Sontak, saya terasa terbangun dari mimpi panjang. Dunia mendadak kosong dan hening. 

Rasa bersalah mulai merayap. Saya mulai meratap, memikirkan kenyataan bahwa hampir seluruh hidup saya habis terjual hanya untuk investasi mengejar pengakuan dari lingkungan sekitar. Tanpa saya sadari, kondisi ini seperti menghilangkan esensi hidup.

Investasi buruk?

Kebingungan itu menjadi parasit yang menggerogoti pikiran saya seharian. Di dalam kelas, saya hanyalah raga tanpa jiwa. Suara dosen yang menjelaskan materi terdengar seperti dengung lalat yang lewat begitu saja. Hingga sampailah saya di mata kuliah terakhir hari itu, yaitu Filsafat.

Dosen Filsafat yang mengajar kelas saya adalah seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial. Saya curiga beliau punya hobi membedah isi kepala mahasiswa olahraga seperti kelas saya. 

Beliau membuka kelas dengan sebuah pertanyaan. Suaranya lirih namun isinya menikam dengan sadis. Seolah beliau tahu perang batin para mahasiswa yang menyimpan cita-cita menjadi atlet.

Beliau bertanya, “Kenapa kalian memilih menjadi atlet? Berlatih bertahun-tahun, menyiksa fisik, hanya demi sekeping medali? Jika pengorbanan dan fokus yang sama kalian alokasikan untuk mengasah skill lain, misal membangun usaha atau belajar instrumen investasi seperti trading. Mungkin saat ini kalian tidak akan berada di titik yang serentan dan sekrusial ini.”

Pertanyaan itu menjadi gambaran rapuhnya masa depan atlet. Kenyataan calon atlet dan calon pelatih memang serapuh itu. Pemerintah gembar-gemborkan “prestasi harga mati”. Namun, ada kabar Kemenpora akan menjatuhkan sanksi bagi atlet yang gagal di SEA Games 2025. Sudah begitu, atlet bertandingan dengan biaya sendiri dan sadar masa depannya tidak dijamin oleh negara. 

Dosen Filsafat itu seperti memaksa kami melihat ke cermin. Apakah investasi kami sebagai calon atlet di masa depan sudah benar? Atau, apakah kami hanya sedang menimbun koleksi logam yang nilainya tak sebanding dengan masa muda yang kami gadaikan?

Permainan kekayaan dan permainan status

Dosen Filsafat itu belum selesai. Beliau kemudian mengutip sebuah pemikiran dari Eric Jorgenson dalam buku “The Almanack of Naval Ravikant”, sebuah “kitab” bagi mereka yang mengejar kebebasan hakiki.

“Kalian harus paham. Naval Ravikant membagi permainan hidup menjadi dua: permainan kekayaan dan permainan status. Atlet dan politik adalah contoh nyata dari permainan status.

Keduanya adalah permainan hierarki yang berbasis pada validasi dan pencitraan. Di sana, kalian hanya akan menang jika bisa menjatuhkan orang lain atau mendapatkan pengakuan dari massa.”

Beliau menjeda sebentar semabari mengambil nafas dan memberikan waktu bagi kami untuk mencerna pahitnya kenyataan. “Masalahnya, permainan status itu bersifat zero-sum. Untuk ada yang menang, harus ada yang kalah.

Berbeda dengan membangun kompetensi yang memberikan nilai tambah, permainan status membuat kalian terus-menerus haus akan tepuk tangan yang bisa hilang dalam semalam. Begitu kalian cedera atau kalah, tribun stadion akan segera mencari pahlawan baru untuk dipuja.”

Kalimat itu menjadi paku terakhir di peti mati idealisme saya hari itu. Saya teringat 15 kilometer perjalanan dingin saya menuju kos di Malang, tugas yang menumpuk, dan badan yang remuk.

Apakah menjadi atlet adalah ambisi kosong?

Apakah mungkin usaha menjadi atlet adalah investasi kosong? Hari itu, saya kembali ke kos dengan jawaban, dan kesadaran baru. Bahwa membangun hidup di atas pondasi validasi hanyalah tentang membangun istana pasir yang akan runtuh saat air pasang datang.

Sambil merenung, saya teringat saya pernah membaca pertanyaan retoris dari Seneca yang dikutip dalam “Filosofi Teras”. 

“Kenapa kita lebih peduli pada apa yang dipikirkan orang lain tentang diri kita, daripada apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri?”

Sentilan itu membuat saya merasa konyol. Saya menyiksa fisik dan mental setiap hari demi menjadi atlet, namun motivasi terbesarnya bukan untuk pengembangan diri. Bercokol di dalam diri saya narasi “si atlet berprestasi” di mata publik. Saya sedang mengizinkan orang lain menjadi juri atas kebahagiaan saya sendiri.

Saya sadar. Bisa jadi saya terjebak dalam apa yang disebut kaum Stoa sebagai pengabdian pada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita (indifferents). Saya sedang memoles wajah hidup saya agar terlihat hebat, padahal di dalamnya sedang keropos dan kelelahan. 

Mulai hari itu, saya memutuskan untuk berhenti menjadi budak bagi tepuk tangan orang lain. Karena pada akhirnya, opini publik adalah tuan yang paling kejam dan tidak pernah merasa puas.

Penulis: Hafidzallah Umar

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Investasi Leher ke Atas. Investasi Paling Menguntungkan, Gampang, Cocok buat Pemula

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Desember 2025 oleh

Tags: atletcara menjadi atletdosen filsafatfilsafatInvestasikuliah olahraga
Hafidzallah Umar

Hafidzallah Umar

Mahasiswa Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang. Hobi olahraga.

ArtikelTerkait

Asyiknya Jadi Kolektor Kaset Pita, Bisa Nostalgia Sekaligus Dapat Cuan yang Lumayan Mojok.co

Asyiknya Jadi Kolektor Kaset Pita, Bisa Nostalgia Sekaligus Dapat Cuan yang Lumayan

27 Oktober 2023
Semoga Penimbun Properti Segera Dapat Hidayah, atau Bangkrut Sekalian biar Semua Orang Punya Kesempatan Beli Rumah!

Semoga Penimbun Properti Segera Dapat Hidayah, atau Bangkrut Sekalian biar Semua Orang Punya Kesempatan Beli Rumah!

10 Juli 2023
5 Hal yang wajib dipertimbangkan sebelum buka tabungan emas terminal mojok

5 Hal yang Wajib Dipertimbangkan Sebelum Buka Tabungan Emas

12 Juli 2021
Harga Emas Lagi Lesu, Perlukah Kita Khawatir?

Harga Emas Lagi Lesu, Perlukah Kita Khawatir?

14 Mei 2023
GBK Tempat Jogging Paling Nyaman di Jakarta: Akses Mudah dan Fasilitas Lengkap Mojok.co

GBK Tempat Jogging Paling Nyaman di Jakarta: Akses Mudah dan Fasilitas Lengkap

28 Oktober 2023
Mending Beli Perhiasan Emas atau Emas Murni? Ini Pertimbangannya! terminal mojok.co

Mending Beli Perhiasan Emas atau Emas Murni? Ini Pertimbangannya!

17 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.