Sebagai orang asli Malang dan sering wira-wiri di Malang, bayar parkir liar menjadi kebiasaan yang sudah membudaya dan sudah dianggap sangat biasa. Ketika keluar rumah, uang Rp2.000 atau dua ribu perak jadi sangat krusial, itu berfungsi sebagai ‘jimat keselamatan’ yang wajib diselipkan di saku celana tiap kali keluar rumah.
Menyiapkan uang paling nggak sebesar dua ribu perak untuk bayar parkir liar itu sudah seperti menjadi kewajiban ketika keluar rumah. Itu sudah terhitung sebagai ongkos yang harus ditanggung ketika keluar rumah.
Kaget kok ada yang protes pungutan parkir liar
Di media sosial belakangan ini, kita sudah nggak asing dengan konten-konten yang mempermasalahkan pungutan parkir liar ini. Apalagi ketika bayar parkir liar, lalu di karcis atau di tiang ada tulisan “kehilangan barang bukan tanggung jawab kami”, yang semakin membuat orang makin geram dan mempermasalahkan bayar parkir liar.
Saya termasuk orang yang sempat kaget ketika melihat media sosial yang menganggap bayar parkir liar itu sebagai hal yang salah. Saking kagetnya, saya sampai membatin: “Lho, di daerah lain ternyata bayar parkir bisa jadi masalah.”
Hal itu biasa terjadi karena kebiasaan bayar parkir liar di Malang sudah sangat mengakar. Dan di Malang bahkan ada eranya ketika bayar parkir liar lalu mendapat karcis bertuliskan “kehilangan barang bukan tanggung jawab kami”.
Bayar parkir liar di Malang itu demi kerukunan bersama
Saya melihat bahwa kebiasaan bayar parkir liar di Malang ini seperti sudah menjadi budaya. Bahkan akan terasa sedikit aneh bagi orang Malang jika terdapat tempat parkir gratis.
Selain itu, kadang-kadang ada juru parkir (jukir) liar yang hanya menunggu di depan pintu keluar parkir dan nggak blak-blakan minta uang untuk bayar parkir. Dari situ sebenarnya bisa saja kita tancap gas dan kabur.
Tapi ya gitulah, rasa sungkan khas orang Malang itu sialnya muncul tiba-tiba dan tetap saja pengendara bayar parkir liar. Walaupun tahu kadang ketika keluar parkir pun nggak dibantu oleh jukir itu.
Ditambah kadang juga ada jukir yang jutek jika pengendara mengabaikan keberadaannya. Walaupun jukir itu sendiri nggak bilang apa-apa dan tetap diam saja berharap pengendara bayar parkirnya dengan ngode-ngode. Sudah kayak orang pacaran aja, suka ngode-ngode.
Jika pengendara nggak membawa uang lebih untuk bayar parkir, biasanya pengendara akan menghindari berkunjung ke tempat yang ada jukir liar. Misal jika ingin pergi ke supermarket membeli sesuatu, tapi nggak ada uang lebih untuk bayar parkir liar, pergi ke supermarket itu bisa ditunda nanti hingga ada uang kecil untuk bayar parkir liar.
Kebiasaan yang sudah kelamaan dibiarkan
Keberadaan konten-konten di media sosial yang mempermasalahkan bayar parkir liar ini mungkin aneh bagi orang Malang karena mereka sudah sangat terbiasa dengan itu. Tapi itu juga bisa menjadi bahan untuk mempertanyakan kebiasaan bayar parkir di Malang.
Kalau dipikir-pikir, kebiasaan bayar parkir liar ini terdengar lucu. Kita bayar parkir liar kadang-kadang lebih karena ada jukir yang cuma berdiri menunggu, tanpa inisiatif membantu kita seperti membantu mengeluarkan sepeda motor misalnya. Saya melihatnya bayar parkir liar ini lebih tepat disebut “biaya kerukunan”, karena menjaga agar jukirnya nggak jutek ke kita dan kita juga terhindar dari rasa bersalah karena budaya sungkan.
Dan bagi saya, kekagetan orang Malang ketika bayar parkir liar ini dipermasalahkan terutama di media sosial ini perlu. Ini biar kita nggak terus-terusan menganggap hal yang membudaya sebagai sesuatu yang otomatis benar.
Jadi gimana? Apakah uang dua ribu perak untuk bayar parkir liar itu worth it?
Penulis: Farhan Madinanta Adyatma
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Malang Kota Wisata Parkir: Tiap Sudut Kota Kini Dikuasai Tukang Parkir, Semakin Nggak Nyaman
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













