Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Helma Winda oleh Helma Winda
29 April 2026
A A
Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja sering dipuji sebagai kota ramah mahasiswa. Biaya hidup relatif terjangkau, suasana santai, dan pilihan kampus yang beragam. Tapi di balik semua itu, Jogja juga punya satu kemampuan ajaib yang jarang dibahas: orang-orang di dalamnya yang menilai kondisi keuangan seseorang hanya dari asal daerahnya. Terutama orang Sumatera.

Sebagai mahasiswa yang datang dari Sumatera, saya cukup sering mendapat respons yang polanya mirip. Baru kenalan, baru bilang asal daerah, lalu datanglah kalimat sakti itu: Oh, dari Sumatera? Enak dong, banyak sawit. Berarti banyak duit.

Awalnya saya pikir itu cuma bercandaan. Tapi lama-lama, kok ya diulang terus. Dari tongkrongan ke tongkrongan, dari teman kelas sampai kenalan baru. Seolah-olah, Sumatera itu satu paket lengkap: sawit, lahan luas, dan rekening yang nggak pernah kosong.

Padahal, ya… nggak gitu juga.

Sumatera itu luas, nggak semua punya sawit

Sumatera itu luas. Sangat luas. Dan kehidupan orang-orang di sana juga beragam. Nggak semua orang punya kebun sawit, apalagi sampai bisa disebut anak sultan. Saya sendiri termasuk yang sering bingung harus menjelaskan dari mana.

Mau bilang nggak punya sawit, nanti dikira merendah. Mau diam saja, malah dianggap mengiyakan.
Akhirnya, saya sering memilih untuk ketawa saja. Lebih gampang daripada harus menjelaskan realita yang mungkin nggak sesuai ekspektasi mereka.

Padahal kenyataannya sederhana: orang tua saya memang bekerja keras, tapi bukan berarti kami hidup dalam kemewahan tanpa batas. Ada perhitungan, ada batasan, dan tentu saja—ada momen ketika uang itu terasa pas-pasan.

Dari bercanda jadi ekspektasi sosial

Masalahnya, stereotip ini nggak berhenti di level candaan. Lama-lama, dia berubah jadi ekspektasi sosial yang cukup memberatkan. Contohnya paling terasa waktu nongkrong bareng. Ada saja momen di mana saya secara halus or sometimes tidak halus sama sekali—didorong untuk jadi penyelamat saat tagihan datang.

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

“Yaelah, kamu kan orang Sumatera”

Kalimat itu sering diucapkan dengan nada santai, tapi maknanya cukup dalam: kamu dianggap lebih mampu, jadi seharusnya lebih rela keluar uang. Lucunya, ketika saya nggak menawarkan diri, suasana jadi agak canggung. Seolah-olah saya melanggar peran yang sudah ditetapkan tanpa persetujuan saya sendiri.

Padahal, jujur saja, saya juga sering menghitung pengeluaran sebelum memutuskan ikut nongkrong.

BACA JUGA: Derita Mahasiswa Sumatera Makan Nasi Padang di Jogja: Bukan Cuma karena Nasi Pulen dan Sambal yang Manis

Ketika bokek dianggap bercanda

Hal lain yang cukup menggelitik adalah bagaimana kondisi nggak punya uang saya sering dianggap tidak nyata. Waktu saya bilang lagi bokek, responsnya hampir selalu sama:Ah, kamu mah pasti ada aja duitnya. Saya kadang pengen jawab, Kalau ada, dari tadi juga sudah saya pakai, bukan saya simpan buat koleksi.

Tapi lagi-lagi, saya cuma ketawa.

Di balik itu, ada momen-momen yang sebenarnya cukup relate dengan mahasiswa lain: makan mi instan di akhir bulan, menunda beli sesuatu yang diinginkan, atau berharap ada kiriman tambahan dari orang tua. Bedanya, pengalaman itu sering tidak dianggap valid hanya karena saya berasal dari Sumatera.

Soal pinjam uang dan salah kaprah kepemilikan

Satu hal yang paling sering terjadi,teman-teman merasa lebih aman meminjam uang ke saya.
Alasannya sederhana dan lagi-lagi kembali ke stereotip yang sama. Padahal, ada satu hal penting yang sering dilupakan: uang yang saya pakai itu bukan uang saya sepenuhnya. Itu uang orang tua.

Saya juga ada di posisi yang sebenarnya nggak selalu nyaman: masih bergantung secara finansial, masih harus mengatur agar kiriman cukup sampai akhir bulan, dan kadang juga merasa nggak enak kalau harus terus meminta.

Jadi ketika ada yang meminjam uang, situasinya jadi serba salah. Mau menolak, takut dianggap pelit. Mau mengiyakan, saya sendiri juga harus berpikir dua kali. Karena pada akhirnya, ini bukan soal saya punya atau tidak. Tapi soal tanggung jawab atas uang yang bukan sepenuhnya milik saya.

Beban mahasiswa Sumatera yang jarang terlihat dari luar

Mungkin yang terlihat bahwa mahasiswa rantau dari Sumatera, kuliah di Jogja, hidup cukup.
Tapi dari dalam, ada beban yang jarang terlihat. Ada rasa tanggung jawab karena masih dibiayai orang tua. Ada keinginan untuk tidak merepotkan mereka. Juga, ada tekanan untuk mengelola uang dengan baik, supaya tidak harus minta tambahan di tengah bulan. Dan jujur saja, itu bukan sesuatu yang selalu mudah.

Makanya, ketika ada anggapan bahwa saya enak karena dianggap punya banyak uang, rasanya agak… tidak tepat. Bukan karena saya ingin dikasihani, ataupun terkesan merendah, tapi karena realitanya memang lebih kompleks dari itu.

Antara stereotip dan realitas mahasiswa Sumatera

stereotip seperti ini mungkin akan selalu ada. Sama seperti daerah lain yang juga punya label masing-masing. Tapi bukan berarti stereotip itu harus selalu dipercaya tanpa dipertanyakan. Tidak semua mahasiswa Sumatera adalah anak sawit. Dan tidak semua yang dianggap punya banyak uang benar-benar hidup tanpa kekhawatiran finansial.

Di balik label itu, ada cerita yang lebih beragam. Ada yang benar-benar berkecukupan, ada juga yang biasa saja, dan ada yang harus berjuang lebih keras dari yang terlihat.

Jadi, kalau kamu punya teman dari Sumatera, mungkin boleh sedikit menahan asumsi. Nggak semua dari kami punya kebun sawit. Nggak semua dari kami punya uang lebih. Dan yang paling penting, kami juga manusia biasa yang bisa kehabisan uang di tanggal tua.

Kalau mau bercanda, silakan. Tapi kalau sudah sampai jadi ekspektasi, mungkin perlu dipikirkan lagi.
Karena pada akhirnya, yang orang lain bayangkan tentang sawit itu sering kali hanya ada di kepala mereka. Sementara kami, tetap harus berhadapan dengan realitas dompet sendiri.

Penulis: Helma Winda
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mahasiswa Medan Tertipu Biaya Hidup Murah Jogja, Gadaikan Laptop demi Nongkrong di Coffee Shop

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 April 2026 oleh

Tags: Jogjakuliah di jogjamahasiswa sumatera
Helma Winda

Helma Winda

Mahasiswi Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ArtikelTerkait

 Terminal Janti: Gerbang untuk Pulang, Rindu, dan Patah Hati di jogja flyover janti

Jembatan Janti Dibuat Jogja Menjadi Tempat yang Celaka bagi Warga : Sudah Gelap Gulita, Akses Jalan Dibiarkan Rusak

22 Mei 2025
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
Ringroad Barat Jogja Sirkuit Pengendara yang Tidak Punya Empati (Unsplash)

Ringroad Barat Jogja, Ketika Malam Jadi Sirkuit Para Pengendara Motor yang Tidak Punya Empati

18 Maret 2025
aturan tidak tertulis mojok

Aturan Tidak Tertulis di Masyarakat Sebaiknya Ditulis Saja

16 Februari 2021
Derita Rumah Dekat Taman Sari Jogja: Jadi Tontonan Wisatawan hingga Sering Mengalah demi Pariwisata Mojok.co

Rumah Dekat Taman Sari Jogja Itu Menderita, Jadi Tontonan Turis hingga Sering Mengalah demi Pariwisata

23 Juni 2024
Sunset di Tanah Monarki: Rakyat Jogja diusir oleh Investasi

Sunset di Tanah Monarki: Rakyat Jogja diusir oleh Investasi

16 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

29 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan
  • Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?
  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.