Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
4 Mei 2025
A A
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! (Dhio Gandhi via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah tulisan kritik pada perantau di Jogja muncul di ICJ. Sebenarnya, itu bukan hal yang mengejutkan, banyak surat serupa muncul kalau Anda sering baca postingan di sana. Apalagi yang isinya yang marah-marah tidak jelas, disempurnakan dengan cara menulis yang jelek dan logika patah bawah, wah, makin umum.

Tapi, postingan kritik pada perantau ini beda. Beda banget.

Membaca tulisan 700+ kata itu membuatku engap-engapan. Sebenarnya si penulis sudah mengingatkan, “Agak panjang. Gak maksa untuk baca, khusus buat yang penasaran aja soal isu ini di Jogja.” Tapi saya terpaksa membaca. Dan dia benar, memang tidak perlu dibaca, karena isinya hanya kemarahan tanpa otak.

Kemarahan kepada para perantau di Jogja ini bisa kumaklumi sedikit. Bukankah paling enak menyalahkan keadaan pada pendatang? Tapi seperti biasa, kemarahan yang diluapkan hanya berdasarkan data “katanya” dan “jarene”. Bahkan mengkaji fenomena perantau di Jogja saja menggunakan kacamata kuda.

Sebagai warga Jogja asli, aku otoritatif untuk membalas tulisan tersebut. Oleh karena tulisan itu tidak berlandaskan logika serta minim penalaran fenomena, jangan sampai pikiran bodoh itu malah dipuja sebagai kebenaran. Sudahlah hidup makin sulit di Jogja, masih ditambah konflik nirlogika dengan perantau.

Marah-marah pada perantau di Jogja karena “katanya”

Tulisan tentang perantau di Jogja yang jadi viral di ICJ itu dibuka dengan tendensi rasial. Lalu ditutup dengan nada kebencian pada pendatang. Sepanjang tulisan bertabur pembenaran terhadap kebencian itu.

Penulis menyebut kasus-kasus gesekan sosial, sampai membahas stigma negatif. Dari membahas penolakan menerima anak kos dari suku tertentu, sampai perkara kerusuhan dan kekerasan. Nada merendahkan ras perantau ini multirasial.

Lucunya, penulis membenarkan perkara oknum. Tapi dilanjutkan dengan tendensi membenci yang sama rata. Mbok ya konsisten sitik!

Baca Juga:

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

Sebenarnya apa yang ditulis itu bukan hal baru. Hanya merangkum segenap kemarahan tak berdasar yang sudah jadi pergunjingan umum tentang perantau di Jogja. Penulis hanya menaburkan diksi dan argumen sok kritis yang berasal dari mbuh ra cetho.

Intinya, penulis membenci perantau yang memenuhi Jogja. Mereka dipandang sebagai sumber masalah yang memberi dampak buruk. Penulis juga memandang rendah perantau sebagai orang yang kabur dari kampung halaman. Perantau juga dituduh arogan, tidak berbaur, dan penjajah daerah lain.

Entah apa yang dikonsumsi penulis ini.

Stigma adalah candu ketika hidup makin sulit

Saya langsung menyorot perkara stigma yang didengungkan si penulis. Meskipun berusaha bijak dengan memakai kata “oknum,” stigma rasial tetap terasa. Yah, penulis itu masih malu-malu tapi mau. Malu untuk menyebut suku tertentu, tapi mau menghina dan merasa paling terjajah.

Penulis mungkin lupa bahwa sumber masalah adalah individu. Memang, ada faktor sosial budaya yang memengaruhi. Menjadi gesekan ketika budaya di daerah asal tidak sejalan dengan lingkungan baru. Namun perkara konflik dan kerusuhan, semua kembali pada individu.

Melanggengkan stigmasi hanya menyederhanakan masalah sebenarnya. Tentu penyederhanaan masalah hanya berakhir dengan gesekan tanpa henti. Menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Fenomena perantau di Jogja lebih kompleks dari cocotmu

Penyederhanaan isu terjadi lagi pada tuduhan “sok kuat.” Penulis dengan tegas menilai perantau adalah orang yang kabur dari asalnya. Enggan membangun daerah asal dan memilih menikmati hidup di kota orang.

Alasan seseorang migrasi lebih rumit dari sekadar kebencian si penulis. Ada faktor pendorong yang menyebabkan sekelompok orang merantau. Melibatkan ekonomi, budaya, sampai struktural. Dari kebutuhan bertahan hidup, mengakses pendidikan lebih baik, sampai dorongan sosial untuk merantau.

Mental heroik untuk membangun daerah dengan tidak merantau jelas berlebihan. Pendapat yang tidak menapak tanah. Justru pemerintah lokal maupun pusat punya tanggung jawab besar, bagaimana menjamin kebutuhan dan aspirasi warganya terpenuhi tanpa migrasi. Menimpakannya pada individu jelas cacat logika, apalagi untuk landasan mengkritik (kalau itu bisa disebut kritikan) poerantau di Jogja.

Maka tuduhan kabur ini jelas tidak berdasar. Penyederhanaan dari sudut pandang penulis yang butuh validasi karena bertahan di Jogja. Kegagalan menelaah proses perpindahan manusia menyempurnakan tulisan yang logikanya jelek saja belum.

Gegar budaya bukan berarti penyebab arogansi perantau di Jogja

Tudingan perantau di Jogja yang arogan dan enggan berbaur terlihat banyak disetujui. Merujuk dari komentar sepakat yang entah berapa ratus jumlahnya. Tapi apakah ini bukti perantau adalah individu red flag?

Tidak semua perantau hidup di tempat ideal. Belum tentu mereka diterima tanpa sematan stigmasi. Maka wajar jika pada fase awal, ada kesan arogan dan enggan berbaur. Bukan karena mau, tapi karena lingkungan yang membentengi diri.

Perkara gegar budaya juga jadi alasan besar. Perbedaan budaya bukan hal yang mudah untuk diadaptasi. Apalagi untuk perantau nomaden dan tidak menetap lama. Wajar jika mereka akan berkelompok. Mereka butuh ruang aman. Bukan untuk arogan apalagi menjajah. Toh orang Jogja asli juga akan membangun sel-sel kecil berdasar kecocokan kultur dan budaya.

Apalagi ketika bertemu orang yang punya tendensi kebencian seperti penulis. Tentu para perantau makin menutup diri demi keamanan.

Jogja adalah melting point banyak budaya dan ras

Tendensi kebencian rasial si penulis juga menafikan fakta penting. Jogja lahir dan bertumbuh sebagai titik temu berbagai budaya. Dihidupi dan menghidupi masyarakat lintas suku, agama, ras dan budaya. Ini bukan kebetulan, tapi warisan dari kerajaan-kerajaan pendahulu.

Bukti paling sederhana adalah perkara kuliner. Jogja tidak memiliki budaya kuliner yang sempit. Namun perpaduan berbagai budaya yang melebur di dalamnya. Dari bakpia, baceman, ronde, sampai gudeg adalah hasil peleburan budaya. Siapa yang membawa? Ya para perantau leluhur warga Jogja.

Masalah pemukiman juga menjadi bukti kuat. Adanya kantong-kantong wilayah berdasar suku menjadi bukti Jogja sebagai melting point. Memang, ini juga membuktikan Jogja yang cenderung rasis sampai batas tertentu. Salah satunya perkara isu agraria.

Pendiri Jogja juga pendatang

Menurut Anda, siapa “warga” asli Jogja? Tentu saja makhluk gaib yang lebih dulu menempati hutan Mentaok. Sebab, Jogja yang dulu dibangun oleh sekelompok pendatang yang baru mendapat hadiah. Ia adalah Danang Sutawijaya.

Bersama pioneer Kerajaan Mataram, Danang Sutawijaya merantau ke cikal bakal Jogja. Lalu membangun kerajaan baru yang nantinya melahirkan Kasultanan Yogyakarta. Apakah si penulis berani mengkritik pendiri Mataram sebagai orang yang kabur dan sok kuat?

Apakah para demit ini bertanya, “KTP mana boss?” Tentu saja tidak. Para pendatang ini tetap hidup dan menghidupi tanah yang nantinya berdiri kerajaan.

Ini adalah candaan internalku setiap muncul isu pendatang seperti ini. Candaan yang harusnya menampar si penulis yang marah-marah itu. Dia membenci perantau ketika membanggakan daerah yang didirikan perantau.

Kemarahan yang salah sasaran

Pada akhirnya aku hanya bisa tertawa sinis pada si penulis. Bukan merendahkan secara personal, tapi kemarahannya yang salah sasaran. Selain argumennya tidak menapak tanah (dan tentu saja jelek), isu sosial yang diangkat juga bukan untuk perantau yang ditunjuk.

Perantau di Jogja bukanlah penjajah. Mereka juga melebur menjadi bagian dari Jogja yang penuh warna. Penjajah sebenarnya adalah investor penyedot air tanah serta mafia tanah perebut hak warga. Tapi aku tidak perlu bahas sampai situ. Apalagi isu gentrifikasi, nanti si penulis malah mual saat menelaah.

Jogja dibangun sebagai melting point banyak manusia. Mereka menjadi leluhur kita semua. Maka untuk apa membenci perantau hari ini? Ketika masalah sosial yang terjadi hanyalah buih dari pusaran daerah yang salah urus.

Izinkan aku menutup surat balasan ini dengan statement tegas. Jika kalian menuduhku pendatang yang menyamar jadi warga lokal, kutapuk cangkemmu dengan serat kekancingan!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Daerah Tidak Ramah Perantau di Jogja yang Perlu Dihindari

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2025 oleh

Tags: Jogjaperantau di jogjapribumi jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Jogja Darurat Parkir 10 Juta Manusia Serbu Jogja saat Nataru (Unsplash)

10 Juta Manusia Banjiri Jogja Saat Libur Nataru padahal Jogja Darurat Parkir

23 Desember 2024
Dilema Pagar Alun-alun Jogja: Takhta untuk Rakyat atau Halaman Rumah Sultan? terminal mojok.co

Dilema Pagar Alun-alun Jogja: Takhta untuk Rakyat atau Halaman Rumah Sultan?

5 Juli 2021
Jogja Tidak Hanya Kopi Klotok: Rekomendasi Hidden Gem untuk Wisatawan yang Pengin Blusukan Kuliner

Jogja Tidak Hanya Kopi Klotok: Rekomendasi Hidden Gem untuk Wisatawan yang Pengin Blusukan Kuliner

29 Juni 2023
Mengenal Ciri-ciri Gondes berdasarkan Pengamatan Saya Selama Hidup di Bantul, Pusat Gondes di Jogja

Mengenal Ciri-ciri Gondes dari Pengamatan Saya Selama Hidup di Bantul, Pusat Gondes di Jogja

2 Desember 2023
5 Angkringan Kulon Progo yang Murah, Enak, dan Nyaman terminal mojok.co

5 Angkringan Kulon Progo yang Murah, Enak, dan Nyaman

9 November 2021
Membayangkan Apa yang Akan Terjadi jika Nggak Ada Stasiun Lempuyangan Jogja

Membayangkan Apa yang Akan Terjadi jika Stasiun Lempuyangan Jogja Nggak Ada

9 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Ingat Ada Revisi Mojok.co

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

20 Juni 2026
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok Mojok.co

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

17 Juni 2026
Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

17 Juni 2026
Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL Mojok.co

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

21 Juni 2026
Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

19 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.