Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Banggalah Jadi Budak Micin, Perdebatan soal Tidak Sehatnya MSG Bukan Perkara

Adi Sutakwa oleh Adi Sutakwa
2 Desember 2020
A A
micin

micin

Share on FacebookShare on Twitter

Dibandingkan bucin sebagai abreviasi budak cinta, frasa budak micin rasanya jauh lebih mendarah daging dalam kultur berbangsa dan bernegara kita. Adanya Pak Dokter Rayhan dalam iklan Masako terbaru pun seolah menyiratkan bahwa tidak ada yang salah dari “penghambaan” semua milenial Indonesia pada micin. 

Blio lulusan S1 kelas internasional Kedokteran UGM lho, lantas langsung lanjut S2 di universitas yang sama. Masa iya mau diragukan kapasitas kepakarannya di bidang kesehatan.

Kita semua yang mengaku generasi milenial memang telah hidup berdampingan dengan damai dan tumbuh dewasa hingga menua bersama micin. Pantaslah kita disebut budak micin. Saya ingat di masa kecil dulu, salah satu hal yang membuat saya selalu menantikan abang tukang bakso, adalah kuah kaldu bakso campur Ajinomoto yang entah kenapa tidak pernah membosankan. Selain tentu saja karena memang sejak kecil generasi 90-an telah didikte dengan lagu “abang tukang bakso, mari-mari sini, aku mau beli”.

Setidak-tidaknya, micin telah membantu para ibu muda yang kala itu selalu kesulitan untuk menjaga ritme dan pola nafsu makan anak-anak pra-reformasi. Ekonomi sedang susah-susahnya, harga kebutuhan mulai melambung tak hingga, program empat sehat lima sempurna tidak banyak meringankan beban keluarga. Maka hadirlah micin sebagai tajalli kata-kata bijak “bahagia itu sederhana”, jadi budak micin saja sudah cukup.

Saya tidak sedang berkubu pada salah satu dari tiga kelompok yang selalu terlibat debat tak berujung tentang micin. Kelompok pertama percaya bahwa micin adalah bagian hidup mereka, tiada hari tanpa micin. Kelompok kedua kontra sepenuhnya dan menuduh micin adalah sumber kebodohan massal serta degradasi integral pada generasi milenial. Sementara kelompok ketiga merasa paling bijak sebagai penengah dengan semboyan “asalkan nggak berlebihan”.

Kalau mau ditarik lebih jauh, sebenarnya ada benang panjang yang menghubungkan micin dengan Perang Dunia II (PD II). Kekalahan Jepang dari Amerika yang terlalu mendadak sontak mengecewakan banyak prajurit dan warganya. Akan tetapi, dasarnya negeri pejuang ya tetap tegap berkembang dalam keterpurukan. Industri micin segera membumi hanya tiga tahun setelah akhir PD II, siapa lagi kalau bukan Ajinomoto pelaku utamanya.

Satu titik di balik suksesnya penyebaran micin, terutama di wilayah Asia, adalah bahan mentah yang murah dan berkembangnya teknologi fermentasi berskala industri. Barangkali secara singkat perlu saya jelaskan bahwa produksi micin secara industri dimulai sejak 1957. Kala itu dikembangkan bakteri yang dapat mengekstrak glutamat dari bahan mentah yang merupakan “limbah” industri gandum, kedelai, gula tebu, atau jagung.

Di antara banyak jenis bakteri yang digunakan dalam produksi micin, satu yang kerap diteliti dan paling efektif adalah Corynebacterium glutamicum. Anehnya, produksi glutamat yang dihasilkan oleh kelompok bakteri ini justru melonjak tidak terduga (hyper-production) apabila dikondisikan dalam keadaan minim nutrisi (biotin-limited condition).

Baca Juga:

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Apa yang terjadi setelah industrialisasi murah micin berhasil dikembangkan di Jepang? Kapitalisme. Perang dengan Amerika kembali dimulai, hanya saja dengan cara yang lebih elegan: Menggunakan amunisi kritis para saintis dan industrialis. Jepang segera menguasai pasar micin di Asia Tenggara dan China, kabar tentang penguat dan penyedap rasa ajaib segala masakan segera merebak di kawasan Asia. Bisa dikatakan, pada tahun-tahun itulah masa awal munculnya budak micin di muka Bumi.

Pembahasannya akan lebih ruwet lagi kalau meminjam kritik para pengikut Karl Marx yang menyebut kapitalisme sebagai creative destruction atau penghancuran kreatif. Hal tersebut merujuk pada ironi bahwa kapitalisme memungkinkan kebebasan dasar manusia seperti rasa (sensation), pencernaan (digestion), dan metabolisme diproduksi secara industri melalui perkembangan produk makanan.

Apabila dilihat dalam kacamata kimia sederhana, micin hanyalah molekul glutamat yang terikat pada molekul natrium (senyawa dasar kristal garam). Ia bukanlah asam amino esensial, yang artinya, we do not need to eat glutamate to survive and thrive. Bukan berarti nggak penting juga, glutamat berperan signifikan dalam urusan “kesadaran” (cognition), “perasaan” (mood), dan “kelaparan” (appetite).

Jadi tahu kan, kenapa micin itu enak? Ya karena memang otak kita ngomong pakai bahasa micin. Ada sebuah alegori dalam ilmu biokimia tentang micin: Kalau tubuh berfungsi dengan bahan bakar glukosa, yang diucapkannya adalah glutamat. Makanya, istilah umami yang sering jadi konten iklan micin itu sebenarnya berasal dari kata umai atau tafsir literalnya adalah rasa gurih yang sangat enak.

Oleh karena itu, ketimbang mikirin pertarungan abadi setan malaikat, perang tak berkesudahan kanan dan kiri, serta keruwetan ideologis kapitalisme dan sosialisme, kita nikmati saja senyum menggoda dan alis manja Bu Rayhan dalam iklan Masako. Jarang-jarang kan produk micin punya brand ambassador bidadari milenial macam Isyana Sarasvati. Sehat selalu, Budak micin!

BACA JUGA Ketimbang Usul SMK Jurusan Medsos, Mas Gibran Mending Bikin SMK Jurusan Martabak dan tulisan Adi Sutakwa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2020 oleh

Tags: Kulinersejarah
Adi Sutakwa

Adi Sutakwa

Kelas pekerja dari Pemalang yang menghabiskan separuh hidupnya sebagai perantau di Solo, Jogja, Jakarta, dan Serang. Kritis pada isu pangan, industri, pendidikan, politik, sepakbola, seni, hingga animanga.

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Mi Ayam Jogja Selain Pakdhe Wonogiri dan Tumini mie ayam jogja terminal mojok.co

Rekomendasi Warung Mie Ayam Mantap dan Murah Meriah di Medan

18 Januari 2020
Saat Tempe Mendoan Jadi Perdebatan Baru di Dunia Kuliner Netizen Indonesia

Saat Tempe Mendoan Jadi Perdebatan Baru di Dunia Kuliner Netizen Indonesia

2 Maret 2020
Jurusan Sejarah Kerap Dipandang Sebelah Mata, padahal Berjasa Menyelamatkan Ingatan Banyak Orang Mojok.co

Jurusan Sejarah Kerap Dipandang Sebelah Mata, padahal Berjasa Menyelamatkan Ingatan Banyak Orang

14 Mei 2024
suwar-suwir Cilok Edy Kota Jember

Cilok Edy, Ikon Kabupaten Jember yang Patut Dilestarikan

6 November 2021

6 Rekomendasi Kuliner Ngetop di Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel Surabaya

23 April 2022
3 Tempat Makan di Bandung yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

3 Tempat Makan di Bandung yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup 

13 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

4 Juni 2026
Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras Mojok.co

Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras

3 Juni 2026
Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

3 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.