Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

KAA 1955 Sempat Diwarnai Operasi Pembunuhan oleh CIA

Christianto Dedy Setyawan oleh Christianto Dedy Setyawan
1 Agustus 2021
A A
KAA 1955 Sempat Diwarnai Operasi Pembunuhan oleh CIA terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Krisis penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya memicu kritik dari dalam negeri, tapi juga respons negatif dunia internasional. Pada September 2020, sebelas negara kompak melarang kunjungan dari dan ke Indonesia. Sembilan bulan berselang pun masih setali tiga uang. Jepang, Taiwan, dan Arab Saudi berniat memulangkan warganya yang sedang berada di Indonesia. Bahkan Taisei Marukawa, pemain yang baru bergabung ke Persebaya akhir Mei kemarin, ditawari mudik oleh negara asalnya. Di Amerika Serikat, lembaga pemerintah Center for Disease Control and Prevention sudah menetapkan peringatan level tiga yang artinya warga AS diminta tidak ke Indonesia. Ini adalah fakta masa kini yang menyedihkan, jauh dari fakta 66 tahun silam kala negeri ini adalah primadona dunia berkat menggelar Konferensi Asia-Afrika (KAA 1955).

1955 adalah tahun yang sibuk bagi Indonesia. Republik baru enam tahun terbebas dari kemungkinan aneksasi kembali oleh Belanda. Situasi dalam negeri masih kacau balau oleh jegal-menjegal di parlemen dan belum stabilnya pemerintah baru. Ini masa yang berbeda dari kurun 1945-1949 ketika gonta-ganti kabinet masih dapat ditoleransi akibat perang masih berlangsung di sana-sini.

Bayangkan saja betapa labil situasi di periode sebelum 1955. Kita jumpai nama-nama seperti Mohammad Hatta, Susanto Tirtoprodjo, Abdul Halim, Mohammad Natsir, Sukiman Wirjosandjojo, dan Wilopo silih ganti memegang pucuk parlemen. Rentetan ini kalau mau diteruskan sampai era Dekrit Presiden 1959, akan kian panjang. Di zaman sekolah, Anda mungkin sebal jika soal ulangan menanyakan urutan kabinet atau tanggal periodenya. Sama mumetnya jika soal favorit materi Demokrasi Liberal yang berbunyi “jelaskan keunggulan dan penyebab jatuhnya masing-masing kabinet” muncul. Auto mudheng opo mubeng?

Prestasi gemilang yang mencolok kala itu baru ada di era Kabinet Ali Sastroamidjojo yang pertama. Ketika Konferensi Asia-Afrika (KAA) digelar. Sebab, KAA 1955 bukan sembarang acara kumpul-kumpul antarnegara. Dampak pentingnya diakui puluhan negara antarbenua. Di masa kini aspek pentingnya masih terasa karena gedung KAA nyaris selalu menjadi tujuan piknik study tour banyak sekolah. Yah, meskipun tingginya angka kunjungan ke sana belum tentu berbanding lurus dengan aspek pemahaman siswa. Lha wong di sana siswanya cuma disuruh berkeliling sambil nyatet. Tidak ada waktu untuk berdiskusi di TKP. Tahu-tahu waktu sudah habis dan harus lanjut ke lokasi berikutnya. Alhasil kunjungan ke gedung KAA sekadar rutinitas yang kurang bermakna.

Apesnya lagi, materi KAA 1955 di mata pelajaran Sejarah minim banget. Nggak percaya? Buka saja buku cetak “Sejarah Indonesia untuk SMA kelas XII”, KAA hanya nyempil di Kompetensi Dasar 3.8. Ruangnya minim. Semakin lupa lah anak muda tentang KAA selain memori mengenai acara napak tilas 60 tahun KAA di tahun 2015 yang digelar dengan ingar bingar.

KAA 1955 adalah acara momen fenomenal yang terlupakan

KAA 1955 yang dipelopori oleh lima perdana menteri dari bekas negara jajahan. Meraka ialah Ali Sastroamidjojo (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), U Nu (Burma, sekarang Myanmar), Mohammad Ali Bogra (Pakistan), dan Sir John Kotelawala (Sri Lanka) memang layak disebut sebagai kongres terbesar sejagat raya di abad ke-20.

Acara ini besar dalam arti jumlah peserta, topik yang dibahas, dan dampak yang dimunculkan.

Dunia di kala itu didominasi Perang Dingin AS dan Uni Soviet (mewakili ideologi Kanan dan Kiri), menyeret beberapa negara lain untuk mendukung kubu mereka. Sisanya adalah penonton, termasuk negara-negara yang baru dan belum merdeka. Penulis AS Richard Wright dalam buku The Colour Curtain mengatakan, KAA adalah fenomena bertemunya gerakan dan pemikiran di luar paham Kiri dan Kanan. Ini adalah momen berkumpulnya mereka-mereka yang dianggap sebagai underdog di antara ras manusia. Perasaan senasib-sepenanggungan menyatukan hati para negara peserta KAA. Dunia yang terbelah gara-gara Perang Dingin dan fenomena negara yang masih terjajah menjadi alasan kuat mengapa Sukarno ngotot konferensi tersebut wajib diwujudkan.

Baca Juga:

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

Adanya KAA 1955 bukannya tanpa prolog. Konferensi Kolombo di Srilanka setahun sebelumnya menjadi awal dari rancangan KAA, dihadiri lima negara yang kemudian menjadi inisiator KAA. Saat undangan dari Kotelawala tiba, Ali Sastro bersedia datang sebab ia ingin menggagas potensi adanya pertemuan antarkepala negara yang lebih besar lagi mengingat dunia sedang terpecah dalam poros Komunisme dan kapitalisme.

Ali berangkat bersama tim yang terdiri dari Achmad Soebardjo, Djuanda, J.D. de Fretes, dan M. Maramis. Namun, diskusi di Kolombo berjalan alot. Keempat tokoh negara lainnya lebih berfokus pada solusi konflik AS dan Tiongkok terkait Vietnam. Sementara Ali Sastro “selangkah lebih maju” dari itu. Ia mendesak pentingnya pertemuan besar antarnegara Asia-Afrika. Ia juga menyatakan bahwa Sukarno mendukung penuh rencana ini dan Indonesia siap sebagai tuan rumah.

Usai tercapainya mufakat di Kolombo, Ali Sastro bekerja keras untuk melobi kesediaan kehadiran negara-negara yang diundang KAA. Tidak mudah, sudah pasti. Bayangkan saja ada negara-negara kecil di Asia, yang belum lama lepas dari penjajahan, mau bikin event skala dunia. Wong kita ngadain buka bersama aja rumitnya minta ampun. Untuk tahu pahit perih penyelenggaraan acara ini, dan karena itu, kesuksesan para penyelenggara, kamu bisa membaca lebih lengkap di buku Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal-usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme.

Namun, buku cetak anak sekolahan hanya menulis yang manis-manis saja perihal KAA. Asal tahu saja, di balik suksesnya KAA di Bandung tersaji aneka insiden yang nyaris mengancam agenda akbar ini.

#1 Harus pinjam ratusan mobil beserta sopirnya

Mobil di tahun 1955 belum semarak sekarang. Pemerintah juga belum punya banyak mobil. Hal ini sempat membuat mumet. Panitia KAA lalu membentuk tim khusus guna mencari pinjaman mobil. Setelah bersusah payah ke segala penjuru Bandung, diperolehlah 143 mobil sedan, 30 taksi, dan 20 bus. Panitia juga menyiapkan 230 sopir.

Kenapa kendaraannya sebanyak itu? Jawabannya, selain karena jumlah tamu agung, KAA juga dihadiri banyak wartawan asing yang datang meliput. Daya pikat hajatan gede ini mengundang 376 wartawan yang terdiri dari 163 wartawan lokal dan 213 wartawan asing.

#2 Permintaan dadakan Sukarno

Merasa sebagai yang paling paham soal arsitektur, Sukarno yang memang arsitek minta agar Gedung Concordia (kini Gedung Merdeka) dirombak. Ia menilai gedung tersebut kurang nyeni dan nggak ada jiwanya. Ali Sastro menolak permintaan Sukarno yang sontak memicu perang dingin antara keduanya. Ali Sastro emoh merombak gedung karena waktunya sudah sangat mepet dengan hari-H. Ia juga paham tentang besaran anggarannya. Meski sempat kesel, Sukarno akhirnya mau mengalah.

#3 Kelabakan karena gedung bocor

Saat sesi rehat sidang pleno di KAA, atap Gedung Merdeka ambrol akibat hujan deras yang mengguyur Bandung. Ruang sidang utama sontak berubah menjadi lautan mini. Merespons musibah itu, panitia yang dipimpin Roeslan Abdoelgani serentak mengeringkan ubin dan mengepelnya dengan cepat. Untungnya setelah itu hujan sudah reda sehingga ruangan dapat digunakan lagi. Kejadian ini dirahasiakan oleh panitia sampai KAA selesai. Wajar karena risikonya gede. Lha ada ratusan wartawan gitu. Mau ditaruh di mana muka Indonesia jika sampai tersiar ke surat kabar.

#4 Percobaan pembunuhan yang gagal

Tidak semua negara suka dengan adanya KAA. Buktinya Perdana Menteri Tiongkok, Zhou Enlai sampai jadi target pembunuhan lewat modus bom pesawat. Zhou selamat karena intelnya tahu lebih dulu sehingga sempat mengubah rencana dan rute perjalanannya dari yang semula menggunakan pesawat Kashmir Princess. Pesawat tersebut lalu meledak dan terempas ke Laut Natuna. Dalang di balik aksi bom itu adalah Chiang Kai Sek dan Dinas Intelijen AS, CIA.

Chiang selaku pimpinan Partai Kuomintang memang masih menyimpan dendam pada kubu komunis.

Gilanya lagi, sesudah rencana itu gagal, CIA rupanya masih punya plan B. Zhou yang tetap hadi di Bandung hendak diberi racun mematikan yang akan dibubuhkan ke mangkuk nasinya. Aktornya adalah Sidney Gottlieb, ahli kimia dan anggota CIA.

Rencana ini gagal karena di lingkungan CIA muncul kekhawatiran jika tewasnya Zhou akan merusak kepentingan AS di Asia. Zhou sendiri waspada dengan potensi ancaman dari lawan politiknya. Ia menolak menginap di Hotel Savoy Homann yang sudah disediakan, dan memilih tinggal di bungalow di Jalan Taman Sari nomor 10.

Di luar itu, sebenarnya masih ada plan C yang konon berupa mengirim penyusup bersenjata pistol dengan peredam suara. Namun, hingga KAA usai, info yang bersumber dari nota resmi Kedutaan Besar Tiongkok itu tidak terbukti.

Suksesnya KAA yang dihadiri 29 negara ditandai dengan kesepakatan Dasasila Bandung yang terdiri dari sepuluh poin berisi dukungan bagi perdamaian dan kerja sama dunia. Selain dampak yang telah disebut tadi, KAA juga menjadi pemicu berdirinya Gerakan Non-Blok yang kian mempertegas tujuan mulia KAA.

Sebagai pelopor dan tuan rumah KAA, Indonesia terbilang sukses. Tak heran jika julukan Macan Asia kelak disematkan pada negeri ini. Suatu periode kala Indonesia berada dalam sorotan internasional karena prestasi yang positif. Bisakah kita membuat pencapaian melebihi KAA di masa depan? Doakan saja.

Foto: Suasana KAA 1955. Dari Wikimedia Commons. 

BACA JUGA Di Balik Pro Kontra soal Daendels Ada Kita yang Kurang Banyak Baca Buku Sejarah dan tulisan Christianto Dedy Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2021 oleh

Tags: 1955BandungCIAgerakan non blokKAAkonferensi asia-afrikaperang dinginsejarah
Christianto Dedy Setyawan

Christianto Dedy Setyawan

Pencinta literatur yang hobi blusukan sejarah

ArtikelTerkait

Sudah Saatnya Kita Meromantisasi Kemacetan di Bundaran Cibiru Bandung

Sudah Saatnya Kita Meromantisasi Kemacetan di Bundaran Cibiru Bandung

9 Juni 2023
4 Tempat Wisata Populer yang Sering Dikira Berada di Ciwidey Bandung, padahal Bukan Mojok.co

4 Tempat Wisata Populer yang Sering Dikira Berada di Ciwidey Bandung, padahal Bukan

20 November 2024
Alasan Saya Malas Belanja di Istana BEC, Tempat Jualan Elektronik Terlengkap Se-Bandung Mojok.co

Alasan Saya Malas Belanja di Istana BEC, Tempat Jualan Elektronik Terlengkap Se-Bandung

4 Juli 2024
Makanan Malang Banyak Kurangnya di Lidah Orang Depok dan Bandung

Makanan Malang Banyak Kurangnya di Lidah Orang Depok dan Bandung

10 Januari 2024
Akhir-akhir Ini Bandung Lebih Layak Disebut sebagai Kota Pengemis Dibandingkan Kota Romantis

Akhir-akhir Ini Bandung Lebih Layak Disebut sebagai Kota Pengemis Dibandingkan Kota Romantis

10 Agustus 2024
visi persikab bandung

Mempertanyakan Visi Besar Persikab Bandung

18 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

29 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.