Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita?

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
2 Mei 2020
A A
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu
Share on FacebookShare on Twitter

Menjalani ibadah puasa sebagai mayoritas di Indonesia tentu akan merasakan banyak hal yang seru seperti banyaknya tempat ibadah yang memberikan sahur dan buka puasa gratis. Ada juga pasar takjil dengan berbagai makanan enak jelang berbuka, diskon di berbagai pusat perbelanjaan, dan berbagai wujud pengejawantahan berkah Ramadan yang lainnya. Namun, tidak hanya hal seru, sebagai mayoritas yang kadang juga jadi superior ini sering banget bikin hal wagu selama Ramadan. Beberapa di antaranya adalah sweeping warung dan imbauan untuk menutup warung pakai tirai. Iya, nutup warung pakai tirai terus kalau ada orang makan kelihatan kakinya doang itu, lho.

Sebagai salah satu bagian dari golongan mayoritas, kadang saya malu. Ya gimana nggak malu, teman saya itu nggak cuma berasal dari berbagai suku dan etnis, tetapi juga berbagai latar belakang agama dan kepercayaan. Artinya, tidak semuanya punya kewajiban berpuasa ketika Ramadan datang.

Ketika tiba saat bulan Ramadan, saya sering sekali mendengar mereka saling ngobrol dan sharing warung-warung mana saja yang masih buka kalau siang. Saking sulitnya, tak jarang mereka kemudian terpaksa langganan katering yang harganya mahal. Atau beberapa yang kurang beruntung malah harus ikut antre beli makan sahur supaya bisa sarapan. Rasanya saya pengin minta maaf kepada mereka, atas nama mayoritas yang serba superior ini.

Meski demikian, saya juga tidak bisa berbuat banyak. Mau gimana lagi, sweeping dan penutupan warung pakai tirai itu kayaknya sudah jadi budaya Ramadan kita, deh. Sama kayak mudik lebaran atau sebar-sebar larangan mengucapkan natal. Kalau tidak dilakukan kayak kurang sempurna aja Ramadan-nya. Sudah mendarah daging gitu.

Namun sebenarnya, apa sih yang ingin dicapai dari penutupan warung makan ini? Biar yang puasa nggak tergoda? Kalau memang itu tujuannya, sebenarnya yang harusnya dilakukan bukan nutupin warung pakai tirai, tapi bagi-bagi penutup mata buat orang puasa supaya nggak lihat warung buka. Jika diumpamakan latihan sepak bola dan tujuannya menciptakan gol nih, masak iya yang dilebarin gawangnya? Harusnya skill pemain dong yang dilatih? Skill kita sebagai orang yang berpuasa justru harusnya dilatih, bukan warungnya yang ditutup.

Lagian logikanya gini, kita ini kan diperintahkan berpuasa, yang artinya menahan diri dari hawa nafsu dan keinginan bendawi. Iya, kan? Namanya menahan itu pasti ada rintangannya, toh? Nah, kalau rintangan berupa warung buka itu ditiadakan, kita ini puasa dari apa? Jadinya bukan kita yang berpuasa, tapi para pemilik warung dan orang-orang yang berhak untuk makan berpuasa menahan diri dari emosi dan berlatih sabar terhadap tantangan baru mereka, yaitu kita-kita ini, orang-orang gampang lapar yang nggak bisa lihat warung buka.

Padahal, salah satu hikmah berpuasa adalah untuk membuat kita bisa merasakan perjuangan orang lain untuk memperoleh asupan makanan yang cukup setiap harinya. Gampangnya, supaya kita latihan dan merasakan bagaimana rasanya menderita. Lha kalau karena kita puasa lalu warung-warung kita suruh tutup, bukan kita yang latihan menderita tapi para pemilik warung dan customer-nya yang jadi menderita karena kita. Yah, tapi gimana mau ngomongin hikmah kalau puasa kita masih sebatas lihat makanan lalu ingin batal.

Saya rasa, kebiasaan aneh ini muncul dari salah kaprahnya kita mencari jalan untuk meningkatakan kualitas ibadah puasa. Kita beranggapan dengan tindakan-tindakan preventif seperti penutupan warung itu akan meningkatkan kualitas ibadah puasa kita. Namun kita lupa bahwa puasa itu upaya pro-aktif yang harus kita tingkatkan kualitasnya dengan rintangan-rintangan yang ada di depan mata.

Baca Juga:

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

Setidaknya jika kita berani untuk mulai menyadari bahwa warung-warung dan segala hal lain bisa tetap berjalan seperti biasa meskipun kita sedang berpuasa, kita jadi mengerti bahwa dunia ini akan tetap berputar dengan atau tanpa adanya kita. Sehingga, mestinya kitalah yang berkontribusi aktif terhadap terciptanya kebajikan di sekeliling kita. Bukannya malah menjadi pribadi yang narsis dan serba ingin dihargai keberadaannya.

Jadi ingat pesan Cak Nun tentang puasa, yang bagi beliau bisa dijadikan cerminan terhadap kedalaman penguasaan diri. Maka, seberapa dalamnya kita mampu menguasai dan mengendalikan diri kalau lihat warung buka saja masih gerah dan risih?

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2021 oleh

Tags: PuasaTerminal Ramadanwarung makan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Cuma Indomie yang Bisa Ngiklan Tanpa Munculin Wujud Mi

Cuma Indomie yang Bisa Ngiklan Tanpa Munculin Wujud Mi

26 April 2020
4 Warung Makan di Malang yang Buka Dini Hari Terminal Mojok

Sebaiknya Semua Warung Makan Menyediakan Daftar Menu Beserta Harga

18 Maret 2023
puasa

Lupa, Nikmat Terindah di Saat Puasa

2 April 2023
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa?

15 Mei 2020
Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo

Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo

28 Juli 2023
Pesan untuk Pemilik Warung yang Dikunjungi Food Vlogger terminal mojok.co

Pesan untuk Pemilik Warung yang Dikunjungi Food Vlogger

15 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

17 Juni 2026
Soal Budaya Makan, Jawa Miskin Mengenaskan di Depan Sumatra (Unsplash)

Sebagai Orang Jawa, Saya Merasa Miskin saat Tahu Orang Sumatra Tak Bisa Makan tanpa Lauk Ikan

13 Juni 2026
Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

17 Juni 2026
Tips bagi Mahasiswa Madura yang Kuliah di Surabaya agar Tetap Bahagia dan Tak Jadi Bahan Tertawaan

Tips bagi Mahasiswa Madura yang Kuliah di Surabaya agar Tetap Bahagia dan Tak Jadi Bahan Tertawaan

13 Juni 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam “Naik Kelas” Jadi Makin Diperhitungkan

18 Juni 2026
Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

18 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.