Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo

Martianus Wahyu Budiyanto oleh Martianus Wahyu Budiyanto
28 Juli 2023
A A
Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo

Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Anda mungkin bertanya-tanya, apa gunanya membandingkan warteg dengan warung makan biasa di Kota Solo? Pertama, jelas supaya saya punya tulisan yang terbit di Terminal Mojok. Anda semua tahu bagaimana Mojok sangat berpengaruh terhadap portofolio seorang penulis, kan?

Alasan kedua, baru sebulan lalu ada warteg yang buka di dekat rumah saya. Dan alasan terakhir karena saya belum pernah makan di warteg, makanya saya ingin mencicipinya.

Ini sebuah riset kecil-kecilan membandingkan warteg yang baru buka tersebut dengan dua buah warung makan biasa di Kota Solo. Tentu saya nggak akan membandingkan rasa masakannya, karena kalau soal itu pasti berkaitan dengan selera.

Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya-tanya, apakah sebelumnya nggak ada warteg di Kota Solo? Ada sih, tapi seperti yang sudah saya katakan di atas, warteg satu ini dekat dengan rumah saya. Kalau Anda tahu Jembatan Keris Tirtonadi, tinggal lurus ke utara 200 meteran, di kiri jalan Anda bakal menemukan warung tegal satu ini.

Warung makan pertama yang saya gunakan sebagai perbandingan berada persis di seberang warteg. Masih di tepi jalan raya yang sama, berhadap-hadapan dengan warteg. Foto warteg di bawah ini saya ambil saat sedang makan di warung makan ini. Sementara warung makan kedua posisinya dekat rumah saya, masuk ke dalam gang kampung, masih di Kota Solo.

Menu yang saya pesan di warteg dan warung makan di Kota Solo (Dokumentasi Pribadi)
Foto warteg dari warung makan langganan (Dokumentasi Pribadi)

Harga makanan di warteg dan warung makan di Kota Solo

Meski saya sudah empat kali makan di warteg dekat rumah tersebut, supaya riset ini seimbang, saya mengambil sampel makanan yang menurut saya cukup setara. Menunya adalah nasi sayur dengan telur dadar, dan segelas air es. Di warteg dan warung makan kedua, sayurnya sama, yaitu terong balado. Sayangnya, di warung makan pertama nggak ada terong balado, sehingga saya pun mengambil oseng tempe. Sebenarnya saya berharap harga makanan di warteg bisa sedikit lebih murah.

Harga nasi sayur, telur dadar, dan air es di ketiga tempat yang saya datangi tak ada perbedaan. Baik di warteg maupun di warung makan pertama dan kedua harganya sama, yakni Rp12.000. Padahal di warung makan pertama dan kedua saya sudah berlangganan sekitar 5 tahun, lho. Artinya, soal harga, ketiga tempat makan ini menetapkan standar yang sama.

Menu yang saya pesan di warteg dan warung makan di Kota Solo (Dokumentasi Pribadi)
Menu yang saya pesan di warteg dan warung makan di Kota Solo (Dokumentasi Pribadi)

Luas area dan jam operasional

Kalau soal luasnya, warteg pemenangnya. Warung makan pertama jelas kalah karena cuma berupa warung makan tenda di pinggir jalan. Sebenarnya pemilik warung menyediakan meja dan kursi juga, tapi paling banyak cuma bisa diisi enam orang dewasa. Sepanjang pengamatan saya selama berlangganan di warung makan ini, lebih banyak orang yang membeli makanan untuk dibawa pulang.

Baca Juga:

Warteg, Representasi Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

Ukuran warteg yang terletak di seberangnya sekitar tiga kali lipat lebih luas daripada warung makan tenda ini. Tentu dengan area yang luas, warteg bisa menampung lebih banyak pelanggan. Sementara warung makan kedua juga nggak terlalu luas karena lokasinya di rumah dan di dalam kampung. Pelanggan yang datang ke sini bisa saja sih makan langsung di tempat, tapi maksimal hanya menampung delapan orang.

Seperti kebanyakan warung tegal lainnya, jam buka warteg di Kota Solo ini juga 24 jam. Sementara warung makan pertama baru buka mulai pukul 16.00 WIB sampai habis. Sebenarnya warung makan ini cukup laris karena saya pernah melihat warung ini sudah tutup pukul 20.00 WIB. Namun kadang juga buka hingga malam, tapi tak pernah lebih dari pukul 22.00 WIB. Sementara warung makan kedua buka mulai pukul 05.00 WIB sampai 15.00 WIB.

Makanan yang disajikan

Kalau untuk jenis makanan, sekali lagi saya harus mengatakan warung tegal menang karena jenis sayur dan lauk yang ditawarkan cukup berlimpah. Di warung makan pertama yang saya datangi hanya menjual lima jenis sayur dengan beberapa lauk. Namun, warung makan ini cukup banyak dicari pelanggan karena menyediakan jenang atau bubur. Jenang terik tahu telur dan jenang gudeg sambel goreng jadi menu yang paling banyak dicari di sini.

Sementara itu di warung makan kedua setidaknya tersedia sepuluh jenis sayuran. Tapi, lauk yang dijual biasanya hanya ayam goreng, telur goreng, dan tahu tempe. Selepas makan siang, malah seringnya hanya tersisa dua jenis sayur di sini.

Bagi penikmat makanan murah seperti saya, kehadiran warteg tentu sangat membahagiakan. Namun kalau warteg akan memperbanyak jumlahnya di Kota Solo, saya rasa masih belum bisa mendominasi kuliner murah di sini.

Kemarin saya sempat berbincang dengan penjual di warung makan pertama. Saya bertanya pada beliau, apakah kehadiran warteg 24 jam di seberang warungnya bikin pendapatannya menurun. Ibu ini kemudian menjawab, “Ora ki, Mas. Wis duwe pelanggan dhewe-dhewe. Lagian rezeki kuwi wis diatur Gusti.” Jawaban itu membuat saya yakin, bahwa walaupun banyak bisnis kuliner yang gulung tikar, warung makan kecil seperti ini akan tetap dicintai banyak orang dan bertahan.

Penulis: Martianus Wahyu Budiyanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kota Solo, Sebaik-baiknya Kota untuk Menetap.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2023 oleh

Tags: Kota Solowartegwarung makan
Martianus Wahyu Budiyanto

Martianus Wahyu Budiyanto

Seorang bapak sekaligus suami yang suka mengajar dan suka dengan menulis.

ArtikelTerkait

4 Alasan Orang Tegal Malah Jarang Makan di Warteg (Shutterstock)

4 Alasan Orang Tegal Malah Jarang Makan di Warteg

19 Maret 2023
Hal-hal yang Dirindukan dari Warung Makan Zaman Dulu terminal mojok

Hal-hal yang Dirindukan dari Warung Makan Zaman Dulu

5 Juni 2021
Jalan Slamet Riyadi Solo Tidak Seindah Dulu, Sudah Tak Nyaman Dilalui dan Bikin Waswas

Jalan Slamet Riyadi Solo Tidak Seindah Dulu, Sudah Tak Nyaman Dilalui dan Bikin Waswas

18 Oktober 2025
Makan di Warteg Harusnya Menduduki Puncak Klasemen Rekomendasi Kuliner terminal mojok.co

Makan di Warteg Harusnya Menduduki Puncak Klasemen Rekomendasi Kuliner

11 Oktober 2020
5 Rekomendasi Menu Warteg Populer buat Vegetarian Terminal Mojok

5 Rekomendasi Menu Warteg Populer buat Vegetarian

12 November 2022
3 Sate Kambing Enak di Solo Menurut Warlok, Dijamin Menggoyang Lidah

3 Sate Kambing Enak di Solo Menurut Warlok, Dijamin Menggoyang Lidah

11 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online Mojok.co

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

9 Juni 2026
4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia Mojok.co

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

10 Juni 2026
Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

6 Juni 2026
6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang Mojok.co

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang

7 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
Kenapa Makan Mie Instan Tengah Malam Terasa Lebih Nikmat? (Unsplash)

Kenapa Ya, Makan Mie Instan Menjelang Tengah Malam Terasa Lebih Nikmat?

11 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.