Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Anak Sulung dan Harapan yang Kadang Merepotkan

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
28 Januari 2020
A A
Anak Sulung dan Harapan yang Kadang Merepotkan
Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi anak sulung atau anak yang dilahirkan di posisi pertama memang luar biasa. Tidak hanya rasa bangga berada di posisi pertama saat dilahirkan. Menjadi anak pertama tentu saja menjadi makhluk spesial yang sering kali permintaannya selalu dituruti (sebelum yang namanya adik hadir). Namun jangan dikira menjadi anak pertama itu mudah dan menyenangkan. Banyak tekanan yang didapat, banyak harapan disampirkan di pundak, dan banyak kesalahan adik yang dilampirkan ke wajah anak-anak sulung.

Alasannya? Karena lebih tua, dewasa, hingga dianggap lebih bijaksana. Ini tidak menyoal keluhan betapa sulitnya menjadi anak sulung. Namun lebih dari itu, ini adalah sebuah kebanggaan menjadi anak pertama karena bisa menjalani sebuah proses yang 11-45 sama latihannya agen Mossad. Ya memang tidak ada hubungannya. Tapi satu yang seharusnya bisa ditangkap oleh kita semua bahwa jadi agen Mossad itu sulit, begitu pula jadi anak sulung (katanya).

ADVERTISEMENT

Tetapi bagaimanapun sulitnya menjadi anak sulung. Pengalaman dan pola asuh yang dirasakan anak pertama memang sebanding dengan hasilnya. Yang kalau boleh saya sebut jika anak pertama berhasil lulus dari proses tempaan (pola asuh khusus oleh orang tua) maka ia akan menjadi manusia bijaksana yang sangat berbelas kasih dan tanpa celah.

Mengapa hal itu terjadi? Bagaimana tidak bijak dan penuh belas kasih. Anak sulung sedari kecil sudah ditempa (diberikan pola asuh khusus) dengan ditanami mindset harus menjadi pemimpin, harus mengalah, harus bersikap adil, hingga harus menjadi mandiri. Apalagi jika anak sulung ini sudah memiliki adik. Bertambahlah apa yang ditanamkan dalam mindset anak sulung. Mulai dari diperingatkan untuk tidak cengeng, tidak manja, mau mengakui kesalahan yang sebenarnya dilakukan adiknya, hingga yang paling umum adalah ajaran untuk, “Jangan pernah bersikap buruk, nanti adik ngikutin kamu.”

Selain diberikan ajaran dan harapan yang sangat luar biasa. Anak sulung juga dijadikan prototype manusia sempurna untuk adik-adiknya. Kalau mau baik, lihat kakakmu. Kalau adik tidak baik, yang dijadikan kambing hitam sering kali kakaknya. Anak pertama adalah model percontohan yang perannya sudah semacam presiden. Kalau ada kelakuan rakyat yang aneh-aneh, semua salah presiden.

Sama halnya kalau adik melakukan hal aneh, yang sering disalahkan adalah si sulung karena tidak mencontohkan perilaku yang baik kepada si adik. Semua yang diajarkan dan dibebankan orang tua kepada anak sulung itu pada akhirnya jika memang benar-benar diserap akan melahirkan seorang manusia sempurna yang tanpa celah. Tapi ini jika memang benar-benar diserap dengan baik. Karena faktanya  di dunia ini tidak ada manusia sempurna. Maka satu yang bisa diambil hikmahnya adalah ternyata menjadi manusia sempurna itu susah, begitulah kira-kira gerutuan si sulung kepada si bungsu.

Ketika menjadi manusia sempurna ternyata susah bagi anak-anak sulung. Itu bukan berarti semua tempaan (pola asuh khusus), harapan, dan tanggung jawab yang didapat anak pertama akan pudar tak berbekas. Justru semua hal tersebut bisa menggumpal menjadi sebuah kepribadian yang membentuk para anak pertama menjadi oknum manusia yang lebih baik. Jiwa kepemimpinan lahir, sifat mandiri terbentuk, dan kuatnya mental terasah.

Anak sulung adalah simbol kesempurnaan yang sejatinya tidak bisa diraih tapi selalu ingin dicapai oleh para orang tua. Padahal ujung-ujungya semua kembali kepada diri manusia masing-masing, bukan kepada anak pertama masing-masing. Tapi ini semua bukanlah penderitaan. Semua tempaan dan harapan adalah inisiasi yang harus dilewati oleh anak-anak sulung di manapun keberadaannya. Dan itu bukanlah hal yang buruk. Semua orang tua pastilah paham kapasitas anak pertama mereka. Maka dari itu para orang tua selalu memberikan ajaran dan tempaan yang agak lebih kepada anak sulungnya. Tidak peduli anak sulung itu bisa menerima atau tidak, yang penting orang tua yakin saja dulu. Tentu ini harus dimaklumi. Karena semua itu demi satu hal, kebaikan.

Baca Juga:

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

Lantas, apakah menjadi anak sulung merepotkan? Tentu saja tidak. Menjadi anak sulung tidak merepotkan. Yang merepotkan itu ketika disuruh menjadi manusia sempurna yang tanpa celah dan diharapkan menjadi gerbang pembuka kesuksesan dalam keluarga. Kadang itu merepotkan. Tapi apa daya, anak sulung sudah seperti simbol kebaikan hakiki yang harus berperan layaknya Nabi di depan adik-adiknya. Yang pada kenyataannya sangat sulit dan 99% memang mustahil dilakukan.

Anak sulung, tanggung jawab lebih, harapan yang besar, dan model percontohan adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Tidak untuk mengglorifikasi bahwa jadi anak pertama itu repot, ribet, dan bebannya gede. Hanya sebagai pengingat saja, segede-gedenya tanggung jawab anak sulung dan betapa pun merepotkannya menjadi anak pertama, tetap lebih sulit menjadi orang tua, ujar Bapak dan Ibu saya.

BACA JUGA Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang? atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2020 oleh

Tags: anak sulungOrang Tuapola asuh
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

Jenis-jenis Orang Tua Saat Menghadapi Kenakalan Anaknya terminal mojok

Jenis Orang Tua Saat Menghadapi Kenakalan Anaknya

26 Mei 2021
Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese

Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese

8 Juli 2023
Memakaikan Perhiasan Emas pada Anak Tak Lebih dari Kebodohan Orang Tua terminal mojok

Memakaikan Perhiasan Emas pada Anak Tak Lebih dari Sekadar Kebodohan Orang Tua

7 Agustus 2022
30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang Mojok.co

30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang

14 Juni 2024
Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua! operasi otak

Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua!

29 Februari 2024
warisan balas budi kepada orang tua mojok

Kita Tidak Perlu Sok Dewasa di Depan Orang Tua

24 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026
Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah  Mojok.co

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

7 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian Mojok.co

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.