Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Memahami Makna dari Likuran, Selawe, Seket, dan Sewidak yang Berhubungan dengan Siklus Hidup

Aly Reza oleh Aly Reza
29 April 2020
A A
siklus hidup

Memahami Makna dari Likuran, Selawe, Seket, dan Sewidak yang Berhubungan dengan Siklus Hidup

Share on FacebookShare on Twitter

Masyarakat Jawa ternyata punya cara mudah untuk membaca siklus hidup. Kalau mau nikah itu di usia berapa pantesnya, mengejar karir itu kalau sudah menginjak usia berapa, atau bahkan fase untuk benar-benar fokus beribadah pun sudah dikira-kira.

Masyarakat Jawa percaya bahwa kabeh ana wayahe dewe-dewe (semua ada masanya sendiri-sendiri). Untuk itu, masyarakat Jawa terbilang hati-hati betul dalam menentukan langkah dan resolusi hidup yang akan diambil. Karena mleset sedikit saja, alih-alih beruntung, bisa jadi kesengsaraan dan aral melintang yang bakal dijumpai.

Metode unik yang digunakan orang Jawa adalah dengan membedah kreta basa (asal kata) dari angka-angka yang mereka kenal. Satuan angka tersebut nantinya akan digunakan sebagai acuan untuk hidup sesuai wayahan (momentum atau siklus). Pemilihan kreta basa pada angka tidak lain karena angka merupakan lambang dari usia, dan usia melambangkan siklus hidup yang ditempuh manusia selama bernafas di dunia. Selain itu, permainan kata dalam kreta basa di sini juga sangat berpengaruh dan lebih masuk bagi nalar orang Jawa ketimbang dengan memaparkan teori-teori ilmiah seputar gejala reproduksi, faktor ekonomi, maupun fenomena psikologi yang menjadi unsur kuat dalam satuan angka yang akan kita kupas.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa ada satuan angka yang bisa dibilang menyimpang dari pola yang sudah umum. Satuan-satuan tersebut antara lain, likuran, selawe, seket, dan sewidak. Dari satuan-satuan inilah masyarakat Jawa memperkirakan siklus-siklus hidup manusia yang harus dijalani dengan hati-hati. Penasaran? Berikut bisa disimak paparannya.

Pertama: Satuan Angka Likuran

Likuran dalam tradisi Jawa merujuk pada bilangan di atas dua puluh; dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, hingga dua puluh sembilan. Seandainya mengikuti pola dalam bahasa Indonesia, seharusnya angka-angka tersebut bakal dibaca oleh orang Jawa dengan, rong puluh siji untuk dua puluh satu, rong puluh loro untuk dua puluh dua, rong puluh telu untuk dua puluh tiga, dan rong puluh sanga untuk dua puluh sembilan.

Namun, dalam bahasa Jawa aturannya menyimpang yakni menjadi likur, bukan puluh untuk menunjukkan satuan puluhan. Masing-masing menjadi, selikur, rolikur, telulikur, dan sangalikur.

Kreta basa (asal kata) dari likur adalah, li: linggih/lingguh (duduk) dan kur; kursi (kursi). Jika disatukan maka berarti linggih ing kursi (duduk di atas kursi). Frasa ini memberi petunjuk, bahwa pada rentang usia 21-29 tahun adalah usia di mana seseroang berada dalam fase terbaik  untuk meniti jenjang karirnya. Linggih ing kursi (duduk di atas kursi) merupakan perlambang seseorang sedang mendapat “tempat duduk” atau “kedudukan”.

Maka sangat disarankan, seseorang yang telah menginjak usia ini haruslah telaten menggeluti pekerjaan yang diemban. Atau kalau masih berjibaku di dunia pendidikan, ya upayakan untuk belajar dengan tekun. Karena apa yang seseorang lakukan di usia ini bisa jadi menentukan tingkat kemapanannya di masa yang akan datang.

Baca Juga:

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang

Kedua: Satuan Angka Selawe

Di antara angka 21 sampai 29, ada satu satuan angka yang ternyata lain dari yang lain. Selawe ditujukan untuk menyebut angka 25. Seandainya angka ini mengikuti pola yang sama seperti angka-angka lainnya, pastilah menjadi limanglikur. Setelah ditelisik dari kreta basa-nya, Selawe merupakan pecahan dari tiga unsur kata yaitu, se: seneng-senenge (suka-sukanya), la: lanang (lelaki), dan we: wedok (perempuan). Menunjukkan kalau di usia ini adalah usia yang tepat untuk menjalin hubungan saling suka antar lawan jenis. Itulah kenapa orang Jawa lumrahnya akan memberi restu menikah pada anaknya kalau sudah berada di usia ini.

Beberapa pakar menyebut, usia ideal untuk menikah adalah di kisaran angka 20-an sampai 30-an. Atau dengan kata lain, ketika seseorang sudah menginjak di rentang usia likuran di mana selawe (25 tahun) termasuk di dalamnya.

Secara psikologis, pada rentang usia tersebut seseorang dinilai sudah memiliki bekal mental yang baik dan kedewasaan dalam berpikir. Hal ini tentu penting untuk menentukan mau dibawa ke arah mana rumah tangga mereka? Sangat nggak dianjurkan kalau menikah di bawah usia tersebut mengingat usia-usia remaja belasan tahunan adalah masa-masa labil dan cenderung emosional. Beda prinsip sedikit saja sama pasangan, salah-salah berujung perceraian.

Sementara jika dilihat dari aspek biologis, di usia tersebut hormon dan organ reproduksi lelaki maupun perempuan bisa dibilang sedang matang-matangnya sehingga siap untuk membuahi dan dibuahi.

Bagi perempuan, tulang dan otot panggul sudah tumbuh secara sempurna dalam usia ini. Sehingga siap untuk melakukan proses persalinan. Artinya, tubuh si perempuan sudah benar-benar siap. Kalau di bawah usia tersebut, tubuh perempuan sebenarnya berada dalam kondisi belum siap untuk dibuahi. Kesehatan dan keselamatan antara ibu dan anak sangat dipertaruhkan untuk urusan yang satu ini.

Karena masih bagian dari jajaran likur, angka 25 juga diidentikkan dengan kesiapan seseorang untuk membina rumah tangga karena sudah bisa linggih ing kursi (mapan). Seseorang dinilai sudah cukup mapan dan memiliki bekal cukup secara finansial, karena pada dasarnya rentang usia tersebut adalah fase produktif seseorang dalam meniti karir atau ihwal pekerjaan.

Kata mapan untuk konteks ini bisa juga diartikan sudah bisa bertanggungjawab. Karena orang yang sudah diberi kursi haruslah berlaku demikian. Baik tanggungjawab dalam bentuk psikologis, keuangan, maupun urusan kesehatan reproduksi masing-masing. Kalau yang ini biar Mbak Kalis saja yang ngejelasin heuheuheu.

Ketiga: Satuan Angka Seket dan Sewidak

Dalam bilangan Jawa, untuk menunjuk satuan puluhan mestinya tetap menggunakan imbuan puluh, seperti dalam kaidah bahasa Indonesia. Contoh: dua puluh, lima puluh, enam puluh dst. Tapi dalam bahasa Jawa ada pengecualian di dua angaka tengah bilangan puluhan yaitu, lima puluh dan enam puluh. Kalau mengikuti pola umum, maka akan menjadi limang puluh dan enem puluh. Tapi dalam Jawa, 50 disebut seket, sementara 60 adalah sewidak.

Seket tersusun dari se: seneng (gemar) dan ket: kethonan/ketunan (kethu/kopiah). Usia 50 tahun adalah usia di mana seseorang akan lebih gemar mengenakan kethu/kopiah. Entah untuk sekadar menutup uban di kepala atau bisa juga diartikan sebagai simbol mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena kopiah lumrahnya dipakai untuk ibadah. Di usia ini seseorang akan lebih memperbanyak merenung dan beribadah karena usia hidupnya di dunia diperkirakan sudah nggak panjang lagi. Kalau kata orang Jawa; wis mambu lemah (sudah bau tanah).

Nggak lama kemudian akan masuk pada usia sewidak. Se: sejatine (sejatinya), wi: wis (sudah), dan dak; tindak (pergi). Makna utuhnya: sejatine wis wayahe tindak (sejatinya sudah waktunya pergi). Maksud dari frasa ini nggak salah lagi, jelas adalah kematian. Usia 60 tahun dianggap sebagai usia penghabisan bagi manusia. Dalam kepercayaan umat Islam, usia ini merujuk pada usia junjungan Nabi Agung Muhammad yang wafat di kisaran angka 60-an.

Dengan menggunakan kreta basa tersebut, sangat diharapkan seseorang akan lebih gampang memahami siklus hidup dirinya sendiri; mengikuti wayahan (momentum) yang tepat untuk melakukan sesuatu. Tujuannya jelas: agar terhindar dari hal-hal yang nggak diinginkan. Paling tidak meminimalisir lah. Karena sejatinya mencegah lebih baik dari mengobati.

BACA JUGA Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 April 2020 oleh

Tags: masyarakat jawaorang jawasatuan hitungan
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Ilmu Titen dan Mitos Jawa Itu Beda, Jangan Dipukul Rata terminal mojok.co

Ilmu Titen dan Mitos Jawa Itu Beda, Jangan Dipukul Rata

11 Juli 2021
Tradisi Ater-ater di Momen Ramadan yang Menguntungkan Sekaligus Merugikan. #TakjilanTerminal18

Tradisi Ater-ater di Momen Ramadan yang Menguntungkan Sekaligus Merugikan. #TakjilanTerminal18

21 April 2021
Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
Mengenal Malam Satu Suro, Malam yang Terkenal Mistis bagi Orang Jawa Mojok.co

Kemistisan Malam Satu Suro Ditakuti Orang Jawa, Tidak Boleh Berpesta hingga Perlu Melakukan Ritual

26 Juni 2025
mewartakan orang meninggal

Ragam Cara Orang Jawa Mewartakan Orang Meninggal dan Nilai Sufisme di Dalamnya

21 April 2020
Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang Mojok.co

Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang

8 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.