Berbicara soal bioskop, kebanyakan orang akan langsung berpikir pada jaringan bioskop XXI yang hampir ada di tiap mal berbagai daerah. Tidak terkecuali di Semarang. Warlok akan langsung meluncur ke bioskop XXI ketika hendak menonton film terbaru. Begitu pun saya sempat menjadi pelanggan setia XXI.
Akan tetapi, beberapa waktu belakang, saya mulai melipir ke Cinepolis. Di Semarang, jaringan bioskop ini hanya ada satu yakni di Java Mall.
Jujur saja, Java Mall bukanlah mal yang sering jadi rujukan utama warga Semarang. Bangunannya terkesan tua. Bahkan, boleh dibilang, mal ini sudah lewat masa jayanya.
Keputusan saya hijrah dari bioskop XXI ke Cinepolis bukan karena drama aturan larangan membawa tumbler di XXI yang sempat jadi topik hangat. Ada alasan lain yang jauh lebih personal dan mendasar hingga rela menempuh perjalanan menuju gedung tua Java Mall dibanding menonton di bioskop yang lebih modern dan populer di pusat kota.
#1 Era sudah digital, XXI tetap mewajibkan cetak tiket meski beli online
Di zaman yang serba instan ini, keharusan antre buat cetak tiket fisik di XXI rasanya seperti peninggalan purba yang kurang kerjaan. Padahal, saya sudah capek-capek memesan via aplikasi agar praktis. Eh, sampai bioskop tetap saja harus berdiri di depan mesin cetak tiket.
Berbeda dengan Cinepolis yang saya rasa lebih maju. Mereka justru menyarankan pelanggan untuk nggak perlu cetak tiket apapun kalau sudah memesan lewat aplikasi. Kalau mau memesan on the spot pun, ada mesin jual otomatis yang bisa dioperasikan langsung oleh calon penonton sehingga mengurangi antrean di kasir.
Alhasil, saya jadi mulai meragukan efektivitas aplikasi m-tix milik XXI. Jangan-jangan, pengelola XXI memang nggak pernah benar-benar berniat mendukung kampanye ramah lingkungan dengan tulus. Buktinya, selain kebijakan soal tumbler yang rasanya masih setengah hati, urusan sistem tiket digital yang jauh lebih krusial saja mereka belum terlihat totalitas.
#2 Biaya admin pembelian tiket via aplikasi di Cinepolis lebih ramah di kantong
Kalau bicara soal efisiensi pengeluaran, selisih biaya admin aplikasi memang terlihat receh kalau dihitung sekali. Tapi, buat penonton yang cukup rutin seperti saya, akumulasi biaya admin yang lebih masuk akal di Cinepolis jelas terasa bedanya. Di Cinepolis, biaya admin dipatok 10% dari harga tiket, yang kalau di Semarang jatuhnya cuma Rp3.500 per kursi.
Sebaliknya, m-tix mematok biaya admin flat Rp4.000 per kursi tanpa peduli harga tiketnya berapa. Memang, skema ini bakal lebih menguntungkan kalau seseorang mau menonton di akhir pekan atau menjajal Studio Premiere. Namun, untuk hari biasa dengan harga tiket Rp30.000 hingga Rp40.000, skema flat itu terasa kurang adil.
Betul bahwa XXI memang menawarkan opsi bebas biaya admin. Tapi ingat, ada syaratnya, penonton harus beli snack juga lewat aplikasi. Jujur saja, menurut saya pribadi, sistem biaya admin berbasis persentase yang diterapkan Cinepolis jauh lebih adil.
#3 Harga minuman Milo di Cinepolis yang nggak menguras isi dompet
Sudah jadi rahasia umum kalau harga jajan di bioskop itu memang sering bikin boncos. Tapi, untuk urusan Milo, minuman wajib saya tiap nonton, Cinepolis jelas lebih pengertian. Mereka menyediakan dua pilihan ukuran dengan harga yang masuk akal. Ukuran medium dibanderol Rp35.000 per gelas. Sementara ukuran large dihargai Rp40.000 per gelas.
Bandingkan dengan XXI yang mematok harga Rp55.000 per gelas. Bedanya, mereka melabelinya sebagai Milo Dinosaur, sebuah embel-embel yang menurut saya nggak ada perbedaan signifikan atau bikin rasanya jadi lebih ajaib. Sedihnya lagi, dengan harga yang jauh lebih mahal itu, porsinya ternyata cuma setara dengan ukuran medium di Cinepolis.
Keputusan saya untuk setia nonton di Cinepolis memang bukan tentang mencari kemewahan. Tapi, murni soal preferensi. Bagi saya, Cinepolis berhasil menjawab kebutuhan dasar penonton yang hanya ingin duduk tenang, mengunyah popcorn enak, dan menikmati film dengan hati yang tetap damai.
Penulis: Paula Gianita
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













