Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
19 Juli 2026
A A
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Berbicara soal bioskop, kebanyakan orang akan langsung berpikir pada jaringan bioskop XXI yang hampir ada di tiap mal berbagai daerah. Tidak terkecuali di Semarang. Warlok akan langsung meluncur ke bioskop XXI ketika hendak menonton film terbaru. Begitu pun saya sempat menjadi pelanggan setia XXI.

Akan tetapi, beberapa waktu belakang, saya mulai melipir ke Cinepolis. Di Semarang, jaringan bioskop ini hanya ada satu yakni di Java Mall. 

ADVERTISEMENT

Jujur saja, Java Mall bukanlah mal yang sering jadi rujukan utama warga Semarang. Bangunannya terkesan tua. Bahkan, boleh dibilang, mal ini sudah lewat masa jayanya.

Keputusan saya hijrah dari bioskop XXI ke Cinepolis bukan karena drama aturan larangan membawa tumbler di XXI yang sempat jadi topik hangat. Ada alasan lain yang jauh lebih personal dan mendasar hingga rela menempuh perjalanan menuju gedung tua Java Mall dibanding menonton di bioskop yang lebih modern dan populer di pusat kota.

#1 Era sudah digital, XXI tetap mewajibkan cetak tiket meski beli online

Di zaman yang serba instan ini, keharusan antre buat cetak tiket fisik di XXI rasanya seperti peninggalan purba yang kurang kerjaan. Padahal, saya sudah capek-capek memesan via aplikasi agar praktis.  Eh, sampai bioskop tetap saja harus berdiri di depan mesin cetak tiket.

Berbeda dengan Cinepolis yang saya rasa lebih maju. Mereka justru menyarankan pelanggan untuk nggak perlu cetak tiket apapun kalau sudah memesan lewat aplikasi. Kalau mau memesan on the spot pun, ada mesin jual otomatis yang bisa dioperasikan langsung oleh calon penonton sehingga mengurangi antrean di kasir.

Alhasil, saya jadi mulai meragukan efektivitas aplikasi m-tix milik XXI. Jangan-jangan, pengelola XXI memang nggak pernah benar-benar berniat mendukung kampanye ramah lingkungan dengan tulus. Buktinya, selain kebijakan soal tumbler yang rasanya masih setengah hati, urusan sistem tiket digital yang jauh lebih krusial saja mereka belum terlihat totalitas.

#2 Biaya admin pembelian tiket via aplikasi di Cinepolis lebih ramah di kantong

Kalau bicara soal efisiensi pengeluaran, selisih biaya admin aplikasi memang terlihat receh kalau dihitung sekali. Tapi, buat penonton yang cukup rutin seperti saya, akumulasi biaya admin yang lebih masuk akal di Cinepolis jelas terasa bedanya. Di Cinepolis, biaya admin dipatok 10% dari harga tiket, yang kalau di Semarang jatuhnya cuma Rp3.500 per kursi.

Baca Juga:

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

Sebaliknya, m-tix mematok biaya admin flat Rp4.000 per kursi tanpa peduli harga tiketnya berapa. Memang, skema ini bakal lebih menguntungkan kalau seseorang mau menonton di akhir pekan atau menjajal Studio Premiere. Namun, untuk hari biasa dengan harga tiket Rp30.000 hingga Rp40.000, skema flat itu terasa kurang adil.

Betul bahwa XXI memang menawarkan opsi bebas biaya admin. Tapi ingat, ada syaratnya, penonton harus beli snack juga lewat aplikasi. Jujur saja, menurut saya pribadi, sistem biaya admin berbasis persentase yang diterapkan Cinepolis jauh lebih adil.

#3 Harga minuman Milo di Cinepolis yang nggak menguras isi dompet

Sudah jadi rahasia umum kalau harga jajan di bioskop itu memang sering bikin boncos. Tapi, untuk urusan Milo, minuman wajib saya tiap nonton, Cinepolis jelas lebih pengertian. Mereka menyediakan dua pilihan ukuran dengan harga yang masuk akal. Ukuran medium dibanderol Rp35.000 per gelas. Sementara ukuran large dihargai Rp40.000 per gelas.

Bandingkan dengan XXI yang mematok harga Rp55.000 per gelas. Bedanya, mereka melabelinya sebagai Milo Dinosaur, sebuah embel-embel yang menurut saya nggak ada perbedaan signifikan atau bikin rasanya jadi lebih ajaib. Sedihnya lagi, dengan harga yang jauh lebih mahal itu, porsinya ternyata cuma setara dengan ukuran medium di Cinepolis.

Keputusan saya untuk setia nonton di Cinepolis memang bukan tentang mencari kemewahan. Tapi, murni soal preferensi. Bagi saya, Cinepolis berhasil menjawab kebutuhan dasar penonton yang hanya ingin duduk tenang, mengunyah popcorn enak, dan menikmati film dengan hati yang tetap damai.

Penulis: Paula Gianita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Cinepolis Lippo Plaza Jogja, Bioskop yang Selama Ini Saya Hindari Ternyata (Lumayan) Nyaman, Bikin Pengin Nonton di Sana Lagi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2026 oleh

Tags: Bioskopbioskop semarangCinepolisSemarangXXI
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Terminal Bayangan Terboyo Semarang, Terminal Paling Berbahaya di Jawa Tengah

Terminal (Bayangan) Terboyo Semarang, Terminal Paling Berbahaya di Jawa Tengah

5 September 2024
Tembalang Semarang Terbuat dari Tumpukan Masalah, Bikin Nggak Betah Mojok.co

Tembalang Semarang Terbuat dari Tumpukan Masalah, Bikin Nggak Betah

27 Juni 2024
5 Kuliner Semarang yang Rasanya Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

5 Kuliner Semarang yang Rasanya Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

29 November 2024
Kabupaten Pati dan “3 Dosa” yang Membuat Saya Malas Pulang (Unsplash)

Rindu Pulang ke Kabupaten Pati, tapi Jalan Rusak, Banjir Rob, dan Pengendara Ugal-ugalan Bikin Malas Mudik

16 September 2023
Gedung Birao Tegal, Kembaran Lawang Sewu Semarang yang Bernasib Sial Mojok.co

Gedung Birao Tegal, Kembaran Lawang Sewu Semarang yang Bernasib Sial

8 Januari 2024
Kejayaan Bioskop Marina Tegal Tidak Bersisa, Kini Hanya Gedung Lapuk yang Hampir Ambruk Mojok.co

Kejayaan Bioskop Marina Tegal Tidak Bersisa, Kini Tinggal Gedung Lapuk yang Hampir Ambruk

4 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

19 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.