Ada satu petuah dari orang tua yang dari dahulu hingga sekarang masih menempel di kepala, yakni berhemat dan rajin menabung. Ketika saya dapat rezeki berupa uang, berapapun jumlahnya, orang tua saya selalu bilang, “Duite dihemat, ojo lali ditabung.”
Petuah atau imbauan orang tua saya untuk berhemat dan rajin menabung tentunya bukan tanpa alasan. Kita tahu bahwa berhemat dan menabung itu adalah semacam survival skill yang harus dimiliki oleh setiap manusia.
Orang yang punya kemampuan untuk berhemat dan menabung tentunya akan bisa bertahan lebih lama ketimbang orang yang nggak punya keduanya. Orang tua saya tentunya pengin anaknya punya kemampuan itu.
Alasan selanjutnya, saya dan orang tua saya bukan berasal dari keluarga yang berada. Ayah saya berasal dari keluarga petani, dan ibu saya berasal dari keluarga pensiunan ABRI dengan pangkat menengah. Nggak ada yang dari keluarga kaya berlebihan. Lalu ayah saya kerjanya jadi hanya jadi pegawai hotel, dan ibu saya jadi ibu rumah tangga.
Jadi, berhemat dan menabung benar-benar jadi kunci hidup keluarga saya.
Petuah sejak saya kecil hingga sekarang
Dari sekian banyak petuah orang tua, berhemat dan rajin menabung ini boleh jadi petuah pertama dari orang tua yang bisa saya ingat. Boleh jadi pula petuah ini jadi yang pertama yang diberikan kepada saya. Sebab, sedari saya kecil, saya kayak nggak pernah absen mendengar petuah ini dari orang tua saya.
Ketika dulu saya masih dapat “salam tempel” Lebaran, atau ketika saya masih disangoni sama kakek-nenek, om-tante, atau teman kerja ayah, kalimat pertama yang keluar dari orang tua saya adalah uangnya dihemat. Jangan lupa ditabung.
Boleh dipakai jajan atau dipakai buat beli mainan, tapi jangan semuanya. Harus ada yang ditabung. Biar nanti kalau pengin beli apa-apa, nggak bingung uangnya dari mana.
Petuah untuk berhemat dan menabung ini ternyata nggak hanya muncul ketika saya masih kecil. Ketika saya sudah dewasa, sudah bisa cari uang sendiri, petuah untuk berhemat dan menabung masih saja keluar dari mulut orang tua saya. Tiap dapat uang dari fee menulis atau proyekan lain, orang tua saya selalu mengimbau agar uangnya ditabung.
Petuah rajin menabung yang dulu kerap saya sepelekan
Sayangnya, petuah untuk berhemat dan rajin menabung ini kerap saya sepelekan. Apalagi waktu saya masih kecil, khususnya saat SD, petuah dari orang tua nyaris nggak pernah saya gubris.
Pokoknya ketika saya dapat uang, ya harus dipakai buat jajan, main ke rental PS, atau buat beli mainan. Persetan dengan berhemat, persetan dengan menabung.
Waktu kecil saya memang malas menabung. Orang tua saya pernah membelikan saya celengan buat saya nabung. Saya hanya beberapa kali mengisinya, lalu nggak pernah saya isi lagi.
Bahkan, ketika teman-teman SD saya pada nabung di sekolah (yang pakai buku tabungan itu), saya nggak ikut nabung. Sudah malas menabung, saya dulu juga boros pula. Pokoknya kalau dapat uang, pikiran saya langsung, “Buat beli apa, ya?” Nggak ada sama sekali pikiran buat menghemat uangnya, atau menabung uangnya.
Maka nggak heran kalau saya sering kena omel orang tua karena kelakuan saya yang boros dan malas menabung. Tapi, saya selalu beralasan, “kan ada ayah, kalau butuh apa-apa tinggal minta ayah.”
Benar-benar anak nggak tahu diri memang. Sudah tahu keluarganya jauh dari kata kaya, malah boros dan malas menabung, ngomong kayak gitu pula.
Semuanya berubah ketika ayah meninggal dan perekonomian keluarga anjlok
Waktu berlalu dan saya jadi orang yang nggak terbiasa untuk menabung, meskipun sudah nggak terlalu boros lagi. Namun, tetap saja, kalau ada apa-apa, tinggal minta ayah. Kalaupun ayah belum punya uang buat membelikan sesuatu, ya tinggal tunggu ayah punya uangnya.
Lalu, semua itu berubah ketika saya kelas 3 SMP, ayah meninggal dunia. Hancur, runtuh semua dunia saya. Pun dengan dunia keluarga saya. Tembok kokoh yang selama ini saya pakai untuk bersandar, tiba-tiba hancur tak bersisa. Setelahnya, ekonomi keluarga anjlok, dan nggak ada lagi yang bisa saya jagakan. Nggak mungkin saya minta apa-apa ke ibu.
Akibat peristiwa itu, saya mau nggak mau harus mengubah kebiasaan saya. Dan, kebiasaan yang sudah harus berubah adalah kebiasaan malas menabung. Saya harus mulai menabung, bahkan harus rajin menabung. Tentu saja nggak mudah, sebab sebelumnya saya nggak terbiasa dengan menabung. Tapi, mau nggak mau kebiasaan itu harus dimulai.
Menyesal mengapa nggak rajin menabung dan berhemat sejak dulu
Ternyata berhemat dan menabung itu nggak mudah. Godaannya banyak banget. Pengin beli ini, pengin beli itu. Belum lagi harga-harga kebutuhan makin naik, pendapatan malah nggak naik-naik. Tantangannya makin banyak. Makanya, sejak kelas 3 SMP sampai sekarang, saya masih kesusahan untuk rajin menabung. Bisa menabung, tapi makin hari makin susah aja rasanya.
Apalagi di masa sekarang, di bawah rezim busuk dan laknat yang perekonomiannya makin remuk ini, hidup jadi susah, nabung pun jadi makin susah. Apa yang mau ditabung?
Lha wong gaji cuma lewat saja. Sudah keburu habis buat beli kebutuhan dan bayar tagihan. Orang yang dari kecil punya kebiasaan nabung aja mengaku kalau sekarang makin susah, apalagi saya yang baru mulai budaya nabung di tengah jalan. Ya dobel susahnya.
Saya jadi sadar bahwa hidup hemat dan rajin menabung itu krusial banget. Melihat gimana berantakan dan freestyle-nya hidup saya sekarang, saya jadi ada perasaan menyesal mengapa nggak membiasakan hidup hemat dan rajin menabung dari dulu.
Mengapa saya nggak manut sama petuah orang tua saya dulu. Hidup hemat dan rajin menabung itu berguna banget, apalagi di situasi hidup yang sekarang ini.
Andai saja saya dulu manut sama petuah orang tua saya untuk hidup hemat dan rajin menabung, mungkin hidup saya sekarang bakal lebih tertata. Mungkin akan tetap susah karena sekarang kita hidup di bawah rezim busuk dan laknat, tapi saya akan lebih paham gimana cara mengatur keuangan dan cara bertahan hidup lebih lama. Gitulah, pokoknya.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













