Ini tips dari saya supaya kalian tetap bahagia sebagai mahasiswa Madura di Surabaya
Bisa memiliki identitas etnis/suku sebetulnya bisa menjadi hal yang harus disyukuri. Ya, di tengah masyarakat yang sudah sangat cair, orang yang jelas asal sukunya artinya punya identitas yang unik. Beda sama orang kota yang entah dari mana asalnya atau budayanya seperti apa. Nah, sementara orang yang memiliki suku, Madura misalnya, punya budaya yang jelas dan unik, contoh paling konkret yakni bahasanya.
Tapi sayang, identitas suku yang unik kadang bikin orang merasa terusik. Ada beberapa orang yang sensitif sama keberagaman, makanya mereka pengennya semua sama. Orang yang jelas asal-usul sukunya terkadang malah dijadikan bahan gelak tawa. Itulah yang saya rasakan sebagai orang Madura saat kuliah di Surabaya.
Maka dari itu, untuk mengurangi kejadian sama pada kalian mahasiswa Madura, berikut saya ceritakan apa saja yang perlu diperhatikan supaya terhindar supaya mengurangi kemungkinan jadi bahan candaan.
#1 Hindari memakai sarung ke area kampus, ini bukan Madura
Jangan samakan lingkungan kampus di Madura dengan Surabaya. Karena kampus di Madura banyak lahir dari yayasan pondok pesantren, maka maklum jika warga universitasnya banyak yang menggunakan sarung ke kampus, bahkan saat pembelajaran di kelas. Memakai sandal pun, kalian tidak akan diusir.
Nah, hal itu jangan kalian lakukan di kampus-kampus di Surabaya. Jangankan saat pembelajaran di kelas, nongkrong di taman kampus menggunakan sarung saja, kalian akan ditanggapi dengan gelak tawa oleh teman kalian nantinya.
Itulah yang saya rasakan dulu saat kuliah. Dulu, saya pernah ke kampus menggunakan sarung saat kerja kelompok. Saya sebetulnya sudah memprediksi respons mereka, tapi saya hanya penasaran saja bagaimana ekspresi aslinya. Ya, kebetulan, sebagai mahasiswa sosiologi, saya begitu menikmati respon beragam dari mereka saat melihat saya berani memakai sarung ke lingkungan kampus. Hehehe.
Ingat ya, ini hanya berlaku untuk mahasiswa yang suka pada analisis sosial seperti saya, terutama yang bermental baja. Kalau kalian nggak PD, jangan sekali-kali mencobanya.
#2 Jangan gunakan motor bodong
Agaknya, semua menyadari bahwa Madura itu kini telah mendapat stigma sebagai tempatnya para maling motor. Tentu, kita tidak tidak berhak menyimpulkan bahwa semua orang Madura demikian. Tapi, fakta di lapangan seperti menunjukkan fenomena itu.
Di Madura, banyak sekali motor-motor keluyuran yang tidak jelas identitasnya. Maksud saya yakni motor yang tidak ada plat nomornya. Kalau pun ada, pasti sudah melewati tenggat waktu membayar pajak. Kadang pula, motor yang demikian juga sudah tidak jelas bentukannya. Joknya tipis menurun ke depan, bannya kecil, knalpotnya nyaring, pokoknya sudah tak seperti awal mulanya.
Nah, kalian mahasiswa Madura, jangan pernah membawa motor seperti itu saat berkumpul bersama teman-teman kalian. Apalagi sampai di bawa ke lingkungan kampus. Meskipun itu kalian dapatkan secara halal, bisa jadi kalian akan dicurigai sebagai komplotan begal Madura. Hahaha.
#3 Hati-hati dengan bahasa yang digunakan
Kemudian, penggunaan bahasa juga penting untuk diperhatikan. Meskipun logat bahasa memang sangat mudah untuk mendeteksi asal suku seseorang, mengurangi gaya tertentu bisa meminimalisir perlakuan diskriminasi dari orang luar. Itulah yang banyak dilakukan teman-teman saya. Bahkan, mereka sampai berusaha menghilangkan logat Maduranya, meskipun tidak 100% berhasil.
Nah, bagi orang Madura, hal ini bisa dilakukan dengan mengurangi menyeret-nyeret bunyi kata dalam bahasa Indonesia. Saat menggunakan bahasa Indonesia, orang Madura memang cenderung menyeret bunyinya. Maka dari itu, ucapkanlah dengan nada lurus saja, jangan menyeret.
Seperti apakah suara diseret itu? Coba kalian dengarkan suara kura-kura yang ada dalam kartun Finding Nemo pada bagian “Oooo, dia masih hidup!”. Itulah pengucapan yang diseret-seret.
#4 Gabung komunitas mahasiswa Madura
Seperti sudah menjadi hukum alam, saat kita merantau, pasti akan datang perasaan untuk kembali ke asal. Hal ini bahkan muncul secara spontan, misalnya kita tiba-tiba menggunakan bahasa ibu kita secara tidak sengaja. Bahkan, kadang kita lupa keluar dari kosan masih dalam keadaan menggunakan sarung. Itulah yang sebut secara spontan.
Nah, bagi mahasiswa Madura yang belajar di Surabaya, kalian tidak harus 100% melepas identitas kalian. Untuk mengobati rindu pada kampung halaman, kalian bisa bergabung dengan komunitas mahasiswa di rantauan. Di situ kalian bebas berekspresi sebagaimana kalian orang Madura seountentik mungkin. Hehehe.
Jadi, jika kalian biasanya ditertawakan karena kalian Madura, di komunitas itu kalian bisa tertawa bersama karena kalian sama-sama Madura.
Ya, sekian tips dari saya supaya kalian tetap bahagia sebagai mahasiswa Madura di Surabaya. Tentu tips ini hanya saran, kalian pastinya juga punya cara masing-masing untuk tetap survive di rantau sebagai mahasiswa. Jadi, kalian boleh ikuti atau tidak saran ini. Intinya, tetap semangat untuk belajar ya!
Penulis: Syahrul
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













