Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dipanggil Polisi Bahasa Saja Tidak Pantas, Apalagi Kamus Berjalan

Ahmad Abu Rifai oleh Ahmad Abu Rifai
15 Juni 2019
A A
polisi bahasa

polisi bahasa

Share on FacebookShare on Twitter

Semenjak artikel saya berjudul Susahnya Jadi Mahasiswa Bahasa Inggris Konservatif terbit di Terminal Mojok, banyak orang menyebut saya polisi bahasa. Sejujurnya saya sudah cukup sering dipanggil seperti itu sebelumnya. Tetapi setelah artikel itu dimuat, intensitasnya bertambah. Saya bingung—bingung mau bersyukur atau sambat.

My Lord dan My Lady, pada titik tertentu naluri kebanggaan saya sering muncul karena—merasa—mirip Ivan Lanin. Saya merasa satu spesies dengan beliau yang begitu berwibawa. Dengan pengetahuan begitu luas, para jomblo sering membuat Twitter lebih berfaedah dengan bertanya padanya mana kata baku dan mana tidak. Misalnya, yang benar “jamrud” atau “zamrud”, “standard” atau “standar”, dan “kamu” atau “dia”. Menjadi mirip Ivan Lanin berarti membuat saya dikenal luas dan penting. Itu keren—setidaknya bagi saya.

Di sisi lain, panggilan polisi bahasa membuat saya kadang cukup risih. Bagaimana tidak, tiap ada orang yang salah mengucap atau menulis bahasa Inggris, mata setiap insan seolah langsung tertuju pada saya.

“Polisi bahasa, tuh sweeping!”

Idih, sweepang-sweeping. Kayak sobat gurun FPI aja!

Begini ya, pemirsa—saya beri tahu. Dalam tulisan sebelumnya, saya memang mengaku sering mengoreksi kesalahan penggunaan bahasa—terutama bahasa Inggris. Namun, yang perlu diingat, saya tak selalu melakukannya. Saya melihat kesalahan itu dilakukan di mana. Dan saat mencoba memberi tahu yang benar pun, saya lihat-lihat kondisinya.

Ketika ngasih tahu kesalahan gramatikal misalnya, hampir semua yang saya koreksi itu untuk keperluan acara atau surat-menyurat. Artinya, saya melakukannya untuk hal-hal penting dan cenderung formal, seperti penggunaan “present” yang rawan keliru di pamflet-pamflet acara.

Kawan-kawan  misqueen sekalian, coba bayangkan saat kalian bikin suatu acara dengan kata “present” yang melekat di pamflet. Niatnya sih ingin terlihat keren dengan cara keminggris meski cuma satu kalimat. Eh, akhirnya malah terlihat konyol karena secara tidak langsung menunjukkan kita tidak serius atau kompeten. Ironis banget nggak sih, gaes?

Baca Juga:

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Melihat kata salah kayak gitu, bagi orang konservatif kayak saya membuat rasa ketertarikan pudar—bahkan bisa hilang begitu saja. Bukan apa-apa. Khilaf memang hal yang tak bisa lepas dari manusia. Namun, mengapa kesalahan seperti itu tak bosan-bosannya kita lakukan? Padahal, masih banyak kesalahan lain yang belum kita coba. Kan sayang.

Acara tersebut barangkali keren, menghadirkan bintang tamu tingkat nasional bahkan internasional. Tapi, lagi-lagi, jika masih ada kesalahan penggunaan “present”, pasti sangat menjemukan. Itulah the power of first impression. Kalau kata pepatah: karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Hal ini berlaku pula untuk urusan surat-menyurat secara resmi. Masa iya mau kirim undangan ke orang penting kayak juri atau bintang tamu masih salah-salah grammar? Kan nggak asik tuh.

Jadi begitulah. Yang saya koreksi itu cenderung untuk urusan penting dan formal. Tidak semua hal. Saya tahu kok, aspek paling penting dalam bahasa itu bagaimana pesan kita bisa tersampaikan dengan baik. Maka dari itu, saya sangat jarang menegur kesalahan berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kalau saya tilang terus, bisa-bisa saya tak punya waktu luang buat bikin esai ini. Xixixi~

Yang perlu kalean tahu, saya juga memakai cara yang halus saat menegur. Saya tidak menghentikan tiba-tiba seperti oknum polisi saat kejar setoran, tidak juga mempermalukan dengan mengunggah di medsos. Saya memilih mengatakannya secara pribadi. Tapi kalau tidak kenal ya, saya memilih diam saja. Bukankah memang begitulah cara kita mengingatkan sesama? Termasuk dalam dakwah.

Meski begitu, banyak kawan yang tetap memanggil saya tukang tilang. Posisi saya sebagai editor di lembaga pers mahasiswa pun memperparah. Sudah jadi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris, ditambah editor di redaksi. Lengkap bet dah.

Akibatnya, saya dapat julukan baru: kamus berjalan. Lhadalah, cobaan apa lagi ini, Ya Allah. Saya sungguh merasa terbebani dengan panggilan seperti itu. Meski saya (kadang) merasa mirip Ivan Lanin, sesungguhnya saya masih bukan siapa-siapa. Saya hanya Abu. Sudah. Tak lebih.

Pada titik ini, saya rasa sebutan itu sudah berlebihan. Jika saya sering mengoreksi kesalahan berbahasa orang lain, bukan berarti saya sudah benar-benar menguasai semua. Menegur, bagi saya, adalah salah satu bentuk kasih sayang dan perhatian kepada orang lain. Saya kadang sering pede membayangkan: jika saja saya tak mengoreksi kesalahan bahasa pada pamflet acara kawan saya, sebanyak apa orang lain yang akan melihat? Bagaimana impresi mereka turun sebab merasa panitia tidak serius karena meloloskan kesalahan seperti itu?

Sesungguhnya, sama seperti yang lain—termasuk yang sering salah itu, saya masih belajar. Kadang saya keliru juga. Saat melakukannya, saya butuh dikoreksi.

Sekali lagi, saya tak menguasai semua hal. Saya tidak hapal begitu banyak kata dalam kamus. Grammar saya tak selalu sistematis. Pelafalan saya tidak selalu tepat sebagaimana seharusnya.

Maka dari itu, kawan-kawan yang baik hati, janganlah kalian menganggap saya kamus berjalan yang selalu punya jawaban tepat. Kalian boleh bertanya, tetapi jika saya tak bisa menjawab atau salah, itu adalah kewajaran belaka. Jangan ada polisi bahasa kok gitu di antara kita.

Begitulah. Dipanggil polisi bahasa saja sesungguhnya saya tak pantas, apalagi kamus berjalan~

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Grammar NaziKamus BerjalanMahasiswaPolisi Bahasa
Ahmad Abu Rifai

Ahmad Abu Rifai

Takmir BP2M Unnes dan aktif di Kelas Menulis Cerpen Kang Putu

ArtikelTerkait

Tidak Ada yang Namanya Liburan untuk Anak Persma

Tidak Ada yang Namanya Liburan untuk Anak Persma

7 Maret 2020
Semprotulation Adalah Perayaan Bodoh, Untung Dulu Nggak Ada Waktu Saya Kuliah

Semprotulation Adalah Perayaan Bodoh, Untung Dulu Nggak Ada Waktu Saya Kuliah

5 Desember 2023
4 Ciri Nyentrik Mahasiswa Jurusan Hukum yang Membuat Mereka Begitu Mudah Dikenali Mojok.co

4 Ciri Nyentrik Mahasiswa Jurusan Hukum yang Membuat Mereka Begitu Mudah Dikenali

17 Juni 2025
5 Karakter Drakor yang Mahasiswa Banget Terminal Mojok

5 Karakter Drakor yang ‘Mahasiswa Banget’

13 Agustus 2022
Derita Menyandang Status Mahasiswa di Kampung, Disepelekan dan Dianggap Manja Mojok.co

Derita Menyandang Status Mahasiswa di Kampung, Disepelekan dan Dianggap Manja

20 Desember 2023
persimpangan jalan

Mahasiswa Mahasiswi di Persimpangan Jalan Pasca KKN

14 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati Mojok.co

Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati

31 Maret 2026
Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.