Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

Redaksi oleh Redaksi
17 Agustus 2026
A A
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

Ilustrasi War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – War tiket upacara di Istana memperlihatkan betapa rakyat Indonesia telah terbiasa berebut sesuatu yang jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan.

Sebanyak 336 ribu orang mengikuti war ticket untuk menghadiri Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka. Pemerintah awalnya menyiapkan 8.100 undangan, sebagian besar untuk masyarakat umum. Tingginya jumlah pendaftar membuat Istana menambah 3.400 undangan.

Iklan

Mekanisme pendaftaran ini bermula ketika pemerintah meluncurkan Pandang Istana pada 2021. Saat itu, karena pandemi, tersedia 40 ribu undangan virtual. Setahun kemudian, pemerintah membuka pendaftaran untuk hadir langsung dengan menyediakan masing-masing 2.500 undangan bagi peserta upacara pengibaran dan penurunan bendera.

Peminatnya terus bertambah. Pada 2025, pemerintah bahkan menggunakan istilah war tiket. Ketika pendaftaran tambahan dibuka, 142 ribu orang mengaksesnya dan kuota habis hanya dalam 25 menit.

Tidak ada yang salah dengan keinginan mengikuti upacara di Istana. Menyaksikan langsung pengibaran Merah Putih di pusat kekuasaan tentu menjadi pengalaman istimewa. Apalagi, Istana selama ini lebih sering terlihat sebagai ruang milik presiden, pejabat, dan tamu penting.

Yang menarik justru istilah yang dipakai untuk mendapatkannya: war.

Kata itu begitu akrab bagi rakyat Indonesia. Kita mengenalnya ketika hendak membeli tiket konser, mendapatkan tiket kereta menjelang Lebaran, atau berburu potongan harga. Kini, untuk menghadiri upacara kemerdekaan pun rakyat harus ikut war.

War tiket upacara, miniatur kehidupan masyarakat yang berebut pekerjaan

Kapasitas Istana memang terbatas. Tidak mungkin 336 ribu pendaftar ditampung seluruhnya. Namun, war ticket tersebut seperti miniatur kehidupan masyarakat di negeri ini: terlalu banyak hal harus diperebutkan karena jumlah yang tersedia tidak sebanding dengan orang yang membutuhkannya.

Orang tua berebut kursi di perguruan tinggi negeri. Lulusan perguruan tinggi berebut pekerjaan. Warga berebut rumah subsidi. Pasien berebut kamar rumah sakit. Masyarakat miskin berebut bantuan sosial.

Kita terlampau terbiasa hidup dalam situasi serba rebutan hingga tidak lagi mempertanyakan penyebabnya. Negara menyediakan sesuatu dalam jumlah terbatas, lalu menyerahkan kepada rakyat untuk berkompetisi. Mereka yang gagal dianggap kurang cepat, kurang berusaha, atau sekadar tidak beruntung.

Dalam situasi semacam itu, hak perlahan-lahan diperlakukan seperti hadiah.

Padahal, war tidak pernah dimulai dari garis yang sama. Tidak semua orang memiliki perangkat cepat, internet stabil, informasi memadai, uang, pendidikan, dan jaringan sosial. Ketika semuanya diminta berlomba dalam lintasan yang sama, kita menyebutnya kesempatan setara. Padahal, sebagian sudah tertinggal sebelum peluit dibunyikan.

Iklan

Pada HUT ke-81 RI, pemerintah mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Tiga kata tersebut tidak boleh berhenti sebagai tulisan di spanduk.

Keadilan berarti akses terhadap kebutuhan dasar tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat menekan tombol. Kemakmuran berarti rakyat tidak terus dipaksa memperebutkan sumber daya yang terlalu sedikit. Kedaulatan berarti rakyat mempunyai kendali atas hidupnya, bukan selalu menunggu kuota dibuka.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan kemerdekaan bukan hanya apa yang diproklamasikan, melainkan apa yang dapat dirasakan rakyat. Pernyataan itu patut dijadikan ukuran.

Tidak semua orang bisa masuk ke Istana pada 17 Agustus, dan itu dapat dipahami. Namun, setelah 81 tahun merdeka, rakyat semestinya tidak harus menjadi yang tercepat, terkuat, atau paling beruntung hanya untuk mendapatkan hak-hak dasarnya. 

Sebab, bila sekolah, pekerjaan, rumah, layanan kesehatan, hingga bantuan negara masih harus dimenangkan lewat war, jangan-jangan yang benar-benar merdeka baru mereka yang selalu punya akses. (***)

 

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2026 oleh

Tags: tiketupacaraupacara 17 agustuswar tiket
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
User kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung pertama kali naik bus Eka PATAS ketimbang Sumber Selamat. Dari keterpaksaan menjadi ketagihan meski tetap tidak tenang MOJOK.CO

User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman

2 Maret 2026
Ahmad Luthfi kukuhkan Paskibraka Jateng 2025 MOJOK.CO

Jalan Panjang Jadi Paskibraka Jateng 2025, Tak Cuma Bertugas Kibarkan Bendera tapi Juga Jadi “Agen”

16 Agustus 2025
ugm jogja.MOJOK.CO

Dulu Masuk UGM Pernah Dipatok Tarif Rp1000, Picu Protes Besar yang Membuatnya Kembali Terbuka Gratis

8 Februari 2024
Cerita Pahit Korban Penipuan Tiket Coldplay, KTP Dipakai untuk Menipu. MOJOK.CO

​​Cerita Pahit Korban Penipuan Tiket Coldplay, Ada yang KTP-nya untuk Menipu

24 Mei 2023

Emang Salah Ya Kalau Perempuan Nonton Bioskop Sendirian?

21 Agustus 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpad: riset kampus bukan sekadar untuk lulus. MOJOK.CO

Sarjana di Indonesia Banyak tapi Riset Ilmiahnya Nggak Guna

13 Agustus 2026
Kirab Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten Tahun 2025. MOJOK.CO

Karnaval Klaten 2026: Belajar Jejak Sejarah Mataram Kuno dan Keistimewaan Tiap Wilayah

16 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.