Hari Pers Nasional 2026 (Senin, 9 Februari) ditatap dengan lesu dan nanar oleh sebagian banyak pelaku media online. Kebanyakan makin putus asa pada nasib jurnalisme di masa mendatang. Seolah jurnalisme tengah pelan-pelan menemui ajalnya.
Perkaranya: Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) dinilai semakin ekspansif. Apalagi sejak “otak mesin” itu mampu merangkum beragam berita atau informasi dari puluhan media menjadi hanya berupa poin-poin ringkas yang tampil di halaman paling atas mesin pencari—yang diperkenalkan ke publik sebagai AI Overview (Ringkasan AI).
Keberadaan AI—terutama dalam konteks AI Overview—dianggap sebagai biang anjloknya jumlah klik sekaligus kunjungan ke sejumlah besar media pers online. Pembaca semakin seret, ruang redaksi semakin mumet.
Memang, laporan terbaru Reuters Institute for the Study of Journalism dari University of Oxford pada Januari 2026 menunjukkan fenomena zero click di media online secara global. Penurunan klik mencapai 40%. Ini bagian yang juga diwanti-wanti oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria untuk media-media pers online di Indonesia.
Tak pelak jika akhirnya AI dianggap sebagai ancaman mematikan bagi industri media pers online. Kekagetan yang sebenarnya beralasan, tapi agak kurang relevan.
AI: dari pengarsip menjadi pembelajar
AI kerap hanya dipahami pada sebatas apa yang dikenal hari ini: ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya. Padahal, secara substansi, AI adalah “mesin cerdas”. Dan mesin cerdas itu sudah ada sejak bertahun silam.
Embrio AI lahir pada 1950-an. Pada media itu, John McCarthy, ilmuwan komputer Amerika pertama kali mengenalkan “Artificial Intelligence” dalam proposal yang ia susun untuk Dartmouth Conference 1956. Kemampuannya hanya sebatas sebagai mesin pengarsip data, setidaknya hingga 1980-an.
Seiring waktu, AI kemudian menjelma menjadi pembelajar. Tidak hanya mengarsipkan data, tapi juga mempelajarinya (era machine learning pada 1990-an hingga 2000-an, lalu menuju era deep learning sejak 2012-an).
Tom Mitchell dalam Machine Learning menyebutnya sebagai kemampuan mesin untuk meningkatkan kinerjanya melalui pengalaman. Era “AI sebagai pembelajar” itu ditandai dengan penentuan berita apa yang muncul di internet atau Google News oleh algoritma.
Sementara saat ini, AI telah memasuki era baru bernama “era generatif”.Tidak hanya mempelajari, AI juga bisa memproduksi sesuatu (konten, berita, dan macam-macam) melalui sumber yang ia pelajari.
Anxiety algoritma oleh media pers online
Persoalannya kemudian, banyak media pers online yang, meminjam istilah Nicholas Diakopoulus dalam Automating the News: How Algorithms Are Rewriting the Media, mengalami “anxiety algoritma”.
Menghamba pada algoritma, itu yang kemudian dilakukan oleh sejumlah pelaku media. Hasilnya, sejumlah media pers online cenderung berlomba-lomba mengejar kata kunci yang seragam. Bahkan memproduksi konten-konten berbasis clickbait yang kini pun makin tidak direkomendasikan Google.
Tentu itu semakin mempermudah AI Overview untuk merangkumnya menjadi poin-poin yang lebih ringkas dan cukup dibaca sekilas di halaman atas mesin pencari. Ketimbang repot-repot membacanya di situs web langsung yang sebenarnya memuat informasi yang sama.
Padahal, seharusnya algoritma disikapi sebagai alat untuk merumuskan rumus dan strategi konten yang unik, berkualitas, dan relevan untuk publik, seperti paparan Seth Lewis dalam Journalism in an Era of Big Data.
Media pers online harusnya menggunakan algoritma sebagai jembatan untuk memproduksi konten-konten yang tidak bisa serta-merta dirangkum atau ditiru oleh AI: di sini letak pentingnya media menemukan niche masing-masing.
Laporan Reuters cukup menjawab kenapa publik cenderung mulai ogah-ogahan mengunjungi situs secara langsung. Sebab, atas keseragaman konten dan minim keunikan sekaligus relevansi, terjadi yang disebut Reuters “Selective news avoidance”: publik sengaja menghindari mengunjungi langsung situs berita dengan alasan tertentu.
Pertama, atas pemberitaan yang seragam, publik merasa sudah cukup melihat gambaran ringkasnya melalui ringkasan. Kedua, bisa juga karena mengalami kejenuhan atas konten atau format berita yang muncul di mesin pencari.
AI tidak lebih dari sekadar asisten media pers online dan format penyajian yang perlu dikaji ulang
Sebagaimana prinsip penciptaannya, AI dirancang untuk membantu kerja-kerja manusia: tidak lebih dari sekadar asisten.
Ia bisa difungsikan sebagai pembantu dalam konteks transkripsi, kompilasi data makro, dan kebutuhan-kebutuhan teknis lain. Itu justru membuat pelaku media pers, dalam hal ini tim redaksi, jauh lebih produktif.
Fokusnya bisa diarahkan pada bagaimana memproduksi konten unik, berkualitas, dan relevan, tanpa harus membuang banyak waktu untuk melakukan transkripsi panjang atau kompilasi data makro yang tentu butuh waktu tidak sebentar.
Loh, AI juga bisa nulis atau bikin konten sendiri, loh, sekarang. Itu kan mengancam jurnalisme?
Poin kedua dari fenomena zero click: kejenuhan publik. Format penyajian konten berbasis AI itu menjemukan. Dingin (tidak berjiwa). Dangkal karena hanya berkutat pada informasi umum. Sementara pembaca membutuhkan sebuah konten yang berangkat dari orisinalitas, kedalaman, dan kedekatan. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai, “Intelektualitas yang berakar pada realitas.”
Niche sebuah media itu pun pada akhirnya akan menjembatani masuknya brand atau instansi pengiklan yang memungkinkan perputaran bisnis media terus berjalan. Sebab, ada daya tawar yang pengiklan lihat dari sekadar “media sebagai mesin produksi berita“.
Maka, jika jumlah klik menurun, sementara media tidak beranjak dari cara lamanya menyajikan sebuah konten/berita (yang dangkal dan terburu-buru, terlalu seragam dan tak punya keunikan, apalagi tidak relevan dengan perkembangan generasi), siap-siap saja dibunuh AI dan ditinggalkan pembaca.
Redaksi Mojok.co
BACA JUGA: Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














