Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

Redaksi oleh Redaksi
9 Februari 2026
A A
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Ilustrasi - Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hari Pers Nasional 2026 (Senin, 9 Februari) ditatap dengan lesu dan nanar oleh sebagian banyak pelaku media online. Kebanyakan makin putus asa pada nasib jurnalisme di masa mendatang. Seolah jurnalisme tengah pelan-pelan menemui ajalnya. 

Perkaranya: Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) dinilai semakin ekspansif. Apalagi sejak “otak mesin” itu mampu merangkum beragam berita atau informasi dari puluhan media menjadi hanya berupa poin-poin ringkas yang tampil di halaman paling atas mesin pencari—yang diperkenalkan ke publik sebagai AI Overview (Ringkasan AI). 

Keberadaan AI—terutama dalam konteks AI Overview—dianggap sebagai biang anjloknya jumlah klik sekaligus kunjungan ke sejumlah besar media pers online. Pembaca semakin seret, ruang redaksi semakin mumet. 

Memang, laporan terbaru Reuters Institute for the Study of Journalism dari University of Oxford pada Januari 2026 menunjukkan fenomena zero click di media online secara global. Penurunan klik mencapai 40%. Ini bagian yang juga diwanti-wanti oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria untuk media-media pers online di Indonesia. 

Tak pelak jika akhirnya AI dianggap sebagai ancaman mematikan bagi industri media pers online. Kekagetan yang sebenarnya beralasan, tapi agak kurang relevan. 

AI: dari pengarsip menjadi pembelajar

AI kerap hanya dipahami pada sebatas apa yang dikenal hari ini: ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya. Padahal, secara substansi, AI adalah “mesin cerdas”. Dan mesin cerdas itu sudah ada sejak bertahun silam. 

Embrio AI lahir pada 1950-an. Pada media itu, John McCarthy, ilmuwan komputer Amerika pertama kali mengenalkan “Artificial Intelligence” dalam proposal yang ia susun untuk Dartmouth Conference 1956. Kemampuannya hanya sebatas sebagai mesin pengarsip data, setidaknya hingga 1980-an.

Seiring waktu, AI kemudian menjelma menjadi pembelajar. Tidak hanya mengarsipkan data, tapi juga mempelajarinya (era machine learning pada 1990-an hingga 2000-an, lalu menuju era deep learning sejak 2012-an). 

Tom Mitchell dalam Machine Learning menyebutnya sebagai kemampuan mesin untuk meningkatkan kinerjanya melalui pengalaman. Era “AI sebagai pembelajar” itu ditandai dengan penentuan berita apa yang muncul di internet atau Google News oleh algoritma. 

Sementara saat ini, AI telah memasuki era baru bernama “era generatif”.Tidak hanya mempelajari, AI juga bisa memproduksi sesuatu (konten, berita, dan macam-macam) melalui sumber yang ia pelajari. 

Anxiety algoritma oleh media pers online

Persoalannya kemudian, banyak media pers online yang, meminjam istilah Nicholas Diakopoulus dalam Automating the News: How Algorithms Are Rewriting the Media, mengalami “anxiety algoritma”. 

Menghamba pada algoritma, itu yang kemudian dilakukan oleh sejumlah pelaku media. Hasilnya, sejumlah media pers online cenderung berlomba-lomba mengejar kata kunci yang seragam. Bahkan memproduksi konten-konten berbasis clickbait yang kini pun makin tidak direkomendasikan Google. 

Tentu itu semakin mempermudah AI Overview untuk merangkumnya menjadi poin-poin yang lebih ringkas dan cukup dibaca sekilas di halaman atas mesin pencari. Ketimbang repot-repot membacanya di situs web langsung yang sebenarnya memuat informasi yang sama. 

Padahal, seharusnya algoritma disikapi sebagai alat untuk merumuskan rumus dan strategi konten yang unik, berkualitas, dan relevan untuk publik, seperti paparan Seth Lewis dalam Journalism in an Era of Big Data. 

Iklan

Media pers online harusnya menggunakan algoritma sebagai jembatan untuk memproduksi konten-konten yang tidak bisa serta-merta dirangkum atau ditiru oleh AI: di sini letak pentingnya media menemukan niche masing-masing. 

Laporan Reuters cukup menjawab kenapa publik cenderung mulai ogah-ogahan mengunjungi situs secara langsung. Sebab, atas keseragaman konten dan minim keunikan sekaligus relevansi, terjadi yang disebut Reuters “Selective news avoidance”: publik sengaja menghindari mengunjungi langsung situs berita dengan alasan tertentu.

Pertama, atas pemberitaan yang seragam, publik merasa sudah cukup melihat gambaran ringkasnya melalui ringkasan. Kedua, bisa juga karena mengalami kejenuhan atas konten atau format berita yang muncul di mesin pencari. 

AI tidak lebih dari sekadar asisten media pers online dan format penyajian yang perlu dikaji ulang

Sebagaimana prinsip penciptaannya, AI dirancang untuk membantu kerja-kerja manusia: tidak lebih dari sekadar asisten. 

Ia bisa difungsikan sebagai pembantu dalam konteks transkripsi, kompilasi data makro, dan kebutuhan-kebutuhan teknis lain. Itu justru membuat pelaku media pers, dalam hal ini tim redaksi, jauh lebih produktif. 

Fokusnya bisa diarahkan pada bagaimana memproduksi konten unik, berkualitas, dan relevan, tanpa harus membuang banyak waktu untuk melakukan transkripsi panjang atau kompilasi data makro yang tentu butuh waktu tidak sebentar. 

Loh, AI juga bisa nulis atau bikin konten sendiri, loh, sekarang. Itu kan mengancam jurnalisme? 

Poin kedua dari fenomena zero click: kejenuhan publik. Format penyajian konten berbasis AI itu menjemukan. Dingin (tidak berjiwa). Dangkal karena hanya berkutat pada informasi umum. Sementara pembaca membutuhkan sebuah konten yang berangkat dari orisinalitas, kedalaman, dan kedekatan. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai, “Intelektualitas yang berakar pada realitas.”

Niche sebuah media itu pun pada akhirnya akan menjembatani masuknya brand atau instansi pengiklan yang memungkinkan perputaran bisnis media terus berjalan. Sebab, ada daya tawar yang pengiklan lihat dari sekadar “media sebagai mesin produksi berita“.

Maka, jika jumlah klik menurun, sementara media tidak beranjak dari cara lamanya menyajikan sebuah konten/berita (yang dangkal dan terburu-buru, terlalu seragam dan tak punya keunikan, apalagi tidak relevan dengan perkembangan generasi), siap-siap saja dibunuh AI dan ditinggalkan pembaca. 

 

Redaksi Mojok.co

 

BACA JUGA: Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2026 oleh

Tags: ai overviewdampak ai overviewjurnalisme era aimasa depan jurnalismemedia onlinemedia perspilihan redaksistrategi media di era ai
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO
Catatan

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co
Sehari-hari

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.