Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Larangan Mudik Bikin Sedih Ibu dan Saya Cuma Bisa Menangis

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
22 April 2020
A A
larangan mudik, jokowi, presiden, mudik, ibu mojok.co

larangan mudik, jokowi, presiden, mudik, ibu mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Larangan mudik ini, dilihat dari segi pencegahan, adalah langkah tepat. Tapi kalau dilihat dari segi budaya dan sosial, langkah ini bisa dianggap bencana. Setidaknya bagi ibu saya.

Presiden Jokowi akhirnya meresmikan larangan mudik Idul Fitri. Melihat banyaknya warga Indonesia yang tidak mengikuti imbauan pemerintah, langkah tegas diambil. Meski langkah ini terhitung telat, tapi setidaknya ada aturan tegas.

Larangan itu efektif per 24 April 2020. Namun penerapan sanksi efektif mulai tanggal 7 Mei. Sayang, masih ada celah dalam aturan ini. Tapi setidaknya sudah ada niat baik dari pemerintah. Setidaknya.

Larangan mudik ini, dilihat dari segi pencegahan, adalah langkah tepat. Tapi kalau dilihat dari segi budaya dan sosial, langkah ini bisa dianggap bencana. Setidaknya bagi ibu saya.

Saat larangan mudik resmi dikeluarkan, saya langsung mengabari ibu. Saya bilang kalau Lebaran nanti kemungkinan tidak mudik. Tidak butuh waktu lama ibu saya langsung menelepon sambil menangis. “Yuh le, mosok Lebaran ra weruh koe. Mosok yo tega,” kata ibu saya.

Remuk pertahanan saya.

Ada sedikit penyesalan setelah lapor kepada ibu. Niat saya simpel, saya kasih tahu sekarang agar ibu bisa siap. Lagian, cuti bersama Lebaran dipindah ke bulan lain. Pulang ke rumah jadi nggak berasa, nggak ada bedanya sama mudik di akhir minggu. Larangan mudik ini, pada titik tertentu nggak banyak efeknya ke kita.

Tapi ibu saja saya tetap saja susah menerima. Saya jarang pulang selama kuliah dan sudah 9 tahun saya merantau. Lebaran jadi momen yang benar-benar penting bagi ibu saya.

Tahan dulu emosinya. Ibu saya tahu kalau corona ini bukan masalah sepele. Di keluarga, kecuali saya, semua bekerja di dunia medis. Tapi susah juga bagi orang tua untuk tidak melihat anaknya di hari Lebaran.

Mudik itu bukan sekadar menghabiskan cuti dan pulang ke rumah orang tua. Lebaran itu momen bagi orang tua melepas rindu kepada anak dan cucu. Lebaran itu momen bagi sekeluarga besar untuk saling berinteraksi. Rindu adalah alasan utama untuk mudik, dan entah kenapa Lebaran punya vibes tersendiri.

Tapi memang, larangan mudik harus diambil oleh pemerintah untuk sekarang. Saya cuma ingin mengingatkan:

Betapa susah menahan rindu kepada orang tua. Namun, kesabaran menahan rindu akan jadi berkah di masa depan. Ketika egois dan keras kepala melanggar larangan mudik, kita justru jadi orang jahat. Bukan tidak mungkin kita malah menularkan virus corona di sebuah tempat terkasih yang kita sebut: rumah.

Meskipun memang, kalau ibu sudah menangis, pertahanan siapa yang tidak jebol. Melihat dan mendengar ibu menangis itu jauh lebih menyanyat hati ketimbang diselingkuhin lalu ditinggal nikah sama bajingan, eh mantan.

Sebelum telepon saya tutup, saya cuma bisa menenangkan ibu bahwa jika Tuhan berkehendak, saya bisa mudik. Semoga kamu semua yang nggak bisa mudik diberi ketabahan, ya. Doa terbaik dari saya untuk orang tua kalian. Semoga selalu diberi kesehatan dan kesabaran.

Iklan

Ibu masih menangis ketika mengakhir telepon dengan doa-doa terbaik untuk saya, anaknya. Nangis aku, ndes.

BACA JUGA Logika Kartu Prakerja: Kalau Bisa Bayar, Kenapa Harus Gratis? dan tulisan menarik lainnya dari Rizky Prasetya.

Terakhir diperbarui pada 22 April 2020 oleh

Tags: ibujokowilarangan mudikMudikpresiden
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) nyaris drop out usai ibu tiada. MOJOK.CO
Ragam

Sibuk Skripsian sampai Abaikan Telpon Ibu dan Jarang Pulang, Berujung Sesal Ketika Ibu Meninggal

14 November 2025
Doktor termuda di UGM, Jogja ingin jadi presiden. MOJOK.CO
Sosok

Doktor Termuda UGM Usia 25 Tahun Ingin Jadi Presiden RI, Meneruskan Sepak Terjang BJ Habibie di Bidang Eksakta

6 November 2025
Suara ibu di telepon bikin hati lapang hadapi kerasnya perantauan MOJOK.CO
Ragam

Suara Ibu di Telepon Selalu bikin Tenang usai Hadapi Hal-hal Buruk dan Menyakitkan di Perantauan

22 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.