Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bukan Semakin Tua Semakin Sedikit Teman, Tapi Prioritasnya yang Berubah

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
2 Maret 2020
A A
kemampuan otak, tua, teman, nongkrong, sks, buruh mojok.co

kemampuan otak, tua, teman, nongkrong, sks, buruh mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Semakin bertambah usia, semakin terlihat siapa kawanmu. Pernyataan itu benar, tapi kalau pernyataan itu dipakai untuk menjustifikasi semakin tua semakin sedikit teman, ini yang perlu dikoreksi.

Malam minggu kemarin adalah malam minggu paling mumet buat saya. Bukan karena tidak punya duit dan tidak punya pasangan, kedua masalah duniawi itu nggak relate sama hidup saya. Saya itu mumet karena ada 3 acara yang harus saya hadiri, ada 2 band teman saya yang manggung dan 1 band merilis album dan kebetulan band saya diundang untuk menghadiri acara itu. Sialnya lagi, hujan mengguyur Yogyakarta dari siang sampai dini hari.

Terpaksa saya tidak bisa menghadiri semua acara tersebut. Memang ada penemuan teknologi kontemporer bernama jas hujan, tapi ya tetap saja saya harus pikir-pikir lagi kalau mau berangkat. Senin masih mburuh je, Bos, awake dieman.

Pada akhirnya, saya lebih memilih untuk rebahan di kos sambil menikmati suara hujan dan internet kencang. Hasil rebahan sambil sekrol-sekrol Twitter itu akhirnya membawa saya pada satu twit yang intinya bilang kalau makin tua kita makin sedikit jumlah teman kita.

Demi membaca twitr tersebut, timbul ghiroh untuk memprotes pernyataan twit tersebut. Mana mungkin hal itu kejadian? berdasarkan pengalaman saya sendiri, selama ini, makin tua saya, makin banyak pula teman yang saya kenal. Bukan karena saya orangnya supel atau menyenangkan, tapi di tempat baru yang saya kunjungi saya pasti seenggaknya dapet satu-dua teman.

Makin tua semester saya, makin banyak kenalan saya semasa kuliah. Karena saya mengulang mata kuliah begitu banyak, otomatis saya punya kenalan adik tingkat yang makin banyak pula. Setelah lulus, di tempat kerja, kenalan saya bertambah. Kan nggak mungkin kalau di tempat kerja blas nggak nambah kenalan.

Bekal pengalaman itulah yang membuat saya sudah untuk bisa memahami logika makin bertambah umur kita makin berkurang teman kita. Apakah pertemanan itu memang ada masa kadaluwarsanya atau kalau pindah tempat pertemanan nggak berlaku? Ha kok koyo paketan internet.

Saya perlu meluruskan satu hal yang menurut saya keliru dalam pernyataan makin tua teman makin sedikit. Teman kita nggak berkurang, mereka ada dan berlipat ganda. Fokus kehidupan mereka saja yang berubah. Ketika masih muda, tanggung jawab kita nggak begitu banyak. Yang wajib kamu lakukan adalah menempuh pendidikan sebaik mungkin, dan interaksi dengan teman-temanmu itu masih gampang karena ketemu tiap hari. Apalagi kalian yang kuliahnya 24 SKS dan 10 SKS-nya habis di kantin, interaksi kalian dengan teman-teman pastilah begitu intens.

Begitu kalian menemui semester tua atau mulai kerja, intensitas interaksi dengan teman jadi menurun. Kalian mulai susah nemu waktu nongkrong bareng dan kamu mulai merasa sendiri. Tapi itu bukan berarti temanmu berkurang atau kalian nggak dianggep temen lagi, mereka hanya punya prioritas hidup yang lain.

Kalian nggak bisa berharap waktu selo teman-temanmu sama dengan waktu selomu. Mereka tidak meninggalkanmu, mereka hanya tidak bisa meninggalkan hal yang lebih besar dalam hidup. Ketika sudah sibuk bekerja atau berkeluarga, intensitas nongkrong akan berkurang drastis tapi bakal lebih berkualitas.

Kalau kalian mulai merasa kesepian karena intensitas nongkrong bersama teman-teman berkurang, yang kamu harus lakukan adalah: deal with it. Ya mau gimana lagi, jalan kehidupan memang seperti itu. Ketika temanmu sibuk karena meniti karir, harusnya sebagai teman yang baik kamu justru bangga. Melihat teman menyediakan waktu untuk nongkrong dan menceritakan usaha yang sedang ditempuh itu jauh lebih membawa kebahagiaan daripada nongkrong tiap hari mung ngrasani kiwo tengen.

Lupakan pikiran buruk temanmu melupakan dirimu, pahami bahwa kamu tidak lagi prioritas utama untuk dikunjungi, tapi ada kerjaan, keluarga, dan hal-hal lain dalam hidup yang lebih besar untuk disinggahi. Makin dewasa pemikiran kalian, maka kalian akan mengerti bahwa ini fase hidup yang tidak akan bisa dihindari.

Ngomong-ngomong, saya punya tips untuk menghindari perasaan semakin tua semakin sedikit teman. Jadi kaya, semua orang bakal sering-sering menghubungimu nggo nembung utang wokwokwok.

Pepatah timur mengatakan, teman tidak bisa dibeli, tapi kalau kau banyak duit, teman-teman baru akan berdatangan sendiri.

Iklan

BACA JUGA Proyek Galian Jalan yang Selalu Saja Menyebalkan dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2020 oleh

Tags: buruhkerjakuliahskstemantua
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.