MOJOK.CO Dalam ilmiah, orang kayak Dinda Safay ini ngalamin apa yang disebut Dunning-Kruger effect.

Bagi kalian anak yang tumbuh remaja di tahun 2000-an, pasti kalian pernah sekali dua kali menonton Jackass. Itu lho, acara isinya challenge-challenge berbahaya yang dilakuin oleh Bam Margera dan kawan-kawan. Adegan-adegan sadis tersebut jelas bukan suatu adegan yang boleh ditiru, dan nggak sekali pun Bam dan kawan-kawannya encourage penonton untuk melakukan hal yang sama

Lalu di masa kini, ada Dinda Safay. Dinda sering melakukan percobaan ilmiah yang goblok dan menganggap percobaannya itu tips yang bisa ditiru. Yang terbaru adalah, dia ngasih video berisi tips membuat cairan diffuser yang bisa membunuh corona, atau anggap saja begitu.

Videonya dimulai dengan ngomong “anti corona virus check” dengan pronunciation yang bagos gewlak. Lalu dia bilang sediakan Aqua steril, tapi yang dipegang adalah botol Cleo. Nggak apa-apa, mungkin Dinda masih nyebut pompa air dengan Sanyo meski mereknya Shimizu.

Aqua (tapi Cleo) itu tadi dicampur sama Dinda dengan Dettol secukupnya. Iya, takarannya secukupnya, nggak pakai takaran berapa mili/tetes gitu. Diaduk, lalu dimasukkan ke wadah diffuser. Taraa, jadilah diffuser yang berpotensi membunuh seisi rumah.

Tak lupa, dia mencantumkan akun Instagramnya untuk tips lain. Tapi lebih baik kamu nggak usah cek Instagramnya, ini saya juga baru buka udah nyesel.

Baca juga:  Sheila on 7 Berkarya 24 Tahun: Keanehan dalam Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki

Kalian ngalami nggak waktu masih jadi mahasiswa baru itu kalian ngerasa tahu banyak hal tentang jurusan kalian and turns out, you know nothing? Nah Dinda Safay itu ibaratnya kayak gitu. Bedanya adalah, dia terjebak di fase dia tahu banyak hal.

Dinda tahu dikit, dikit banget (atau malah nggak sama sekali), tapi untuk dia itu serasa dia udah ngerti semuanya. dia itu genin, bisa 2 jurus, terus ngerasa pantes jadi Hokage. Dalam ilmiah, orang kayak Dinda Safay ini ngalamin apa yang disebut Dunning-Kruger effect.

Dunning-Kruger effect itu secara simpelnya adalah perasaan bias yang ada pada orang yang ngerasa dia super jago, padahal aslinya noob. Orang-orang kek gini biasanya main Dota 2 pakai Invoker padahal cuma bisa Cold Snap sama Sun Strike, atau pake Gusion di ranked mentang-mentang bisa bunuh bot.

Dinda Safay ini mau dikasih tahu tentang risiko diffuser yang ia buat itu berbahaya, tetep aja nggak ngaruh. Lha wong dia udah yakin kalau dia itu punya kemampuan yang sama dengan ahli kimia menang Nobel kok. Kita capek ngehujat, dia ngerasa diperhatiin sama orang. Nggak ada menangnya lawan orang goblok yang nggak sadar dia goblok.

Sebenarnya kita nggak perlu kaget dan marah sama kelakuan Dinda Safay. Kita udah sering nemu kelakuan yang sama pada pejabat-pejabat yang sering blunder bikin pernyataan. Kita juga ditontonin polisi menunjukkan buku Tere Liye sebagai barang bukti anarko. Kalau kita nggak bisa nyuruh pejabat untuk nggak usah ngomongin hal yang mereka nggak tahu, ya percuma juga nyuruh Dinda diem.

Baca juga:  Masuknya Hotman Paris dan Mahfud MD di Instagram Apakah Tanda Datangnya Tren Bapak-Bapak Jadi Selebgram?

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah rajin baca. Karena rajin baca jadi pinter, males baca jadi apa? Jadi Dinda Safay lah.

BACA JUGA Inilah Skenario Para Anarko yang Sebenarnya dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.