Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Honda Mobilio yang Membuat Bapak Saya Jatuh Cinta Lagi di Usia Senjanya

Rulli Rachman oleh Rulli Rachman
6 September 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Honda Mobilio memang luar biasa. Dia bisa membangkitkan rasa cinta seketika pada bapak saya yang usianya sudah tidak muda lagi. Padahal bapak saya tidak pernah berkunjung ke ajang GIIAS, tidak pernah sama sekali baca-baca tabloid otomotif, pun tidak pernah ngepoin koleksi mobil juragan Edi AH Iyubenu.

Bapak saya hanya jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat mobil ini nangkring di salah satu lapak di sebuah mal. Begitu saja.

Dari segi desain dan tampilan, Mobilio sepantasnya diperuntukkan bagi segmen anak muda. Tampilannya yang semi-futuristik sudah hampir pasti bukan untuk generasi bapak saya. Bapak saya yang 68 tahun mengendarai mobil dengan spoiler belakang? Helaaawww.

Nggak heran saya sampai terheran-heran saat membaca pesan WA dari Ibu, “Bapakmu ganti mobil tuh. Mobilio.” Pesan terkirim lengkap dengan foto mobil baru tersebut dengan varian warna silver yang sudah terparkir rapi di garasi.

Berbagai spekulasi muncul di benak saya. Dari mulai berprasangka bahwa bapak saya sedang membongkar tabungannya yang sudah menumpuk berkat keputusannya berhenti merokok kretek cap 234 bertahun-tahun yang lalu, atau omzet dagangannya di Pasar Beringharjo sedang maju pesat, atau mungkin juga karena blio menang arisan ikatan orang Minang di Yogya.

Entahlah. Yang pasti ia berani membayar tunai untuk melunasi seluruh pembayaran mobil tersebut. Suatu hal yang hampir mustahil diterapkan oleh anaknya yang berpenghasilan-pas-pasan-beli-apa-pun-dengan-cicilan ini.

Keputusannya membeli mobil ini juga luput dari ibu saya yang sudah menemaninya selama hampir setengah abad. “Aku mau ganti mobil,” demikian penuturannya kepada ibu saya. Singkat, padat, jelas. Transaksi diawali dengan menjual mobil lamanya, Avanza 1.300 cc tipe lama. Petualangannya bersama si Avanza saat menyeberang Selat Sunda sampai pulang kampung ke Sumatra Barat tidak menyurutkan tekadnya untuk menjual kendaraan lamanya tersebut.

Yah, sebagai anak, saya selalu menghormati apa pun keputusan orang tua. Toh ini juga ada faedahnya buat saya pribadi. Di kala saya mudik ke Yogya tanpa membawa mobil pribadi, saya tidak perlu khawatir karena sudah tersedia Honda Mobilio RS yang nggak akan malu-maluin kalau saya bawa ke acara semacam reunian dengan teman-teman. Pengalaman mengendarai mobil ini juga berbeda dibanding kala mengendarai mobil pribadi kesayangan, Toyota Avanza Veloz.

Dalam posisi sopir, saya akan disuguhi pengalaman mengemudi selayaknya mengendarai mobil sedan. Apa pasal? Karena dalam posisi duduk, hampir pasti saya tidak bisa melongok melihat posisi bumper depan. Jadi yang berpengaruh di sini ya jelas insting berkendara. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Mobilio RS ini memiliki dimensi yang lebih panjang dan lebih lebar dibanding Avanza. Selain itu saya tidak perlu beradaptasi banyak karena pilihan Bapak sama dengan saya, tipe transmisi manual. Namanya juga buah jatuh tak jauh dari pohonnya to? Vice versa, pohonnya pun di situ-situ juga, tak jauh dari buahnya.

Dengan harga sekitar 225 juta, Honda Mobilio RS manual juga memiliki beberapa fitur yang tidak saya jumpai di Veloz. Salah satunya fitur eco driving. Apabila lampu indikator Eco menyala, artinya kita sedang dalam mode berkendara yang ekonomis. Sebaiknya kita pertahankan mode ini, niscaya kita akan menghemat bahan bakar. Tak heran kalau pihak Honda mengklaim bahwa mobil ini mampu mencapai puncak konsumsi bahan bakar 20 kilometer per liter. Suatu angka yang tak mungkin saya capai dengan Veloz saat keluar kota. Paling mentok ya 13—14 km per liter.

Pantas saja bapak saya menyambut dengan semangat ajakan saya untuk traveling bermobil ke Bali. Padahal baru genap sebulan sejak plat nomor resminya turun. Hal ini saya tawarkan mengingat orang tua saya belum pernah ke sana dan tentunya akan lebih hemat apabila kami sekeluarga besar menempuh perjalanan dengan mobil pribadi.

Lalu apakah betul Honda Mobilio ini betul-betul irit sesuai dengan klaim pabriknya? Sayangnya, di dashboard Mobilio bapak saya ini entah kenapa average fuel consumption-nya tak beranjak dari angka 14,2 km/liter. Saya lupa menanyakan ke Bapak apakah sudah dicek oleh teknisi bengkel saat servis rutin. Yang pasti dalam beberapa kesempatan, saya selalu mengajak masuk ke SPBU duluan saat mobil Bapak masih belum berkurang bensinnya. Kalaupun sama-sama masuk SPBU, saya masuk di antrean premium sedangkan Bapak langsung antre di jalur pertamax. Suatu hal yang sesekali saja diterapkan oleh anaknya yang berpenghasilan-pas-pasan-mau-cuti-aja-harus-pinter-rayu-atasan ini.

Bagaimana dengan interior? Yah, ternyata ada benarnya juga suara-suara mereka yang berisik di beberapa forum soal mobil ini. Kata sederhana adalah ungkapan yang pas kalau tak mau menggunakan kata “seadanya”. Karena memang interior mobil ini tidak segahar tampilan eksteriornya. Walaupun patut diakui bahwa space kokpit cukup lega, namun material bahan pelapis dinding dan dashboard kurang bagus dan sedikit kasar. Peredaman suara? Sepertinya masih mendingan Veloz. Saya masih bisa mendengar sayup-sayup alunan lagu Minang lengkap dengan bunyi saluang (seruling khas Sumatra) yang diputar dari halaman rumah tiap kali mereka berkunjung.

Untuk kaca film, Mobilio sudah menggunakan Huper Optik. Kalau ini saya akui lebih gelap dibanding Veloz saya yang kalau siang hari serasa menerawang ke dalam akuarium. Kaca yang cukup gelap ini lumayan membantu ketika beliau harus belanja banyak barang saat kulakan ke Pasar Tanah Abang. Mohon jangan ditilang bapak saya ini ya, Pak Polisi. Walaupun mobilnya tidak selevel dengan tunggangan Raffi Ahmad, dia rajin bayar pajak kok.

Iklan

Oh ya, Mobilio tipe RS ini sudah dilengkapi dengan rear camera. Jadi sangat membantu saat harus parkir mundur. Fitur ini yang apabila dikombinasikan dengan transmisi matic plus power steering rasanya patut menjadi pertimbangan bagi wanita generasi milenial yang dinamis dan multitasking. Walaupun sepertinya kebanyakan dari mereka akan memilih saudara kandungnya yang lain, Honda Brio atau Jazz sebagai pilihan pertama.

Eh kenapa wanita generasi milennial itu dinamis dan multitasking? Coba bayangkan ini: Anda diajak pulang kantor bareng oleh kolega Anda, wanita yang bekerja di bagian yang sama, engineering. Lalu sepanjang perjalanan ia bercerita soal pengalamannya di Timur Tengah saat mengalkulasi ulang pompa produksi minyak yang sudah oversized sambil tangan kirinya membetulkan seat belt di kursi saya yang terbelit karena dimainkan oleh anaknya yang katanya memiliki indra keenam karena sering bilang bahwa di kursi belakang itu ada om-om berbadan hitam besar. Ia terus bercerita sambil mengeluhkan mobil di line sebelah kanan yang katanya terlalu mepet ke kiri. Ini terjadi saat mobilnya tanpa sadar sudah serong ke kanan dan tak menyalakan lampu sen.

Jadi, bagaimana kesan soal Mobilio ini? Ya statusnya tetap jadi mobil bapak saya yang akan saya gunakan sewaktu-waktu dibutuhkan saja. Datar saja, tidak kurang dan tidak lebih. Saya tidak akan menjadi seperti Agnes yang awalnya tertutup, acuh tak acuh, tapi akhirnya mau membuka diri kepada Gaspar-nya Mz Sabda Armandio.

Lalu, tertarik untuk ganti ke Mobilio nggak, Mz?

Nggak, mendingan ganti Xpander. Itu pun kalau dapet Mojok Award.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2017 oleh

Tags: avanza velozhonda mobiliomobilioreviewtoyota
Rulli Rachman

Rulli Rachman

Artikel Terkait

Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO
Otomojok

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Innova Reborn Menolak Mati, Toyota Belum Percaya sama Zenix? MOJOK.CO
Otomojok

Innova Reborn Menolak Mati, Toyota Belum Siap Kehilangan Mobil Kesayangan yang Nggak Pernah Bikin Malu

12 Desember 2025
Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja Mojok.co
Pojokan

Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja

14 September 2025
kerja di Surabaya dengan gaji Jepang. MOJOK.CO
Sosok

Pertama Kali Lamar Kerjaan dari Job Fair di Surabaya, Nggak Nyangka Bisa Dapat Cuan Senilai Perusahaan di Jepang

26 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.