Cara PSK Menipu Calon Pelanggannya Menggunakan MiChat

Jemari tangan teman saya Dede*(30) lincah memilah daftar perempuan yang muncul di aplikasi MiChat. Ada fitur ‘pengguna di sekitar’ yang memungkinkan kita melihat akun-akun lain yang berada di lokasi yang tidak terlalu jauh. Dan melalui fitur itu, banyak pekerja seks komersial (PSK) menjadikannya ajang promosi diri sebagai jasa ‘teman tidur’.

Malam itu, tanggal 23 April 2021, Dede berencana mencari teman tidur sekalipun orang-orang sedang berlomba-lomba menambah kesucian di bulan puasa. Saya tertarik dengan aktivitasnya. Sedikit terheran-heran kenapa memerlukan waktu begitu lama untuk memilih satu dari sekian perempuan dengan foto cantik dan menuliskan ‘Open BO’ di keterangan akun mereka.

Harus berhati-hati memilih di MiChat

Menurut teman saya, mencari teman tidur melalui MiChat tidak semudah itu. Berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun, banyak akun yang memberikan informasi palsu, terutama dengan foto mereka. Ada yang di foto sangat cantik, ternyata begitu didatangi ke hotel, yang menyambut justru sudah berumur sekitar tiga puluhan akhir. “Pernah pas ke sana, yang nyambut bude-bude,” ujar Dede mengenang peristiwa kelam di masa lalunya.

Menurut Dede, prinsipnya adalah jangan pernah mau tergiur dengan foto di akun MiChat, karena itu adalah cara mereka mencoba ‘menipu’ calon pelanggannya. Teman saya ini mengaku pernah tertipu pada tahun 2019 silam. Dia tergiur dengan foto bening yang tampak natural, chat yang ramah dari akun itu, dan tentunya tarif yang terjangkau.

Teman saya oke-oke saja saat diminta melakukan DP pulsa lima puluh ribu dan dibawakan rokok. Setelah mengisi pulsa dan membeli rokok, datanglah teman saya ke sebuah hotel yang dijanjikan. Begitu sampai parkiran, teman saya diberitahu nomor kamar dari pemilik akun, dan sialnya, nomor kamar yang disebutkan tidak ada di hotel tersebut. Pun setelah itu akun si mbak-mbak tidak bisa dihubungi lagi.

Semenjak peristiwa itu, Dede mencoba lebih selektif untuk memilih teman tidur melalui MiChat. Hal paling fundamental baginya adalah tidak mau dengan akun yang meminta DP. Harus cash di kamar sebelum pemakaian. Setidaknya dengan tidak menggunakan konsep DP, aksi penipuan bisa dihindari. Tinggal satu masalah lagi yang memang susah diatasi, yakni penipuan foto di akun MiChat.

Berawal dari rasa penasaran, saya meminta teman saya untuk memilih salah satu yang menurut dia oke, dan akan saya datangi untuk ngobrol. Saya berhasil meyakinkan teman saya untuk patungan membayar jasa salah satu perempuan dengan dalih eksperimen sosial.

Awalnya meminta dia memilih, dia malah ganti meminta saya yang memilih. Ya sudah, saya melakukan scrolling sambil cengar-cengir dan sesekali bilang, “Ini kayaknya asli, Mas,” lantas menyapa dengan menanyakan berapa tarif yang dipatok.

“Ditawar. Kemahalan itu,” ujar Dede saat akun yang saya chat memberi rate harga 700 ribu rupiah.

“Tapi emang uaapik mbaknya, Mas,” sanggah saya yang terbuai dengan pesona foto yahud pada akun itu.

“Emang pas harusnya harga segini. Ya nggak sih? Masa 700 ribu palsu fotonya?” saya masih ngeyel dan bersikukuh kalau foto di akun itu asli. Maklum, itu adalah pengalaman pertama saya mainan MiChat.

Wis rasah ngeyel, lagian nggak mau dipake juga, kan?” Dede masih mencoba memaksa saya nawar. “Tawar 400,” kata Dede tegas.

Ya sudah, karena Dede jauh lebih senior dan sudah malang melintang di dunia MiChat, makanya saya nurut saja. Setelah basa-basi singkat melalui pesan, akhirnya deal harga 400 ribu rupiah. Saya dan Dede patungan, lantas berangkatlah saya dengan jiwa jurnalisme menggebu-gebu. Pasti dapat liputan seru dengan ngobrol sama si mbak-mbak. Begitulah batin saya selama perjalanan.

Modus penipuan pengguna akun MiChat

Jadilah saya bertandang ke sebuah hotel bintang tiga di daerah Malioboro untuk menemui Icha, mbak-mbak dengan foto memesona dan aduhai yang sudah ditawar seharga 400 ribu itu. Pada akun MiChat, Icha mengklaim berumur 23 tahun. Masih sangat muda dan tergolong dedek-dedek. Bisa makin seru obrolan kami nanti. Tetapi sekalipun begitu, saya tetap mengingat kata Dede bahwa jangan terlalu berekspektasi dengan si mbaknya. Tapi ya gimana, namanya juga pengalaman pertama, ya sudah pasti banyak ekspektasi, dong.

Baca juga:  Yang Salah Pak Menteri, yang Minta Maaf Admin Twitter

Icha mengabari dia menunggu saya di lantai dua di depan lift. Kamar tempatnya menginap ternyata dipakai temannya, sehingga dia harus menunggu temannya selesai melakukan servis dengan pelanggannya itu. Wihii, makin deg-degan saya mau bertemu dengan Icha.

Akhirnya saya bertemu dengan Icha, yang sudah pasti bukanlah nama aslinya, tepat ketika keluar dari lift. Dan semua ekspektasi saya hancur berantakan seketika itu juga. Di kepala saya, suara Dede yang tertawa ngakak membahana sekencang-kencangnya.

Seperti dugaan Dede, informasi tentang Icha di aplikasi MiChat tidaklah valid. Icha yang saya temui tidak berumur 23 tahun, tetapi sekitar 30an tahun akhir atau malah 40an. Wajahnya pun berbeda. Di foto dia masih tampak imut-imut dan begitu belia, sementara yang saya temui beneran sudah layak disebut bude saya sendiri.

Ya sudah lah, toh memang niat saya cuma buat ngobrol. Akhirnya kami berkenalan singkat, dan saya menyatakan maksud untuk ngobrol-ngobrol, sehingga tidak masalah jika memang tidak masuk ke kamar.

Icha menyambut baik niat saya, terlebih ketika saya mengatakan akan tetap membayarnya. Pun dia tetap mencarikan kamar lain milik temannya yang baru saja selesai melakukan servis. Kami berdua masuk ke kamar dengan suasana remang-remang itu. Dia duduk di kasur, sementara saya memilih kursi di sebelah televisi. Televisi itu menyala, tetapi tak begitu saya perhatikan siarannya.

Saya langsung menyinggung kenapa memilih memalsukan informasi di MiChat, dan Icha mengatakan bahwa tujuannya memang untuk menjebak pelanggan. Dia mengaku, jika menggunakan informasi pribadi, jarang yang akan menghubunginya. Pun dia memiliki banyak akun dengan banyak informasi. Dia menjelaskan, masing-masing akun memiliki tarif berbeda. Semakin cantik foto yang dipajang, maka tarifnya semakin mahal. Tinggal lihat pelanggan menghubunginya dari akun yang mana, maka tarif akun itulah yang dikenakan.

“Saya punya akun namanya Dea, Icha, Rara, Gisel, dan masih banyak lagi. Fotonya beda-beda. Nyari foto cewek cakep itu gampang. Makin cakep fotonya, makin mahal rate harganya. Akun Icha itu 700 ribu. Rara 400. Gitu lah. Kalau ada yang chat lewat akun ‘Rara’ ya kasih harga Rara pas ketemu nanti,” ujar perempuan yang tidak mau mengatakan nama aslinya itu.

“Banyak calon pelanggan yang sok keminter. Mereka mikir kalau fotonya cantik tapi tarifnya murah, sudah pasti palsu. Ya sudah, tinggal nyari foto cantik dan kasih tarif mahal. Biar mereka mikir, kan mahal, masa palsu, sih?”

Bedebah. Saya merasa digampar bolak-balik sama ucapan Icha itu. Logika seperti itulah yang membuat saya tadi mau-mau saja jika harus membayar Rp 700 ribu untuk bertemu Icha. Kalau saya sampai membayar sejumlah itu dan yang saya temui adalah bude-bude di depan saya ini, saya pasti merasa menyesal bukan main. Syukurlah saya didamping sang maestro MiChat bernama Dede itu tadi, sehingga tidak terjerumus kepada penyesalan tiada akhir.

Icha mengaku tidak masalah jika pelanggan membatalkan jasanya jika merasa tertipu sewaktu bertemu di hotel. Meski begitu, menurut Icha, yang datang ke hotel biasanya akan tetap menggunakan jasanya sekalipun sempat kecewa karena tidak sesuai di MiChat.

“Kalau nggak mau pakai, ya nggak masalah,” jelasnya, yang juga enggan menyebutkan berapa umur aslinya kepada saya.

“Tapi rata-rata yang datang itu pasti sudah niat mau pake. Jadi 80% pasti jadi make jasa saya. Lagian yang mainan MiChat itu pasti tahu kalau kita nggak ada yang pake foto asli.”

Perempuan asal Semarang itu mengatakan, ada juga calon pelanggan yang marah dan mengumpat ketika mendapati sosok Icha berbeda dari yang ada di foto. Mereka yang marah biasanya langsung pergi, dan kejadian seperti itu adalah hiburan tersendiri bagi Icha. Toh dia tidak rugi apa-apa, hanya menunggu, sementara calon pelanggan yang marah-marah itu sudah rugi perjalanan, waktu, dan terakhir, rugi energi untuk marah-marah.

Tidak ada yang memasang informasi asli di akun MiChat

Baca juga:  Pelecehan di Sepak Bola Putri dan Perlunya Kita Tafakur Kepada Arsene Wenger

Bagi Icha, hampir sebagian besar perempuan yang Open BO di MiChat memalsukan informasi dirinya. Nama adalah yang paling jelas harus dipalsukan. Kedua, foto. Selebihnya adalah informasi-informasi pelengkap seperti hobi, berat badan, tinggi badan, ukuran BH, serta aturan main.

“Tapi kan sering ada yang ngasih testimoni lewat chat dan dicantumin di foto akunnya itu, Bude, eh…, Mbak?” tanya saya membahas banyaknya akun yang memberikan testimoni untuk meyakinkan calon pelanggan bahwa akun mereka asli.

“Halah, testimoni itu kan gampang dibuat-buat,” balas Icha tanpa peduli saya kelepasan memanggilnya ‘Bude’.

“Saya bisa pake akun palsu buat kasih testimoni ke temen saya, atau malah ke akun saya yang lain. Testimoni itu kan ya cara lain buat menipu calon pelanggan,” katanya.

Icha menegaskan, ada banyak cara untuk meyakinkan calon pelanggan kalau foto mereka itu asli. Testimoni adalah salah satu cara. Cara lain adalah memiliki stok foto banyak dari orang yang fotonya dicolong sebagai akun open BO. “Kalau calon pelanggan minta kirim foto, ya saya kirim foto-foto dari stok di HP saya. Gampang,” terangnya.

“Pokoknya foto itu nomor satu!”

Tidak bisa dimungkiri, foto adalah daya tarik utama untuk menggaet calon pelanggan. Memasang foto ‘tidak menarik’ artinya akan kesulitan mendapatkan pelanggan. “Sekalipun calon pelanggan tahu kita-kita nggak pake foto asli, mereka biasanya tetap berharap nemu yang asli. Jadinya memang wajib pake foto cantik buat mengecoh mereka yang pake prinsip ‘siapa tau asli’.”

Bertukar akun, bertukar pelanggan, berbagi hasil

Saya kemudian tertarik untuk mengetahui apakah satu akun MiChat itu hanya dipegang satu orang saja, atau justru akun itu dipakai oleh banyak orang sehingga bisa bergiliran mendapat pelanggannya, dan Icha membenarkan hal tersebut.

Dia mengaku menginap bersama teman-temannya sesama PSK di kamar yang saling bersebelahan. Kerja sama di antara mereka terjalin dengan baik, dan mereka telah melakukan aktivitas ini bertahun-tahun. Masing-masing dari mereka memiliki banyak akun MiChat, pun dari banyak akun itu juga siapa saja bisa memakai.

Semisal akun ‘Icha’ mendapat pelanggan dan kebetulan yang sedang free adalah ‘Dea’, maka Dea akan menemui pelanggan tersebut dan mengaku sebagai Icha. Nanti akan ada pembagian hasil jika mendapat pelanggan dari akun temannya itu. “Tuker-tukeran gitu. Siapa yang selo. Kalau saya dapet chat tapi pas layanin pelanggan lain, atau misal emang lagi males, ya sudah saya kasih ke temen saya. Nanti bagi hasil, gitu.”

Sistem berbagi akun tersebut sangat menguntungkan menurut Icha, karena sekalipun dia sedang libur, dia tetap bisa mendapatkan uang apabila berhasil mendapat pelanggan melalui akunnya. Semisal dia mendapat pelanggan, dia akan melempar pelanggan itu ke temannya yang sudah siap di hotel tertentu, dan tinggal menyampaikan perihal jadwal yang sudah ditentukan. “Kalau kebetulan lagi libur bisa tetap dapat uang. Apalagi kalau pas libur panjang misal lagi datang bulan. Kalau off terus kan ya nggak makan saya. Makanya konsep berbagi akun itu sangat membantu.”

Icha mengatakan, dengan konsep banyak akun dan bertukar pelanggan itu, dia bisa mengantongi lebih dari satu juta rupiah dalam satu malam. Dia memiliki akun MiChat dengan tarif 300 ribu, 500 ribu, dan yang paling tinggi adalah 800 ribu rupiah. Dalam satu malam, bekerja mulai pukul 19.00 sampai mentok pukul 01.00, dia bisa menerima tiga sampai lima pelanggan. Setelah dirasa pendapatannya cukup, dia memutuskan untuk beristirahat di kamar itu sampai pagi, lantas pulang ke tempat tinggalnya.

“Tetapi gara-gara pandemi hampir nggak ada pelanggan kemarin itu.” Icha membahas betapa menderita dirinya karena tidak memiliki pemasukan selama berbulan-bulan.

“Akhir-akhir ini sudah mendingan. Tetapi sebulan ini juga sepi, karena kan puasa. Banyak yang nggak mau pakai jasa open BO kalau puasa.”

“Kalau pas nggak ada pemasukan kayak dulu, terus nyari uangnya gimana?”

Icha menjawab bahwa dia dan rekan-rekan sesama PSK merasa beruntung karena ada jasa VCS. Pandemi ternyata membuat peminat VCS bertambah, dan meski pendapatannya lebih sedikit dan harus berpura-pura nafsu di kamera, setidaknya masih memiliki pemasukan.

Baca juga:  Rekomendasi Mie Ayam di Jogja Versi Info Mie Ayam YK

“VCS itu secara konsep gampang, tapi susahnya harus pura-pura keenakan dan menikmati permainan. Kalau ketemu langsung kan tinggal digas tanpa repot-repot mendesah-desah gitu,” jawabnya lebih jauh. “VCS juga sama, kita saling bertukar akun dan saling bagi komisi gitu.”

Saya lantas menanyakan perihal ‘agen’ yang sering disebut di deskripsi akun MiChat. Banyak yang menuliskan ‘asli, tanpa agen’. Icha mengatakan bahwa konsep agen ya sama seperti pengelola banyak akun MiChat itu. Jadi para PSK tinggal bersantai di hotel, dan agen mereka yang berkomunikasi dengan calon pelanggan di MiChat.

Konsep sederhananya seperti itu, dan ketika saya menanyakan seperti apa konsep rumitnya, Icha menolak menjawab. Pun Icha tidak mau memberi keterangan apakah dia beroperasi menggunakan agen atau tidak.

“Pokoknya gitu. Dan nggak hanya di MiChat. MiChat itu kan baru booming sekitar 2017 kalau saya nggak salah. Dulu sempat tenar Line Nearby juga. Pokoknya manfaatin akun-akun seperti itu. Sebelum zaman aplikasi begituan, nyari pelanggannya lewat Facebook. Sama saja, ada banyak yang pake agen juga. Pake agen itu enak. Agennya yang nyari pelanggan,” terang perempuan yang mengaku sudah menjalani profesi sebagai PSK sejak lulus SMA bertahun-tahun silam itu.

Obrolan kami berakhir karena Icha mengklaim ada pelanggan yang mau datang. Pun memang sudah tidak ada lagi yang bisa saya kulik darinya semenjak dia menolak menjawab pertanyaan paling penting seputar agen yang saya singgung tadi. Saya lantas meninggalkan hotel dan kembali menemui Dede.

Cara mengantisipasi penipuan saat mau menggunakan jasa Open BO

Dede tertawa sejadi-jadinya saat saya menceritakan Icha ternyata sudah bude-bude dan bukannya berumur 23 tahun. Berkali-kali dia mengatakan untung sudah ditawar jadi 400 ribu rupiah, sehingga nggak terlalu tertipu.

Dede mengklaim, sebenarnya mencari PSK melalui MiChat memang sudah bukan pilihan utamanya. Dia kebetulan iseng mainan MiChat lagi dan penasaran seperti apa dunia MiChat yang pernah dia jajaki begitu lama. “Kalau emang niat nyari open BO, mending lewat grup Facebook,” tegasnya sehingga saya teringat ucapan Icha beberapa waktu sebelumnya.

“Emang masih zaman di Facebook?”

“Masih, lah.” Dede menyahut. “Justru di Facebook itu lebih aman. Kan mereka posting di grup, nah di situ kan semua anggota bisa komen. Kalau emang penipuan, pasti banyak yang melaporkan. Dan banyak juga yang ngasih review sama yang open BO,” tegasnya.

“Lah, di MiChat juga pada ngasih testimoni atau ngereview, tapi ternyata itu bisa dibuat-buat sama mereka sendiri, Mas,” sanggah saya menggunakan informasi yang saya dapatkan dari Icha.

“Iya, tapi kalo di Facebook, misal nggak sesuai dan merasa ketipu, kan tinggal bikin postingan biar banyak orang nggak ketipu. Pokoknya lebih aman, deh. Dan dari Facebook itu, kalau sudah nemu yang enak, biasanya saya jadiin langganan.”

Saya kemudian bertanya kepada maestro prostitusi online satu ini, bagaimana caranya untuk meminimalisir kena tipu dari para pemilik akun MiChat maupun akun Facebook. Dengan gaya bijaksana, Dede menegaskan kunci utamanya adalah jangan mudah tertarik dengan penampilan di foto.

“Jangan mudah tertarik dengan foto. Jangan tanggepin yang minta DP duluan. Dan yang jelas, kudu nawar senawar-nawarnya. Bodo amat dibilang kere atau gimana, pokoknya buat jaga-jaga saja sapa tau pas ketemu di hotel, eh ternyata mengecewakan.”

Sekali lagi Dede menegaskan, justru yang tampak bening itu berpotensi palsu, makanya teman saya tidak pernah tergoda untuk menghubungi yang terlalu bening. Bahkan menurutnya, yang fotonya biasa-biasa saja dan tampak natural saja masih memiliki potensi palsu. Menurut teman saya, urusan MiChat, atau urusan platform apa saja yang berhubungan dengan open BO, kita harus memiliki level skeptis setinggi jurnalis yang sedang melakukan investigasi.

BACA JUGA  Penyedia Jasa Open BO dan Bagaimana Mereka Menjalankannya liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.