Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Yang Lucu dari Indonesian Idol dan Settingan Audisi di Dalamnya

Riyanto oleh Riyanto
3 Desember 2020
A A
Yang Lucu dari Indonesian Idol dan Settingan Audisi di Dalamnya

Yang Lucu dari Indonesian Idol dan Settingan Audisi di Dalamnya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indonesian Idol adalah ajang pencarian bakat menyanyi, tapi kompetisi ini malah lebih mirip ajang pencarian bakat komedi.

Saat ini hanya ada sedikit ajang pencarian bakat dalam bidang komedi. Dua yang paling besar adalah SUCI di Kompas TV dan SUCA di Indosiar.

Keduanya adalah kompetisi untuk para komika alias standup comedy-an di mana mereka bisa melempar bit-bit lucu yang bisa bikin penonton tertawa. Akan tetapi, dua kompetisi bergengsi di dunia komedi itu masih kalah telak dibandingkan Indonesian Idol perihal lelucon.

Welahh, lha gimana? Indonesian Idol kan kompetisi nyanyi bukannya ngelawak? Pegimane ceritanye bisa lebih lucu?

Leluconnya memang bukan ada di para kontestan, wong suara para kontestan itu sudah pasti bagus-bagus kalo berhasil dapetin Golden Ticket.

Iya lah, wong temen saya yang suaranya paling bagus sekampus aja gagal lolos audisi di depan juri artis, berarti kan yang berhasil audisi di depan Mas Anang dan kawan-kawan itu suaranya sudah pasti bagus banget.

Akan tetapi selain urusan kontestan, lelucon justru ada pada teknis-teknis penyelenggaraan acara itu sendiri. Berikut adalah beberapa lelucon yang saya temukan.

Lelucon pertama, pakai gedung-gedung Singapura buat background

Ini yang paling hangat diperbincangkan, terkait penggunaan background saat audisi peserta.

Usut punya usut, foto gedung-gedung di background itu nggak berlokasi di Indonesia, melainkan di Singapura. Ini jelas sangat lucu, mengingat Indonesian Idol yang di Indonesia, kok malah background yang dipake adalah gedung-gedung Singapura?

Lagian, kenapa pula harus pake gedung-gedung di negara lain sih? Indonesia itu stok gedung bejibun banget kok.

Di Jakarta saja sudah umpyek-umpyekan gitu. Belum lagi di kota lain. Belum lagi di Jogja, yang meski tingginya dibatasi, tapi sudah mulai bejibun di mana-mana.

Atau jangan-jangan pihak Indonesian Idol bekerja sama dengan Singapura akibat Singapore Idol sudah stop tayang lama banget sejak 2009 lalu? jadi Singapura menyumbang foto gedung-gedung biar masih terlibat dengan waralaba Idol-idolan itu? Hmmm, bisa jadi.

Lelucon kedua, audisi settingannya

Tadi sudah saya bahas sekilas kalo temen saya pernah ikutan Indonesian Idol. Dia yang suaranya bagus saja harus gagal saat audisi tahap pertama dan belum ketemu juri artis.

Percayalah, suara teman saya itu bagus. Yah, setidaknya kalo ikutan lomba nyanyi sekabupaten bisa juara dua atau tiga lah, mentok lagi apes ya harapan satu.

Iklan

Nah, dia yang suaranya bagus aja gagal lolos, berarti seharusnya yang lolos sampai ketemu juri itu suaranya lebih bagus kan ya. Tetapi lucunya, dan benar-benar lucunya, beberapa peserta yang nggak bisa nyanyi kok bisa ketemu sama juri-juri artis?

Bahkan jumlah peserta lucu bin ajaib ini nggak sedikit. Saya masih kebayang muka Mas Anang yang nyengir-nyengir saat denger suara abstrak para peserta dan berakhir memulangkan peserta itu.

Ini jelas lelucon, mengingat audisi model begitu adalah settingan. Biar yang nongol bukan peserta dengan suara bagus-bagus aja dan penonton malah bosen, maka dihadirkan sosok-sosok lucu yang emang sudah didapuk harus melawak.

Di audisi Indonesian Idol tahun ini, kemarin saya lihat ada anggota Akatsuki yang ikutan. Dia adalah Obito Uchiha yang masih pake topeng sarang tawon. Asli, ada gitu yang audisi pake jubah Akatsuki dan topeng tawon?

Udah gitu bisa-bisanya lolos audisi tahap awal dan sampai ke babak audisi depan juri artis? Kok ngelawak, wong ajang nyanyi, malah yang datang wibu lagi kospley. Gimana saya nggak kemekelen? Udah gitu suaranya ambyar lagi (ya jelas lah, wong setingan).

Gimana. Saya. Nggak. Kemekelen?

Tetapi dari kejadian itu, saya malah kasihan dengan temen saya. Dia kerap diejek kalah sama peserta-peserta ajaib yang berhasil lolos sampai ke audisi di depan artis, sementara teman saya saja gagal di audisi pertama. Itu kan artinya suara temen saya jauh lebih jelek daripada peserta-peserta ajaib itu.

Epiknya lagi, biasanya peserta audisi yang paling aneh dan lucu, biasanya dipanggil lagi suatu saat nanti ke panggung spekta. Hebat bener nggak tuh?

Lelucon ketiga, sistem eliminasinya masih primitif

Lelucon lainnya adalah sistem eliminasi yang menggunakan vote. Oke, itu artinya Indonesian Idol memang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, akan tetapi justru di sana lah lucunya.

Weh, saya nggak bilang demokrasi itu lucu loh, meski ya… yahhh, gitu deh. Yang saya maksud adalah pengaplikasian sistem demokrasi di sebuah kompetisi yang mengedepankan skill.

Ya lucu, wong banyak kontestan di panggung spekta yang suaranya bagus, tetapi justru pulang duluan karena kalah vote. Yang diuntungkan dengan konsep seperti ini siapa? Ya jelas yang sudah memiliki basis pendukung banyak dari sononya.

Misalnya ada selebgram dengan followers seratus ribu dan ikutan Indonesian Idol, lolos, terus berhasil sampai ke spekta. Besar kemungkinan dia akan bertahan lama karena followersnya berpotensi mendukungnya.

Lelucon keempat, dewan jurinya

Yang paling paripurna dan pamungkas sebagai lelucon adalah para dewan jurinya.

Saya yakin benar bahwa Mas Anang, Mas Ari Laso, Teh Rossa, dan Bu Maia itu berkompeten di bidangnya, pun memiliki legitimasi kuat untuk berkomentar. Akan tetapi semua itu menjadi nggak berguna sama sekali ketika sistem eliminasinya masih berdasarkan vote itu tadi.

Saya malah suka proses audisi, meski banyak settingan, tapi para juri artis lah yang nentuin peserta bakal lanjut atau pulang. Coba kalau pas audisi udah pake sistem vote dari pemirsah, walah bisa-bisa yang masuk spekta malah anggota Akatsuki yang saya sebut tadi.

Tapi setelah spekta dimulai, maka juri nggak punya banyak wewenang lagi buat nentuin peserta bakal pulang atau bakal lanjut. Murni dari pemirsah yang budiman di rumah.

Dalam kasus ini, SUCI dan SUCA jauh lebih baik karena dewan juri yang berkompeten itu menentukan siapa yang akan pulang dari kompetisi. Di Indonesian Idol? Juri artis yang berkompeten itu hanya menjadi komentator semata.

Makanya, sungguh lucu apabila semua dewan juri sudah memuji seorang kontestan, eh mendadak kontestan itu pulang karena kekurangan vote.

Lelucon kelima, yang nonton

Iya, tambah lucu karena yang nonton mau-mau aja nyisihin pulsa sekian ribu buat dukung jagoannya. Eh, udah ngirim SMS banyak-banyak, jagoannya udah nyanyi dengan bagus, ternyata tetep pulang juga. Kan gatheli maksimal!

BACA JUGA 3 Ciri Pemenang Idol Musim Ini dan tulisan Riyanto lainnya.

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2021 oleh

Tags: Anang HermansyahIndonesian IdolkompetisinyanyiSUCASUCI
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

Artikel Terkait

MasterChef Indonesia Program Rekayasa Saja? Berikut Bagian-bagian yang Terduga Rekayasa
Esai

Kenapa MasterChef Indonesia Bikin Sebal Orang-orang Desa?

18 Juli 2021
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Kolom

Surat Terbuka untuk Atta Halilintar yang Pengin Punya 15 Anak

28 Maret 2021
Surat Terbuka untuk Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah
Esai

Surat Terbuka untuk Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah

15 Maret 2021
persipura
Kilas

Krisis Keuangan di Masa Pandemi Membuat Persipura Terpaksa Membubarkan Diri

7 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.