MOJOK.CO – Membandingkan kisah Joker dan Naruto, dua tokoh fiksi yang sama-sama ngenes cerita hidupnya. Jika setelah menonton Joker bikin orang menyimpulkan orang jahat adalah orang baik yang disakiti, kisah Naruto membuktikan sebaliknya.

Film Joker yang sudah menggemparkan semenjak menjadi film terbaik di Festival Film Venice akhirnya tayang juga di bioskop. Menangnya Joker dalam ajang festival film tersebut tentunya mendatangkan secercah harapan bahwa Joker yang diperankan Joaquin Phoenix mampu menyaingi Joker ala Heath Ledger. Pada akhirnya ya memang begitu, banyak orang terkesan dengan akting Joaquin Phoenix.

Hingga kemudian setelah Joker tayang, topik mengenai film tersebut ramai dibicarakan di media sosial. Pertama adalah soal kesehatan mental. Memang dalam film diceritakan bahwa Arthur Fleck, seorang lelaki usia dewasa, miskin, dan hidup dengan ibunya, ternyata menderita penyakit mental sekaligus masalah pada syaraf otaknya yang membuatnya tertawa terbahak bahkan dalam keadaan sedih sekalipun. Hal ini kemudian membuat beberapa orang yang merasa tidak nyaman atau setelah menonton Joker, jadi ke-trigger buat menceritakan pengalamannya selama menonton. Yang jadi menyebalkan adalah ada beberapa orang kemudian merasa punya masalah mental serupa berdasarkan kuis-kuis sederhana yang diikuti di media sosial. HADEEEH.

Kalimat “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” tiba-tiba jadi ngetren. Kalimat ini didasarkan pada cerita Joker bahwa aslinya si Arthur adalah orang baik. Bekerja sebagai badut untuk membahagiakan orang lain. Tidak pernah mencari masalah dengan orang lain mengingat penyakit yang dialaminya. Tapi, seperti kata Patrick, “Hidup itu tidak adil, maka biasakanlah,” Arthur pun mencoba membiasakan diri. Namun apalah daya seorang manusia biasa, Arthur yang sering disiksa tanpa alasan oleh orang lain, dikibuli rekan kerjanya, hingga akhirnya dipecat, akhirnya mengetahui kepahitan tentang jati diri sebenarnya. Plus ia kemudian dipermalukan oleh idolanya sendiri di depan seluruh warga Gotham, membuatnya jadi Joker yang lepas kontrol dan jadi jahat.

Baca juga:  Naruto, Mars Perindo, dan Strategi Politik Hary Tanoe

Sungguh tragis. Banyak yang kemudian merasa “ini relate af sama aku!”

Tetapi apakah sungguh benar adanya “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”? Kisah Joker mau tidak mau mengingatkan saya pada salah satu manga dan anime terkenal dari Jepang, yakni Naruto. Kalau dipikir-pikir, Naruto ini nggak kalah tragis kisah hidupnya. Saya jabarkan dulu ketragisan hidupnya.

Naruto adalah anak yatim piatu. Ayah dan ibunya mati karena dibunuh oleh Kyuubi, Rubah Ekor 9 yang saat itu meluluhlantahkan Desa Konoha, sebuah wilayah administratif yang menjadi domisili Naruto.

Tahu bahwa Kyuubi berbahaya, makhluk ini pun disegel. Disegel di mana? Bukan di penjara, bukan di jenglot, tapi di tubuh Naruto! Bayangkan gaes, kamu udah hidup sebagai yatim piatu tanpa ada keluarga lain, masih ditambah di tubuhmu ada makhluk ganas yang sudah memporak-porandakan desa. Udah gitu makhluk itu pula yang membunuh orang tuamu.

Nggak sampai di situ, makhluk itu akan tetap ada di tubuhmu sampai kamu mati. Sebab, kalau si Kyuubi diangkat dari tubuh Naruto, masjid desa Konoha jelas akan mengabarkan kematian Naruto dalam waktu singkat. INI APA NGGAK NGENES GAES ?!!11??!

Karena keberadaan makhluk laknat Kyuubi  di dalam tubuhnya, Naruto pun menjadi anak yang dijauhi hampir seluruh warga Desa Konoha. Dasar warga desa diskriminatif. Naruto tidak hanya dianggap sebagai anak setan, tapi anak rajanya setan (karena Kyubi adalah makhluk terkuat di antara 9 makhluk berekor di Naruto Universe).

Jangankan mau ngajak main, anak yang mendekati Naruto saja pasti akan dilarang oleh orang tuanya. Udah yatim piatu, nggak punya temen lagi. Sedih nggak sih ☹

Hingga akhirnya Naruto sekolah dan mendapatkan teman dekat dan juga guru. Seiring cerita, si teman dekat Naruto, yakni Sasuke, yang baru aja klop, eh dia udah kabur aja dari desa. Sasuke terbujuk rayuan Badarawuhi, eh Orochimaru maksudnya, dan kemudian pergi dari Konoha.

Baca juga:  5 Hal yang Sering Diucapkan Seorang Movie Snob, Kamu yang Mana?

Saat beranjak remaja, Naruto bertemu kembali dengan Sasuke. Lha kok sekarang Sasuke ini malah ingin menghancurkan Desa Konoha? Owalahhh jiaaan! Sasuke pengkhianat!

Selain Sasuke, Naruto juga punya guru yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri, yakni Jiraiya, seorang ninja legendaris (yang sebenarnya juga guru dari ayah Naruto). Eh tapi kok ya di tengah cerita, si Jiraiya ini juga akhirnya mati saat sedang menjalankan sebuah misi rahasia. :’((((((((((

Itu mungkin gambaran besar betapa ngenes dan tersakitinya hidup Naruto. Tak perlu lah saya tulis secara detail karena ya kalau penasaran baca aja manganya. Intinya, meski dibombardir dengan segala hal-hal buruk, Naruto tetap jadi orang baik, tidak beralih menjadi jahat. Kenapa?

Karena tekat kuat. Tekat Naruto yang bercita-cita menjadi Hokage membuatnya tidak memedulikan ketragisan hidupnya maupun perlakuan buruk orang lain padanya. Ia hanya fokus pada dirinya dan mimpinya. Hal itu pada akhirnya justru membuat orang-orang tertarik padanya dan semakin menjadikannya orang baik. Sasukeeeh yang tadinya berkhianat pun akhirnya kembali ke jalan yang benar karena keteguhan hati Naruto.

Jadi, nggak perlu deh membenarkan jalan hidup Joker. Kalau kamu merasa jadi orang yang disakiti, pengin muntab dan berubah jadi nihilis kayak Joker, sebaiknya mulai baca atau nonton Naruto. Kemudian, tirulah jalan ninja Naruto yang tetap bahkan menjadi lebih baik ketika ia disakiti.

Pesan moral dari dua kisah hidup tokoh fiksi yang sama ngenesnya tapi punya ending beda ini ialah, berhenti deh bikin aforisma cuma gara-gara habis nonton satu film.

BACA JUGA Review Film Joker: Tokoh yang Dirampas Kemanusiaannya Sampai Tak Takut Lagi pada Apa-apa atau artikel rubrik FILM lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles