MOJOK.COBesok, pernikahan Pangeran Harry dari Inggris akan digelar. Pencinta monarki, silakan bersukacita. Yang antifeodalisme, mau nyinyir atau menghindar dari media sosial seharian juga silakan. Mojok akan mencoba mengulik hikmah pernikahan ini dalam nuansa Ramadan.

Prince Henry of Wales KCVO (Henry Charles Albert David), atau Pangeran Harry aja, akhirnya berhasil menghindari pertanyaan “Kapan kawin?” saat Lebaran Natal tahun ini. Besok, 19 Mei 2018, cowok 33 tahun ini akan menikahi Meghan Markle, aktris berkebangsaan Amerika Serikat berusia 36 tahun.

Sekilas info, pernikahan akan dilangsungkan di St. George’s Chaple, Windsor Castle, di pagi hari waktu Inggris atau pukul 18.00 WIB. Resepsi digelar sorenya (waktu Inggris) di Frogmore House. Sebanyak 600 undangan disebar untuk akad nikah di Windsor dan 200 di antaranya kembali diundang untuk resepsi di Frogmore walau buat apa juga kita tahu toh nggak ngefek sama kehidupan kita.

Karena Mojok bukan BBC, kami mencoba untuk mengulas sisi lain pernikahan ini. Dan karena semua kegiatan di bulan Ramadan lekat kaitannya dengan hikmah, meskipun keluarga kerajaan tidak menganut ajaran Islam, bukan berarti pernikahan ini tidak mengandung hikmah yang bisa kita tuai.

(((Kita tuaaaiii)))

Menahan lapar dan dahaga memberikan kita hikmah untuk menghargai dan merasakan nasib saudara kita yang kurang mampu. Membaca Al-Quran di bulan puasa menjanjikan kita pahala 10 kali lipat per huruf dari biasanya. Lalu, apa yang bisa dimaknai dan dipetik dari pernikahan kerajaan nun jauh di Inggris terhadap umat?

Pertama, jadwal pernikahan anak bungsu dari Pangeran Charles ini berlangsung di hari yang sama dengan gelaran final Piala FA (Football Associations, semacam PSSI-nya Inggris). Pangeran William, kakak tertua Harry, yang diminta adiknya menjadi pagar bagus kemudian menghadapi sebuah dilema. William wajib hadir di pertandingan karena dia adalah Presiden FA (baca: Ketum PSSI Inggris) dan ini laga final.

Baca juga:  Apa Kata Islam tentang Body Shaming?

Tapi, sebagai kakak yang menyayangi adiknya, tidak mungkin ia menolak permintaan Harry.

Pada titik ini, alhamdulillah, William mengambil langkah tepat: ia menerima permintaan adiknya untuk mendampingi pernikahannya. Laga final yang dihelat pukul 18.30 waktu Inggris membuat William bisa jadi telat atau bahkan tidak datang karena pernikahan diperkirakan selesai menjelang petang.

Hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini: William mengajarkan kita untuk mementingkan keluarga di atas segalanya. Tindakan Williams adalah implementasi hadis Rasulullah tentang kewajiban membahagiakan adik yang kira-kira berbunyi: “Hak adik kepada kakak seperti hak anak kepada orang tua.”

Dua, fakta dari pernikahan yang patut disorot adalah berubahnya tradisi hari pernikahan. Biasanya, pernikahan kerajaan diadakan pada tengah minggu. Sebagai contoh, Pangeran Charles menikah di hari Rabu, sedangkan Pangeran Williams di hari Jumat. Lain hal dengan ayah dan kakaknya, Harry memutuskan menghelat hajatan di hari Sabtu alias weekend alias hari yang memang sudah libur.

Keputusan ini mengundang pro dan kontra. Pihak kontra mengatakan bahwa pelaksanaan pernikahan di hari Sabtu membuat mereka tidak mendapatkan libur tambahan dan itu menyebalkan. Sedangkan pihak pro didominasi oleh para pebisnis. Hal ini dilandasi riset The Centre for Economics and Business Research yang mengatakan bahwa hari libur membuat produksi ekonomi Inggris turun hingga 2,3 miliar paun (ini serius).

Lalu, apa kata Harry dan Markle? Menurut juru bicara Istana Kensington, pengubahan tanggal ke hari libur mempunyai alasan agar publik bisa bergabung merayakan hari pernikahan dengan menyaksikannya di layar kaca tanpa beban pekerjaan. Perlu dicatat, pernikahan senilai 9,5 triliun rupiah ini diliput oleh BBC, ITV, Sky News, Sky One, CBS, NBC, ABC, E!, PBS, TLC, FOX, HBO, CBC, Lativi, TVNZ, dan SBS. Hayo, sangking banyaknya yang mau meliput, Anda sampai tidak sadar kan saya selipkan Lativi di sana?

Baca juga:  Maulid Nabi: Alasan Saya Sebagai Umat Katolik Mengagumi Nabi Muhammad

Hikmah yang bisa dipetik kemudian sederhana. Harry dan Markle tidak ingin pernikahannya lantas merugikan ekonomi negara. Tradisi memang penting, namun menjaga stabilitas ekonomi Inggris, utamanya setelah Brexit, dianggap jauh lebih penting.

Ini persis implementasi Surah Al-Hasyr ayat 9, “Dan mereka mengutamakan (orang lain), atas diri mereka sendiri sekali pun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa dipelihara dari kekikiran darinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Alhamdulillah, Harry dan Markle termasuk orang yang beruntung.

Ketiga, keputusannya menikahi Pangeran Harry membuat Meghan Markle harus mengucapkan selamat tinggal terhadap karir keaktrisannya.

Bagi Anda yang mengenal Markle lewat serial Suits seperti saya, Anda harus menerima kenyataan bahwa Markle tidak akan muncul lagi di serial tersebut. Sebagai calon Duchess of Cambridge, tahun ini Markle harus memutus kontraknya dengan semua institusi. Selain mengakhiri karir aktingnya, Markle bahkan tidak diperbolehkan meneruskan pekerjaannya dalam kampanye kesetaraan gender dengan PBB atau pun organisasi lain.

Markle akan menjalankan kewajibannya sebagai istri seorang pangeran dengan menjadi filantropis penuh waktu. Sama seperti Kate Middleton, Markle akan memulai sebuah institusi amal dengan fokus isu yang menjadi pilihannya.

Sebagai tokoh kesetaraan gender, tentu mudah bagi Markle jika ia ingin terus mempertahankan keinginannya menjadi aktris dan “melawan” tradisi (seperti yang sudah dilakukannya dalam beberapa hal di pernikahannya). Namun, tindakan kompromi Markle terhadap kewajibannya sebagai seorang istri pangeran juga patut kita apresiasi.

Tindakan Markle ini sesuai pula dengan hadis Rasulullah yang berbunyi, “Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”

Subhanallah. Semoga pernikahan kerajaan kali ini menjadi pernikahan yang sakinah mawadah warahmah~