Pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina tidak hanya menghina masyarakat dengan menyandera frekuensi publik, melainkan juga pada satu titik ia telah merusak peradaban kita yang adiluhung. Ini bukan masalah iri atau tidak iri, beneran. Ini perkara substantif, perkara kemanusiaan.

Kalau sekadar nikah dan disiarkan di televisi, Anang Hermansyah dan istrinya-yang-saya-gak-tau-namanya-dan-males-gugling-itu juga pernah. Gak main-main, bahkan konon sampai ditanggung oleh ABPD Kabupaten Jember (meski belum juga terbukti). Tapi pernikahan Raffi ini berbahaya. Bayangkan, berapa juta ibu-ibu beranak gadis yang kemampleng pengen punya mantu kayak Raffi?

Menimbang unsur-unsur delik peristiwa, maka perkawinan Raffi dapat dianggap sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan. Untuk itu, saya merekomendasikan kepada khalayak ramai, masyarakat, dan seluruh elemen publik untuk memboikot acara-acara serupa di masa depan. Bukan apa-apa, ini terkait dengan kemaslahatan umat jomblo dan bujangan tua di seluruh pelosok nusantara.

Setidaknya ada empat alasan mengapa pernikahan Raffi-Gigi telah menghancurkan sendi-sendi ketertiban umum yang dibangun berdasarkan asas hankamrata dan keadilan sosial. Alasan tersebut terangkum sebagai berikut.

1. Pernikahan Raffi Ahmad melahirkan delusi massal para calon istri.

Bagi saya yang jomblo, dan (barangkali) mau nikah tahun depan, pernikahan Raffi akan membuat pasangan saya nuntut yang macem-macem. Dengan mas kawin yang hampir mencapai  1M, Raffi membuat tiap-tiap perempuan mendambakan mas kawin mahal. 

Jangan salah, saya sepakat bahwa setiap perempuan mesti diistimewakan. Tapi memberi mas kawin tas dan sepatu seharga ratusan juta itu penghinaan buat kemanusiaan. Lha piye? Ibu-ibu warga korban gusuran Pabrik Semen Rembang saja masih susah cari makan, ini mas kawin kok harganya puluhan kali panen padi.

Kalo saya sekaya Denny JA yang bisa bikin kuis puisi esai berhadiah ratusan juta sih gak masalah. Lha wong saya ini mung penulis partikelir yang serupa bungkus lepat dalam besek sisa tahlilan. Bagaimana saya bisa membeli mas kawin mahal, untuk bayar kosan dan beli Sepatu Vans Golf Wang saja aku tak bisa. 

Saya ketar-ketir membayangkan calon istri saya (kalau  ada) dengan wajah memelas meminta mas kawin yang aneh-aneh. “Maaas, mbok aku dibelikan lukisannya Agus Suwage buat mas kawin.” Lak bajingan (kayak orang yang ngaku-ngaku pluralis itu). 

2. Pernikahan Raffi Ahmad membuat para calon mertua memasang standar tinggi buat resepsi.

Untuk resepsi saja, Raffi dan istrinya-yang-tiba-tiba-saya-lupa-namanya-itu menghabiskan biaya banyak. Belum kateringnya, gedung manten, seserahan dan yang paling berbahaya: pengisi acara dengan taburan bintang-bintang lokal. 

Ingat, pernikahan bukan hanya perkara dua orang jatuh cinta yang kemudian memutuskan bersama. Tapi juga bersatunya dua keluarga besar. Bayangkan pas kalian anjangsana untuk melamar pacar, ibu atau bapak calon mertua meminta resepsi yang spektakuler. 

Kalo mertua Anda sekadar minta rumah untuk anaknya, mobil atau perhiasan, itu lumrah. Atau minta pengisi cara kawinan seperti OM Soneta dengan penyanyi Via Valen, itu biasa. Bayangke njuk misal calon mertuamu itu anak edgy dan artsy pada masa mudanya. “Dik Dhani, saya dan ibu gak minta yang macem-macem untuk pernikahan kalian. Cukup ngundang Pink Floyd atau Kantata Takwa sebagai klangenan hiburan warga.” Lak modar.

3. Pernikahan Raffi Ahmad menaikan harga katering, sewa gedung dan rias pengantin.

Dengan disiarkannya acara pernikahan ini. Pasangan-pasangan labil akan segera berhasrat gasik rabi. Tayangan pernikahan itu menjual imaji bahwa pernikahan adalah sebuah peristiwa bahagia, indah, penuh suka cita dan menyenangkan. (Padahal, semua yang pernah nikah tahu kalau ini salah. Pernikahan adalah upaya menahan senyum di tengah ini-itu yang acak-adut rumit nan pelik.) 

Pernikahan Raffi akan membuat pengusaha katering menaikan harga dengan alasan, “Wah, banyak yang mau nikah, Mas. Jadi keteteran.” Pengusaha gedung akan menaikan harga dengan alasan, “Walah, Mas. Udah dibooking semua.” Dan pengusaha rias manten juga bersepakat, “Walah, jadwal saya penuh.” Kenapa? Karena semua gak mau kalah dan berlomba-lomba dengan Raffi. Padahal kawin bukan balapan. (Njuk kok do gasik rabi ya?)

4. Pernikahan Raffi Ahmad menyadarkan betapa miskinnya kita.

Seorang kawan dahulu pernah bilang, resepsi nikah itu yang biasa aja, yang penting lunas uang muka cicilan KPR. Tapi kita tahu, teman saya ini melarat dan dia bukan Raffi Ahmad. Apa yang membuat Raffi Ahmad berbeda dengan kebanyakan kita adalah fakta bahwa dia kaya, sering nongol di TV dan punya kisah hidup yang menarik. 

Pernikahan eksravagan yang menghabiskan miliaran rupiah, menyandera frekuensi publik, dan menghina akal sehat adalah satu cara membaca bahwa kita terlampau miskin untuk bisa berpikir waras. 

Berapa ribu otak yang diracuni dengan pikiran bahwa resepsi pernikahan yang mewah lebih penting daripada kehidupan rumah tangga setelahnya. Berapa juta remaja yang tumbuh kemudian bercita-cita menikah dengan perayaan glamor ala Raffi Ahmad? Berapa juta orang tua yang mesti berkorban demi ego gengsi bedebah anak-anak mereka yang tak tahu diri nantinya?

Untuk itu, saya menghimbau Komisi Penyiaran Indonesia—beserta rekan-rekan sejawat yang mau rabi dalam waktu dekat—untuk menuntut Raffi Ahmad dan tayangan TV itu. Mereka telah mengancam stabilitas hubungan kita dengan membuat standar kawinan yang gak masuk akal. 

Aktivis Gerakan Mau Nikah Muda, bersatulah! Kita tidak akan kehilangan apa-apa, kecuali belenggu kita.

  • Conania Edogawa

    Saya hanya setuju point no 4 saja

  • annabelle pratama

    lebay lo,
    sian bgt yah lo keliatan banget irinya ckck

  • shuen chao

    cuma no.4 …..yg lain nggak

  • ashof H

    Betul mas, saya sngt setuju dengan tulisan anda, g usah diperhatiin koment alayers dahsyat disini, mereka jarang mikir sesuatu secara lebih jauh dan mendalam, paling juga koment sambil lambai2 nyanyi lagu alay, nih acara pernikahan luar biasa alay g bermanfaat dan lebih byk mudharatx, acara buruk yg yg secara g langsung sdh mencuri hak warga yg enek liat acarax, juga ngelanggar undang2 penyiaran, standar pernikahan sekarang meroket gara2 pernikahan yg berlebihan kayak gini, dan pastix para laki2 jd makin males nikah krn biaya yg makin membumbung, thanks mas buat tulisanx, sdh muak dg acarax dan semua pendukungx, acara alay dan terlalu byk mudharat.

    • Ari

      Dari dulu gue nggak pernah ngerti dari mana kata “nya” berubah jadi hanya “x” saja. (Sorry keluar jalur) tapi saya pikir itu hanya di pakai oleh para alay *tadinya.
      Mungkin sama alay dan lebay nya sama tulisan ini.
      Setuju banget deh sama komen Bintanglaut & MARTHAN. Hahah..

      • ashof H

        Coba dong bikin bantahan tulisan diatas, itu klo emang loe punya argument yg tepat!? Tapi emang bener kan pernikahan Mereka lebih banyak g manfaatxxx bagi masyarakat dr pd mendidikxxx,
        Heh emang X masalh bgt ya, sorry ya bls lewat hp, biar dipersingkat aja maksudxxx :v

        • Ari

          Sudah di wakilkan sm @bintanglaut dan @MARTHAN . Ngapain argue lagi ? ? ? eh btw “xxx” itu terinspirasi sm yg sering loe ketik di google yah ? Hahah

          • ashof H

            XXX bisa berarti banyak lho mas, jg2 situ sndri lgi yg biasa ketik xxx di google, Ooh jd argumentnya nebeng tetangga sebelah, good good lanjutkan revolusi mentalnya 😀

          • Ari

            Saya baru kmarin googling kata kunci : x atau xxx adalah pengganti kata “nya” . Hsilnya yg kluar : kamus gaul. Bukan bhasa indonesia yg baik & benar. Haha..

          • Adit

            Ngga habis pikir. Setelah saya baca beberapa Artikelnya. Semuanya kritikan. Ya monggo mas kritik2 terus deh yang bermutu. Dan tingkatkan terus mutunya. Bahasanya sampean banyak yang over dan contoh “asu” “bajingan” sampean ngritik karena kejelekan orang. Tapi bahasane sampean yo ra penak. Ak mules2 baca tulisan sampean. Kritiklah dengan lebih sopan kalo pengen dibaca semua khalayak. Anak sampean bisa “ngasu2ni” sampean nek jengkel. Thx

  • MARTHAN

    menurut gua iini pemikiran bodoh. hahahahaha
    membuat imertua menaikan standar menantu?? ” dari dulu dah ada mertua kaya gitu ”
    Jomblo kok di bawa?? curhat??
    betapa miskinnya kita?? gak mau miskin? y kerja. bukan buat statement gak jelas kaya gini

  • bagyo bagyo

    aku tak ngakak sumpah, apik tulisane :))

  • Guest

    wahai Raffi Ahmad Dhani, mari kita ngopi?

  • Kueh Lekker

    Untung ane kagak nonton acaranya samoe detik ini hahaha. Makanya setel aja discovery chanel atau national geo lebih menarik gannn 🙂

  • bintanglaut

    Ini boleh ditanggepi dengan serius ndak sih?! Haha

    Selain point nomer 4, point-point sisanya terlalu mengada-ada. Seolah semua calon mertua mata duiten, seolah mereka gak punya pikiran yang waras sampek-sampek minta hal yang gak mungkin ke calon menantunya. Seolah semua wanita adalah pemimpi akut, pengkhayal peraih medali emas. Seolah pengusaha katering adalah lintah darat.
    Pikiran-pikiran kayak gini yang secara gak sadar justru mengerdilkan diri sendiri. 🙂

  • seriani

    bahahahahahhahahahahaha. tiwas macak serius!

  • Genduk

    cuk. kon iku mestine nggawe disclaimer: le moco ojok serius2 and keep your sarcasm level high.
    bajingan, aku ngekek ndelok komen2e.

  • godlob

    you got me on via valen, boss!!

  • Widya

    Sebagian point 4 says setuju. Penyiaran program television di Indonesia perlu bebenah , program pernikahan raffi Dan Gigi INI mmg terlalu berlebihan bagi saya.

  • Zhanu Ambotngparttwo

    Mna trknal siti nurhalizah ato rafi,,,siti wktu kahwin mngadakan majlis perkahwinan khas tuk pra penggemarny ato fans bahkan siti mngdakan majlis perkawinanya di dua tempat yaitu d kuala lumpur dan di kampung tanah kelahirannya,tpi tklah berlebihan,sperti rafi,,,,indo to klihatan banget mna miskin dan mna kaya,pihak tv pun sngaja mengeksploitasi untuk mndpat job yg bnyak,alangkah indahnya seorng artis yg bnyk duit bila kawin mngdakan majlis kawin secara terbuka,,,mksd sya khas tuk fans,,,,islam mngajarkan kesederhanaan,alangkah ruginya,suatu pernikahan yg mahal2 tpi tk tau lgi halangan apa yg akan menimpa kelak,adkah itu kekal ato sbliknya,

  • ovdep

    “4. Pernikahan Raffi Ahmad menyadarkan betapa miskinnya kita” – Nek iki setuju wkwkwkwkwk

    sing do komen iri po do komen ra pas,,,,njenengan salah website mas….wong website dinggo santai santai…ora dinggo bantai bantai…salah kamar yo minggato mas.

  • Adit

    Ngga habis pikir. Setelah saya baca beberapa Artikelnya. Semuanya kritikan. Ya monggo mas kritik2 terus deh yang bermutu. Dan tingkatkan terus mutunya. Bahasanya sampean banyak yang over dan contoh “asu” “bajingan” sampean ngritik karena kejelekan orang. Tapi bahasane sampean yo ra penak. Ak mules2 baca tulisan sampean. Kritiklah dengan lebih sopan kalo pengen dibaca semua khalayak. Anak sampean bisa “ngasu2ni” sampean nek jengkel. Thxxx

  • Yuk! berhemat untuk pengeluaran undangan pernikahan.

    Jaman sekarang udah saatnya pake undangan versi online.

    Bikin website undangan pernikahan http://www.nikahnya.com

    Kumpulan artikel pernikahan bisa dilihat juga di http://www.pernikahan.link – artikel pernikahan

  • Analisa menarik, terutama buat kita yang masih meniti hati untuk meninggalkan ke jomblo an

  • Veronica Yuni Kartika Sari

    Mas mba. Kata2 nya yg sopan ya kalo nulis artikel, ini bukan cuma dibaca satu orang. Tapi seluruh rakyat indonesia tau. Anda berpendidikan to? Tolong koreksi kata2 nya ya. Jika menggunakan kata2 spt itu terlihat sekali jika anda iri, malah seperti provokator ga penting. Trims

  • MustHermawanAC™

    Kok do serius to le dho komentar?
    La mbok selow wae.
    Wes jelas mdc ki tulisan ngenthir…..penghilang stresss….
    Hahaha

No more articles