Dua warga Depok akhirnya menjadi penutup perdebatan panas “Apakah Indonesia benar-benar aman dari Corona?” setelah mereka secara resmi positif terinfeksi virus corona. Keduanya yang merupakan ibu-anak tertular virus corona dari kawan mereka warga Jepang yang belakangan diketahui positif corona dan sekarang dirawat di Malaysia.

Jumlah pasien positif corona di Indonesia kemungkinan masih akan terus bertambah, sebab sebelum dinyatakan positif corona, ada banyak orang yang sudah berinteraksi dengan ibu-anak tersebut, termasuk keluarga dan para petugas medis yang sempat merawat mereka. Laporan terkini, tukang kebun yang bekerja di rumah ibu-anak tersebut pun kini sedang menjalani pemeriksaan intensif.

Adanya kasus positif corona pertama ini kemudian menjadi semacam bola liar kepanikan sendiri di masyarakat. Masyarakat panik dan tak sedikit yang mengira bahwa kota-kota terdampak corona di Indonesia akan mengalami lock down seperti yang terjadi di kota Wuhan.

Imbasnya, aksi borong komoditas pun terjadi. Banyak orang yang kemudian memborong beras, gula, minyak, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya secara kolosal untuk berjaga-jaga bila nanti benar-benar terjadi isolasi seperti yang dikhawatirkan.

Salah satu komoditas yang kemudian ikut menjadi incaran banyak orang tentu saja adalah masker. Walau WHO dan insititusi kesehatan resmi lainnya telah tegas menyatakan bahwa orang yang sehat tak perlu menggunakan masker, namun tetap saja masker menjadi instrumen kesehatan yang vital. Akibatnya, hampir selama beberapa waktu terakhir, stok masker di banyak apotek dan swalayan ludes karena banyak dibeli orang. Sulitnya mendapatkan masker ini pun pada akhirnya memancing kepanikan yang baru.

Kepanikan ini lantas dimanfaatkan oleh segelintir oknum. Banyak yang memborong masker untuk kemudian menimbunnya, lantas menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Maklum saja, stok yang terbatas bakal membuat orang tetap mau membelinya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasaran.

Masker yang harga normal per box-nya tak sampai 30 ribu mendadak bisa dijual dengan harga 3-5 kali lipat. Kalau harganya segitu tapi dapat bonus kupon undian umroh, itu masih mending. Lha ini blas nggak ada bonusnya lho.

Makin banyaknya kasus penimbunan masker di tengah kondisi masyarakat yang dilanda kepanikan ini pada akhirnya memaksa Polisi untuk mengambil tindakan tegas.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menegaskan polisi bakal menindak oknum-oknum yang sengaja menimbun masker.

“Kita akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, dalam hal ini toh nanti kalau menemukan masker-masker yang ditimbun itu pidananya akan tetap dijalankan,” terang Yusri. “Kita cek semua, tim cyber kita akan menyelidiki semua, kemudian kita akan mencari para pelaku yang menimbun, menyelidiki ini, semua akan kita lakukan.”

Secara hukum, penimbunan masker memang masuk dalam kejahatan pidana.

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), seperti dikutip dari Portal Hukum Online mengatakan bahwa pelaku penimbunan masker bisa dijerat dengan pasal 107 UU No. 7 Tahun 2014 tentang perdagangan. Dalam pasal tersebut, ancaman sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun, dan/atau pidana denda maksimal 50 miliar rupiah siap menanti bagi siapa saja pelaku usaha yang melanggar larangan menyimpan barang kebutuhan pokok atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, atau hambatan lalu lintas perdagangan barang.

Selain itu, para pelaku juga bisa dijerat dengan Pasal 5 UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sanksi atas pelanggaran ini antara lain adalah pencabutan izin usaha dan pidana denda serendah-rendahnya 25 miliar atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya enam bulan.

Nah lho. Yang kemarin-kemarin nimbun masker dan terang-terangan jualan di Twitter, siap-siap nih. Buat yang masih punya stok banyak, udah, jual-jual murah aja. Sukur-sukur dibagikan gratis.

Lagian, nimbun kok masker, nimbun tuh Kinderjoy, biar emak-emak merasa tenang kalau mau bawa anak mereka ke Indomaret atau Alfamart.

Itu baru namanya nimbun tapi maslahat buat umat.

menimbun masker