Eksekusi mati tiga warga Yerusalem oleh polisi Israel setelah ketiganya membunuh dua polisi Israel di kota tua tersebut, 14 Juli 2017, menimbulkan eskalasi baru pada konflik puluhan tahun dua negara itu.

Insiden itu kemudian diikuti dengan pemasangan detektor logam di Masjid Al-Aqsa, pelarangan salat Jumat bagi warga Palestina yang berusia di bawah 50 tahun, dan penembakan imam Masjid Al-Aqsa dengan peluru karet. Tindakan Israel tersebut segera menimbulkan protes besar di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Muhammad Zazuli:

KONFLIK AL-AQSA ADALAH BAGIAN DARI KONFLIK ABADI DAN KONFLIK BATIN UMAT MANUSIA

Sebenarnya bingung juga mau komentar apa soal konflik yang sekarang terjadi di Al-Aqsa. Perbuatan Israel yang menghalangi orang Palestina beribadah jelas salah karena ibadah adalah hak asasi setiap insan.

Tapi, reaksi keras dan serangkaian aksi teror dan pembunuhan yang dilakukan oleh sebagian orang Palestina terhadap warga Israel juga bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan. Peristiwa pembunuhan 2 orang polisi Israel oleh 3 orang teroris dengan senapan dan senjata tajam di wilayah inilah yang memicu militer Israel membatasi akses warga Palestina ke area Al-Aqsa dan memasang alat detektor logam di wilayah tersebut.

Ini adalah suatu konflik yang sangat rumit, kompleks, dan sudah berlarut-larut sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. kebencian antara dua umat beragama ini sudah sampai tulang sumsum, mendarah daging dari generasi ke generasi sampai Tuhan pun seakan tidak sanggup mendamaikan hamba-hambaNya lagi. Bagi kedua belah pihak, bahkan Tuhan digambarkan ikut terlibat, merestui, dan “memprovokasi” perseteruan ini.

Baca juga:  Terima Kasih, Muzammil!

Api tidak bisa dipadamkan dengan api. Kebencian tidak bisa diakhiri dengan kebencian. Semua seruan dan kampanye hanya akan semakin memprovokasi dan memperuncing masalah ini.

Sungguh kasihan nasib bangsa Palestina yang seolah berjuang sendirian menghadapi masalah ini. Para bangsawan di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lain lebih suka memikirkan kenyamanan dan kenikmatan mereka dan keluarganya sendiri daripada membantu perjuangan rakyat Palestina. Arab Saudi bahkan menjadi sekutu setia Amerika Serikat yang menjadi beking Israel. Begitu juga Turki yang justru menjalin kerja sama diplomatik cukup baik dengan Israel.

Tujuh juta kaum radikal yang rajin demo di negeri ini juga lebih suka mencaci maki presidennya sendiri daripada berjuang di Palestina mengorbankan nyawa. Seruan jihad dan Aksi Bela Islam yang mereka gaungkan tidak lebih dari agenda politis para elite dan para sponsornya saja yang haus dan serakah akan kekuasaan. ISIS yang mereka banggakan juga sama sekali tidak peduli dengan perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan hak dan kemerdekaannya. Agama hanya digunakan sebagai topeng, tameng, dan pembenaran untuk kekuasaan dan kekayaan duniawi saja.

Bagi kaum Israel, mereka merasa sedang berjuang membela dan mempertahankan tanah yang dijanjikan Tuhan dan menganggap konflik ini bagian dari perjuangan agama hingga akhir zaman.

Bagi warga Palestina (dan juga dunia Islam lain pada umumnya), mereka sedang berjuang membela tanah suci (Al-Aqsa merupakan kiblat pertama bagi kaum muslim dan diyakini sebagai situs sejarah peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.) dan juga menganggap konflik ini sebagai bagian dari perjuangan agama hingga akhir zaman.

Baca juga:  Buddha, Waisak, dan Pesan Toleransi Sriwijaya

Jika sudah seperti ini, solusi yang sehat dan “win-win solution” tidak akan pernah terjadi karena masing-masing pihak berpikir bahwa “lawan harus ditumpas habis dan hak kita harus kita rebut dan kita miliki sepenuhnya atas nama Tuhan.”

Yang kasihan adalah para korban wanita dan anak-anak, orang-orang yang tewas dan menjadi cacat, mereka yang harus kehilangan rumah, keluarga, pendidikan, kesenangan, serta hak hidup layak serta semua anugerah kehidupan yang seharusnya bisa mereka nikmati dan rasakan hanya karena konflik abadi atas nama agama dan bangsa ini.

Fitriyan Zamzami: Apakah umat Islam dan Yahudi bakal selalu terlibat perang abadi?

Umar ibnu Khattab mungkin tak sepakat. Ingat, sewaktu ia merebut Yerusalem dari Bizantium dengan tangannya sendiri, ia membersihkan Kuil Sulaiman yang dirobohkan kaum pagan dan ditutupi kotoran. Ia kemudian mengundang 70 keluarga Yahudi yang sebelumnya terusir untuk kembali ke Yerusalem dan beribadah seleluasanya.

Saat muslim menguasai Andalusia, ada konsep convivencia yang menjaga pemeluk tiga agama samawi hidup rukun dan saling bantu. Salah satu pemikir Yahudi paling penting, Maimonedes, lahir dari masa-masa itu. Pada masa-masa Holocaust, banyak orang Yahudi diselamatkan keluarga-keluarga muslim.

Saat ini di Amerika Serikat, umat Yahudi kerap berdiri paling depan membela muslim dari Islamofobia era Trump. Yang terjadi di Palestina saat ini adalah penindasan sekelompok manusia atas kelompok lainnya, titik. Ia semestinya bisa diakhiri tanpa ilusi soal perang akhir zaman ….

Komentar
Add Friend
No more articles