Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Kisah Malaikat Maut Bertandang ke Rumah Orang Madura

Redaksi oleh Redaksi
18 Mei 2018
A A
Malaikat-Maut-ke-Madura-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Usaha orang Madura mencoba menawar waktu kematiannya kepada malaikat maut. Hari kematian kok mau ditawar, emangnya lagi beli sate?

Jadi begini sidang khotbah Jumat yang berbahagia dan lagi berpuasa….

Pada suatu siang yang sedang terik-teriknya, datanglah Malaikat Maut bertandang ke kediaman Cak Saif, seorang Madura. Sudah mafhum diketahui, kedatangan sang malaikat pencabut nyawa ke hadapan manusia seperti ini jelas untuk menjalankan tugas utamanya.

Hal ini juga disadari Cak Saif dan membuatnya ketakutan. Akan tetapi, Cak Saif tidak mau tunduk begitu saja oleh ketakutan yang mulai menggerayangi lutut-lutut kakinya. Mencoba tetap tegar, Cak Saif sok-sokan akrab.

“Oh, Malaikat Maut, ada apa ini tumben main ke gubuk saya ada apa ini?” tanya Cak Saif berusaha tidak terlihat takut.

Malaikat Maut kok ditanyai ada keperluan apa, ya jelas mau nyabut nyawamu-lah, Cak.

Yang ditanya cuma menjawab, “Begini, Cak Saifudin. Saya ini bawa tumpukan berkas-berkas manusia-manusia yang akan saya cabut nyawanya. Nah, kebetulan nama Cak Saifudin ada di berkas yang paling atas dari tumpukan berkas-berkas ini, makanya saya datang ke rumah Cak Saifudin hari ini.”

Tentu saja Cak Saif tetap terkejut mendengar penjelasan Malaikat Maut meskipun sudah tahu kalimat tersebut akan didengarnya. Namun, sebagaimana makhluk hidup yang berusaha mempertahankan nyawanya di saat paling mustahil sekalipun, naluri survival ditambah sedikit campuran akal-akalan bulus muncul di benak Cak Saif.

“Wah, jangan buru-buru begitu tho, Kang. Santai dulu-lah. Sini duduk-duduk dulu. Saya bikinkan minum dulu deh,” kata Cak Saif membujuk, “lima atau sepuluh menit lagi deh. Biar saya bikinkan kopi, saya pesankan sate dan tengkleng wis. Ngopi-ngopi dulu deh kita. Ya? Ya?”

Karena posisi si malaikat adalah tamu dan Cak Saif tuan rumah, Malaikat Maut pun mengijinkan Cak Saif membuatkannya minuman. “Ya itung-itung kan sebelum saya mati, saya tetap bisa menghormati tamu yang datang apa pun kondisinya,” kata Cak Saif.

Cak Saif kemudian masuk ke dapur dan menyiapkan kopi. Dasar sudah punya niat bulus, Cak Saif lalu memasukkan obat bius ke dalam kopi yang disiapkan untuk Malaikat Maut. Setelah selesai membuatkan kopi, Cak Saif balik lagi ke ruang depan. Tentu saja sambil pasang muka seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ini, Kang. Diminum-minum dulu kopinya. Kalau kopinya sudah habis, baru deh sampeyan boleh nyabut nyawa saya habis itu,” kata Cak Saif ramah.

Malaikat Maut segera meminum kopi bikinan Cak Saif yang sudah dicampur obat bius. Tak berselang lama Malaikat Maut merasa mengantuk lalu tertidur di ruang depan. Begitu Malaikat Maut tertidur, Cak Saif segera melanjutkan akal bulusnya. Dengan buru-buru, Cak Saif segera mengganti urutan berkas nama. Merunut dari informasi Malaikat Maut, nama Cak Saif yang tadi ada di urutan paling atas dipindah ke posisi paling bawah.

“Nah, kalau begini ceritanya, jatah saya bakalan lumayan agak lama nih,” kata Cak Saif. Dicek lagi oleh Cak Saif, ada sebanyak apa berkas yang ada di depannya. “Wah, masih banyak sekali ini mah, jelas aman.” Lega.

Iklan

Setelah mengganti urutan, tak berselang lama Malaikat Maut bangun dari tidur. Bingung karena habis kena obat bius, Malaikat Maut bertanya ke Cak Saif, “Lho saya di mana ini?”

Seolah tanpa dosa, Cak Saif menjawab santai, “Begini lho, Kang, katanya sampeyan mau nyabut nyawa manusia-manusia yang ada di berkas yang sampeyan bawa ini. Nah, kebetulan sampeyan tadi mampir ke rumah saya, eladalah sampeyan malah ketiduran di sini. Ya, sudah saya bangunin sampeyan.”

“Oh, begitu tho. Walah, terima kasih lho sudah bangunin saya. Bisa telat deadline saya kalau tidak dibangunin begini. Tapi perasaan tadi bukannya saya mau cabut nyawa kamu ya?”

Deg!

Kalimat itu segera bikin Cak Saif kembali ciut. Sampai-sampai tidak ada kata-kata yang muncul dari Cak Saif saking takutnya.

“Tapi, tenang. Karena kamu sudah membangunkan saya, tentu saya akan balas budi,” kata Malaikat Maut.

“Alhamdulillah,” kata Cak Saif refleks.

“Nah, sebagai balas budi, saya enggak jadi nyabut nyawa manusia dari daftar nama teratas di tumpukan berkas ini. Saya akan urutkan dari bawah saja deh,” jelas Malaikat Maut.

Terkejut mendengar penjelasan tersebut, Cak Saif refleks nyebut, “Innalilahiwainnailaihirojiun.”

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2018 oleh

Tags: cakJumatKhotbah JumatkopiMaduramalaikatmaut
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Edumojok

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.