Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame Moknyus

Wacana Bagi-Bagi Pos Menteri ala PKS dan Gerindra, Salahkah?

Redaksi oleh Redaksi
8 Juli 2018
A A
pos menteri
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pilpres semakin dekat, tenggat pendaftaran pasangan calon presiden-wakil presiden semakin mepet, namun sampai sekarang, koalisi penantang Jokowi yang terdiri dari Gerindra, PKS, dan PAN (pengin bilang Partai Allah, tapi nggak enak sama Pak Amien) tampak belum kompak-kompak amat.

Koalisi tiga partai tersebut bahkan terancam buntu, sebab sampai sekarang masih terus terjadi tarik ulur tentang siapa yang bakal maju jadi capres dan cawapres.

Dalam beberapa waktu terakhir, masing-masing partai justru terlihat sibuk dengan manuver-manuvernya sendiri. Gerindra misalnya, sempat membangun wacana duet Prabowo dengan putra mahkota Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono. Lalu PKS pernah mengusulkan duet Anies Baswedan dan Ahmad Heryawan. Sementara PAN disebut-sebut punya rencana untuk membentuk poros ketiga.

Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, muncul ide yang cukup kontroversial, yakni konsep bagi-bagi pos menteri. Ide tersebut dikemukakan oleh PKS.

Usulan tersebut sempat ditawarkan oleh Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera kepada Ketua Tim Pemenangan Gerindra Sandiaga Uno.

Konsep bagi-bagi pos menteri tersebut oleh Mardani disebut bisa menghindari kebuntuan pembahasan posisi cawapres dalam koalisi.

Konsep ini berupa konversi jabatan cawapres disetarakan dengan jatah beberapa pos menteri.

Jadi nantinya, partai yang tidak dapat jatah cawapres, bisa berlapang dada karena mendapat jaminan posisi 3 menteri.

Pihak Gerindra disebut menyambut baik konsep tersebut.

“Capres gampangannya sekarang setara 5 menteri, cawapres setara 3 menteri. Jadi kalau PKS sudah mengambil cawapres berarti jatah 3 menteri PAN nambah, dan Sandi setuju untuk hal kaya begini,” ujar Mardani Ali Sera.

Pihak Gerindra menilai konsep tersebut bisa menjadi solusi untuk mengakomodir kepentingan partai.

“Sebisa mungkin harus bisa mengakomodasi selain kebutuhan yang harus dilakukan pemerintahan. Selain nomenklatur atau tupoksinya, sebisa mungkin orang, person ya bisa mengakomodir dengan kepentingan partai,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono

Kabar soal konsep bagi-bagi pos menteri ini tentu saja membikin banyak orang nyinyir. Maklum saja, selama ini, bagi-bagi jabatan memang dikenal sebagai praktik yang buruk.

Para pendukung Jokowi pun seakan seperti punya amunisi untuk menyerang Gerindra dan PKS.

Iklan

“Dasar partai busuk, belum apa-apa sudah rencana bagi-bagi jabatan,” begitu kira-kira nada komentar para pendukung Jokowi yang muncul setelah kabar rencana bagi-bagi pos menteri ini muncul di media.

Lantas, apakah praktik bagi-bagi jabatan ini terlarang?

Entahlah. Hal tersebut tidak bisa dilihat secara linear. Yang jelas, dalam politik, hal tersebut memang lumrah.

Para pendukung Jokowi yang menjelek-jelekkan PKS cs soal bagi-bagi pos menteri ini juga sebenarnya juga tak pantas-pantas amat. Sebab, diakui atau tidak, dulu setelah terpilih menjadi presiden, Jokowi langsung memilih orang-orang dari partai pendukungnya (Koalisi Indonesia Hebat) sebagai menteri. Dari PDIP ada 4 menteri, PKB dapat 3 menteri, Nasdem dapat 2, Hanura dapat 1 menteri. Bahkan Golkar yang tadinya ikut Koalisi Merah Putih dan kemudian berubah haluan dengan bergabung di koalisi pemerintah pun juga kemudian mendapat jatah 3 menteri.

Tak hanya di pos kementerian, di sektor BUMN pun juga begitu. Dalam durasi tiga tahun kepemimpinan Jokowi, tercatat setidaknya ada 21 relawan Jokowi yang mendapatkan jabatan sebagai komisaris BUMN.

Nah lho. Njuk gimana jal?

Kalau sudah begini, apakah kemudian konsep bagi-bagi pos menteri yang menjadi bahasan Gerindra dan PKS salah?

Bisa jadi tidak. Yang salah adalah kita yang terlalu polos terhadap intrik-intrik politik elektoral. (A/M)

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2018 oleh

Tags: gerindraMenteriPKSprabowo
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Aktual

Tak Asyiknya Bioskop Belakangan Ini, Ruang Hiburan Jadi Alat Personal Branding Prabowo

16 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Esai

Jika Pemerintah Bekerja dengan Baik, Rakyat Tidak Perlu Diingatkan Setiap Hari Pakai Video Prabowo yang Tayang di Bioskop Jelang Film Mulai: Aneh!

15 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

5 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.