Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lima Tragedi Memasak Mie Instan

Puthut EA oleh Puthut EA
3 Februari 2015
A A
mie-instan-mojok
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Malas dan lapar adalah dua hal yang sering cekcok di diri kita. Terlebih di musim penghujan seperti ini. Kita sering malas keluar untuk makan malam. Tiba-tiba hari telah jauh malam dan perut keroncongan. Kebanyakan dari kita kemudian punya solusi yng hampir sama: memasak mie instan.

Mie instan, apapun yang mau dibilang orang tentang makanan satu ini, toh tetap bagian dari solusi ketika menghadapi urusan perut seperti di atas. Murah, mudah, cukup mengganjal perut. Sehingga kita bisa segera tidur, lalu berharap ketika bangun sudah tidak ada perasaan malas untuk berburu makanan yang kita bayangkan semalaman namun malas untuk kita beli: nasi padang, nasi gudeg, pecel, soto dll.

Mie instan juga sering menjadi penyelamat di saat situasi tidak bersahabat. Bayangkan, Anda lapar, di luar hujan sedang sangat deras. Hari sudah malam. Mau keluar kebayang jalanan yang banjir, warung makan yang sudah tutup, penglihatan yang terhambat, dan dingin yang mencengkeram. Mie instan lagi-lagi menyelamatkan kita. Tapi jangan salah, dalam situasi seperti itu, makan mi instan bisa jadi tragedi. Berikut yang sering terjadi:

1. Gas habis

Kita sudah mempersiapkan semua: sebungkus mie instan yang sudah kita buka dan kita ambil sedikit lalu kita klethusi sambil merajang cabe rawit, membersihkan telor, menyiapkan mangkuk.. Lalu klek! Ceklek! Ceklek! Pukimaaaaak! Gas habis!

Solusinya biasanya: mie instan itu kita makan mentah sambil menyimpan rasa gondok. Terlebih tidak bisa bikin teh anget atau kopi.

2. Telor busuk

Semua sudah kita siapkan seperti di atas. Klek! Ceklek! Hidup! Kompor hidup. Alhamdulillah. Sambil menyanyi satu lagu menunggu air mendidih. Ketika air sudah mulai bergelembung, mie instan kita masukkan. Saat mulai terburai, telor kita pecah di atasnya. Dan…. telornya bau! Hati kesal minta ampun sambil mengumpati para penjual telor dan supermarket. Dengan terpaksa membuang mie instan, membersihkan panci, merebus air lagi dan membuka lemari untuk mengambil sebungkus mie instan lagi. Ternyata sudah tidak ada stok lagi. Biasanya solusi menghadapi tragedi macam ini adalah nekat keluar hujan-hujan saking panasnya diri terbakar emosi, dingin udara dan air hujan menjadi tak terasa.

3. Kemasukan sesuatu

Semua sudah siap. Semangkuk mi instan revus dengan telut dan irisan cabe rawit plus irisan pete. Hmmm… nyam-nyam! Baunya, kata jurumasak Rahung Nasution: biadab! Air liur sudah menggenang di mulut.

Tapi sabar, mari siapkan dulu teh anget, agar ketika usai makan langsung bisa disempurnakan dengan menyeruput minuman anget.

Ketika segelas teh anget sudah siap, sendok dan garpu sudah mulai menari membolak-balik mi instan itu… Plung! Apa ini? Hitam kecil? Lihat ke atas, ke langit-langit, ada cicak. Faaaaaak!

Sambil gigi kerot-kerot menahan amarah, solusinya: dibuang! Mie instannya yang dibuang? Bukan! Lalu? Ya tai cicaknya, dong!

4. Ada telepon

Iklan

Semua sudah tersaji. Mie instan rebus dan segelas teh anget. Sempurna. Pas baru usai satu sendok, telepon berdering. Menengok hape, duh… klien yang tadi siang mau pesan dituliskan buku. Terpaksa diangkat, mungkin penting.

Terjadilah obrolan panjang. Mau memotong obrolan tidak enak. Akhirnya setelah 30 menit, baru obrolan proyek buku usai. Mie instan sudah dingin dan gendut. Sudah tidak enak lagi. Tapi mau gimana lagi? Mengganjal perut lapar adalah urusan utama, rasa makanan adalah urusan kedua.

5. Terpeleset

Lagi-lagi, semua sudah siap. Semangkuk mie instan paket lengkap, segelas teh anget yang kemebul, dan tidak ada dering telepon. Tapi kayaknya lebih nikmat sambil nonton teve. Mangkuk mie diangkat. Baunya mengganggu konsentrasi. Saat berjalan menuju depan teve, kaki terpeleset. Krompyang! Pecah.

Ya memang yang pecah hanya mangkuknya. Mie-nya hanya terburai belaka di lantai. Telornya juga masih utuh  di dekat sandal. Mau? Kalau seperti ini biasanya solusinya apa ya? Coba isi sendiri…

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2019 oleh

Tags: IndomieMie InstanTragedi
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

warmindo unggul dari warteg.MOJOK.CO
Kuliner

3 Alasan Sederhana Orang Memilih Makan di Warmindo daripada Warteg, Padahal Lauknya Kalah Lengkap

29 Juni 2024
warmindo tertua jogja menolak jadi warteg.MOJOK.CO
Kuliner

Warmindo Generasi Tertua di Jogja yang 42 Tahun Menolak Jualan Lauk Kayak Warteg, Setia dengan Burjo dan Indomie

23 Juni 2024
indomie di warmindo semarang.MOJOK.CO
Ragam

Kolaborasi Indomie dan Warmindo yang Mengubah Dunia Kuliner Mahasiswa, Anak Kos Melarat di Semarang Bisa Makan Gratis Sebulan

19 Juni 2024
Indomie Penyet Pak Lamidi, Hidden Gem Surabaya yang Nonstop Layani Pembeli Sampai Tutup MOJOK.CO
Kuliner

Indomie Penyet Pak Lamidi, Hidden Gem Surabaya yang Nonstop Layani Pembeli Sampai Tutup

2 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.