_kustomfest 2020 restricted wawancara Lulut Wahyudi mojok.co foto oleh eko susanto (1)

Wawancara Direktur Kustomfest 2020: ‘Nenek Moyang Kita Itu Seorang Kustom Builder’

MOJOK.CO Ngobrol dengan pendiri dan direktur Kustomfest soal festival kustom kulture di tengah pandemi.

Kustomfest 2020 #Unrestricted resmi digelar pada 15-31 Desember 2020. Dengan kurasi yang ketat, 150 karya ikut berpartisipasi. KUSTOMFEST menolak menyerah oleh keadaan. Menyodorkan konsep yang berbeda, ajang “lebaran” kustom kulture dirancang dengan khidmat di Jogja National Museum (JNM).

Lulut Wahyudi siang itu baru saja tiba di JNM (17/12). Sembari menyeruput kopinya ia menyapa Mojok yang baru saja berkeliling menyaksikan karya-karya kustom yang dihadirkan dalam konsep galeri seni atau museum di gedung berlantai tiga.

Ia berbicara banyak ihwal kustom kulture dan penyelenggaraan KUSTOMFEST yang sudah menginjak tahun ke-9. Mulai dari mimpinya untuk membawa builder-builder muda Indonesia ke tingkat dunia hingga dampak ekonomi industri kustom yang tak bisa dipandang sebelah mata. Berikut petikan wawancaranya. 


kustomfest 2020 restricted wawancara Lulut Wahyudi mojok.co foto oleh eko susanto
Foto oleh Eko Susanto untuk Mojok.co

Mojok: Peserta KUSTOMFEST tahun ini diseleksi?

Lulut: Oh iya, kalau semuanya tak suruh masuk kita duduk gini sebelahnya ada motor. Tanya deh sama yang liat Kustomfest kemarin-kemarin, kalau motret motor pasti sebelahnya kena. Sekarang kamu mau motret selayaknya builder juga bisa. Ini yang membedakan Kustomfest tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Kustomfest tahun ini sebagai event penanda bahwa kami komunitas kustom selama pandemi Covid-19 tetap produktif, berkarya, dan karyanya ada di sini semua. Bisa dibayangkan kalau Kustomfest tahun ini nggak ada berarti tidak ada bukti otentik yang terdokumentasi bahwa anak-anak kustom itu punya karya.

Proses seleksinya seperti apa?

Setiap tahun peserta Kustomfest dikurasi. Kita menerima kurang lebih 350 sampai 400 motor tiap tahun. Tahun ini agak kurang yang tampil hanya 150. Jadi separuh yang tidak lolos seleksi ini kalau bikin acara sendiri itu udah cukup. Makanya bercandaannya gini, tidak semua motor itu bisa di Kustomfest, tapi kalau dia udah bisa masuk di Kustomfest, bagi dia itu bukan lagi menang-menangan. Dia udah menang karena sudah ada seleksi lebih dulu.

Terus kalau dibandingkan dengan Kustomfest yang dulu, tahun ini kita bisa memaksimalkan peserta karena space-nya sangat luas, sampai di lorong-lorong itu kita isi dengan pertimbangan tidak men-distract layout secara global. 

Saya terus terang beruntung dapat partner yang gila, bisa mengimbangi kegilaan Kustomfest bahkan bisa dibilang sama-sama gilanya, yaitu Mas Heri Pemad dan Heri Pemad Management yang kerja all out. Kolaborasi ini yang akhirnya menghasilkan karya baru yang seperti sekarang. Bisa dibilang ini kan seperti karya instalasi.

Poin-poin penilaiannya apa saja?

Poin-poinnya banyak. Dari banyak event mungkin Kustomfest yang paling strict. Kebetulan saya juga kustom bike builder. Kustomfest itu founder-nya saya, adik saya, dan Aan Fikriyan, dilahirkan oleh anak kustom, kita pengen membawa dunia kustom Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi di dunia kustom. Itu mimpi kami.

Kalau Anda tanya di panggung dunia seperti apa, panggung dunia it will be in here, in top of the level Indonesia. Tapi untuk ke sana jalannya panjang dan berliku. Untuk dapat motor yang bagus harus seleksi alam dengan kompetisi. Setiap tahun ada lomba di Kustomfest. Kita undang juri-juri dari luar. Grading-nya naik terus. Apakah itu mungkin? Tidak ada yang tidak mungkin. Sebelum 2012 kita nggak pernah ada. Hari ini Anda lihat Kustomfest yang sedemikian rupa. It’s real.

Kalau kita nggak strict, yang terjadi kayak tren-tren yang ada: batu akik, gelombang cinta, whatever lah. Kita nggak mau kustom itu hanya jadi tren sesaat, this is a lifestyle? Yes, but this is our life. Kalau kita udah ngomongin our life, ya sudah sepanjang hidup kita akan main kustom.

Kita juga pengin kustom ini berkembang hingga pelosok Indonesia. Bahkan waktu saya riding dari Jogja sampai Timor Leste berdua sama istri saya, saya nemuin satu motor kustom di daerah Pulau Timor, namanya Soe. Daerah pegunungan penghasil jeruk ada anak kustom naik chopper. Saya lagi isi bensin jam 2 malam, saya lihat di pojok itu kok ada motor chopper, saya tanya dapat ide dari mana, dia bilang Kustomfest!

Posisi Kustomfest di kancah kustom Indonesia dan dunia seperti apa?

Baca juga:  Wawancara Abdul Aziz: Tujuan Disertasinya, Agar Seks Non-Marital Tidak Dikriminalisasi

Banyak event yang kemudian lahir dari Kustomfest. Begitu Kustomfest lahir tahun 2012, (event-event) itu kayak jamur, kemudian banyak yang tumbuh dan membesar, di beberapa daerah kemudian jadi event sebagai movement kustom kulture di daerah itu. Di Solo ada Burnout, Bandung ada BBQ Ride, Bali ada Custom War dan banyak lagi event-event di kota-kota lainnya. Setiap tahun mereka menjadikan Kustomfest itu sebagai tempat lebaran kustom. Mereka ke sini bareng-bareng untuk setahun sekali menikmati karya-karya kustom dari teman-teman penjuru Indonesia.

Peta kustom sebelum ada KUSTOMFEST seperti apa?

Sebelum tahun 2012 itu nggak ada peta karena dunia kustom nggak ada. Adanya modif. Motor modif. Motor yang hanya diubah. Bannya menjadi besar. Setangnya diubah. Tapi, secara konseptual seperti yang Anda lihat, motor-motor di dalem (JNM) itu sangat minim sekali. Nah kita jadikan Kustomfest itu menjadi melting pot.


Kenapa tiap tahun itu Kustomfest ada acara kustom, kustom bike, kustom motorcycle, kustom car, pedal car, ada BMX, swap meet, ada panggung musik, ada tato, biar mereka datang ke satu tempat yang namanya Kustomfest. Di situ irisannya ada sebuah melting pot.

Kalau bicara kontribusi atau impact ekonomi kustom kulture ini seperti apa?

Sekarang gini, untuk membangun satu buah motor kustom, nggak usahlah yang Harley Davidson atau yang brand-brand gede, CB aja, tahu nggak sekarang harganya berapa? Harganya sangat mahal. (Padahal) dulu nggak ada harganya. Saya dulu beli CB tahun 1991 harganya masih 600 ribu, sekarang CB 200 kalau bicara harga bisa 40 juta. Ya, memang harganya segitu. Bahkan bisa lebih kalo orisinil. Nah, itu salah satu impact: orang berburu itu untuk dikustom sehingga barang-barang tua sekarang punya value.

Kalau kita bicara proses pengkustoman, satu buah motor CB, dia beli lalu dibawa ke bengkel, bengkelnya sudah dapat benefit. Dibongkar mesinnya, dikirim ke tukang mesin, tukang mesinnya dapat benefit. Dibodi macam-macam, mulai tukang kenteng, bikin rangka, semua dapat benefit. Kemudian dicat, tukang cat dapat benefit. Sampai terakhir beli ban di toko ban, toko ban dapat benefit. Kemudian ban dipasangin ke tukang tambal ban, kemudian dirakit, minta tolong tukang kabel, part-part yang bagus harus di-chrome ulang, tukang chrome dapat benefit. Ada nggak kira-kira rantai ekonominya? Itu baru satu motor. Lalu Anda bayangkan kalau di Kustomfest. Pengunjung Kustomfest ada 27 ribu, let’s say yang datang 10 ribu naik motor dikalikan per motor. Perputaran ekonominya dahsyat. Itu yang datang ke Kustomfest (saja).

Proyeksi hitungan ekonomi dalam satu event berapa?

Baca juga:  Alit Jabang Bayi: Bapakku Pernah Diminta Ngelawak di Pemakaman

Pernah dihitung dulu berapa sih perputaran uang yang ada di Kustomfest, nilainya sih fantastis, tapi nilai berapanya saya nggak hafal. Saya bukan tipikal orang bisa menghafal angka. Yang jelas sih dari impact ekonomi kalau kita bicara Kustomfest biasa yang berlokasi di JEC, hotel radius 10 kilo itu udah full.

Sekarang yang di dalam JEC tiap tahun, booth-booth itu bisa ditanyain. Ada Siege Leather. Dia lahir dan besar di di Kustomfest dan sekarang sudah punya partner di Korea, Jepang, dll. Mereka regular buyer, ketemu di Kustomfest ini UMKM asli Jogja. Kalau mau tahu perjalanan UMKM yang kemudian lahir dan besar di Kustomfest, salah satunya dia.

Budaya kustom dulu itu seperti apa sih?

Kalau ngomong kustom sebagai budaya, our ancient people kita itu generasi kustom awal-awal, percaya nggak? Nenek moyang kita itu bukan pelaut, nenek moyang kita seorang kustom builder. Tak kasih contoh, saya main ke Candi Prambanan, wow tinggi banget, kebayang nggak nenek moyang kita jaman segitu mengkustom batu jadi candi? 

Kalau nenek moyang kita yang katanya Belanda itu bodoh, nggak bakal bisa bikin itu. Itu candi Hindu. Terus saya jalan lagi, ada candi Buddha nggak jauh dari situ. Bagaimana dua agama yang di negara asalnya saling berperang, di sini dikustom ada tempat ibadah yang saling berdekatan kan keren banget. Di situ ada relief-relief yang menyatakan bahwa nenek moyang kita itu udah high civilization. Udah ada pedati, kereta kuda, bahkan kalau kita ke Borobudur, zaman itu sudah ada banyak teknologi yang sampai sekarang kita nggak tahu ini teknologinya gimana adanya.

Nah, kita-kita jangan hanya bangga bikin motor. Karena pendiri negeri ini dulu tahun 1948 sudah mengkustom mesin Harley Davidson jadi sebuah pesawat. Cuma fakta-fakta sejarah itu tidak pernah diungkapkan secara masif sehingga kita percaya bahwa kita itu hanya bangsa pemakai bukan pembuat.

Jadi kalau lihat timeline tonggak-tongak Kustomfest itu gimana?

Baca juga:  Pentingnya Perempuan Tahu Soal Otomotif Biar Nggak Ditipu Saat Servis di Bengkel

Kalau kita bicara tonggak beberapa tahun sebelum Kustomfest digelar tahun 2012 itu kita udah pikirkan. 2007 saya diundang di acara AMD World Champion Kustom Competion sebagai perwakilan dari Indonesia. Tahun 2007 itu motor pertama dari Indonesia naik panggung di Kuala Lumpur. Saya mewakili Indonesia waktu itu ada sekitar enam builder juga dan alhamdulillah, saya satu-satunya orang Indonesia yang runner-up.

Pengin dong anak-anak muda itu sampai level seperti saya. Nah, 2009 saya dapat undangan ke All Harley Davidson Kustom Bike Show di Yokohama. Kita dapat appreciate. Setahun kemudian saya dapat undangan lagi di Yokohama juga acara indoor kustom kulture terbesar di dunia. Waktu itu kita dapat apresiasi dan kita diperkenalkan sebagai satu-satunya peserta dari Asia Tenggara yang dapat panggung pertama kali tampil.

Waktu itu saya sering ditanya media apakah ada event seperti ini di Indonesia, nah itu yang kemudian jadi pemikiran kami, jadi waktu di Nagoya, di Narita; saya, Aan, sama adikku Yayak mikir, udah kita bikin ini aja, 2010 kita datang survey, builder itu masih bisa dihitung pakai tangan, kita maksain bikin event, proposal sponsor malah diketawain sama beberapa brand.

Mereka pikir kustom itu hanya ganti ban, ganti setang, mereka belum tahu kustom, butuh waktu, akhirnya jalan pertama tanpa sponsor dan kita merugi banyak, dan Kustomfest kedua kita running 2012 tanpa sponsor dan kita juga totally lose. Lalu yang ketiga brand mulai tahu karena ramai kan, jadi omongan media. Jadi nggak kayak membalikkan telapak tangan. Apa yang kalian lihat hari ini adalah proses panjang yang sudah dilalui sembilan tahun Kustomfest. Dan saya punya visi someday saya akan cukup bangga bahwa saya bagian dari part of mega construction bahwa builder-builder muda ke papan atas panggung kustom dunia.

BACA JUGA Merayakan Lebaran Kustom Kulture di Tengah Pandemi dan Liputan Mojok lainnya.