Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Veronica Koman Dijadiin Tersangka karena Nyebarin Hoaks, Kok Kominfo dan Puspen TNI Nggak?

Audian Laili oleh Audian Laili
8 September 2019
A A
Veronica Koman Dijadiin Tersangka Karena Dugaan Nyebarin Hoaks, Kok kominfo dan Puspen TNI Nggak?
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau memang betul Veronica Koman dijadikan tersangka karena nyebarin hoaks, apa kabar dengan staf Kominfo dan Puspen TNI, ya?

Mengenai penetapan Veronica Koman sebagai tersangka karena dianggap menyebarkan hoaks soal isu Papua, rasa-rasanya kok ada yang mengganjal, ya? Pertama, pemerintah masih belum betul-betul bisa menunjukkan di mana letak hoaks yang dilakukan oleh Veronica. Kedua, kalau Veronica saja dijadikan tersangka, kenapa staf Kominfo dan Puspen TNI tidak diperlakukan serupa?

Iya, tentu kita masih mengingat bagaimana kedua lembaga ini melalui media sosialnya sempat memberikan kabar yang agak ngawur. Sebelumnya, mereka bilang kalau sebuah informasi yang tengah beredar dan dipercaya masyarakat itu adalah hoaks. Eh, usut punya usut, ternyata malah klarifikasi dari mereka sendiri yang hoaks.

Lalu, setelah jelas-jelas memberikan klarifikasi yang ternyata hoaks, staf yang bersangkutan dengan itu, aman-aman saja. Belum ada informasi yang mengatakan kalau mereka dijadikan tersangka, karena sudah menyebarkan hoaks ke masyarakat.

Oke, mari kita me-recall kembali informasi salah apa aja sih yang sudah diberikan oleh dua lembaga kita ini sebelumnya. Pertama, pada tanggal 28 Agustus lalu akun Twitter resmi Puspen TNI bilang kalau berita soal pembunuhan enam warga sipil di Deiyai yang ditulis oleh Reuters, adalah HOAKS.

Padahal, berdasarkan penelusuran Tirto.id, ternyata itu benar terjadi. Bahkan yang meninggal, justru lebih banyak dari yang diberitakan. Nah, kalau kayak gini, siapa yang sebetulnya hoaks dan siapa yang malah dibilang hoaks?

Kedua, ini terjadi pada lembaga kita kominfo, yang pada tanggal 19 Agustus melalui akun resminya menuding bahwa Veronica Koman menyebar hoaks dengan memberikan judul, “[HOAKS] Polres Surabaya Menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua”. Supaya lebih afdol, tudingan itu diunggah bersama screenshoot dari postingan akun Twitter Veronica dengan cap merah: disinformasi.

Eh ndidalah, pas sudah dikroscek, ternyata Veronica nggak bilang “diculik”, tapi “ditangkap”. Kata yang digunakan oleh Veronica ini juga berdasarkan yang seada-adanya terjadi.

Mengenai hal ini, Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatik kita, bilang, “Saya sudah ngasih tahu nih, yang bersangkutan mungkin lagi capek, ya sudah, kalau perlu ditraining, ditraining. Itu saja, tergurannya bukan berarti diberhentikan.” Ya, bisa dimengerti, sih, mungkin waktu itu staf adminnya kurang fokus, jadi salah menangkap kata. Anu, kurang sadar saja. Bukan berniat menyebarkan hoaks dengan penuh kesadaran. Jadi bisa dimaklumi kalau menyebarkan siaran pers sesat soal Veronica Koman.

Bahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Wiranto saat ditanya terkait salah mencatut kata tersebut, beliau menjawab dengan santai, “Itu salah tulis. Dibetulkan saja, tidak usah ribut.” Hehehe.

Sementara itu, mengenai cuitan dari Veronica Koman yang diduga oleh kepolisian berkonten provokasi dan berita-berita palsu yakni sebagai berikut,

“Ada mobilisasi umum aksi monyet turun jalan besok di Jayapura.”

“Polisi mulai menembaki ke dalam Asrama Papua total tembakan sebanyak 23 tembakan termasuk tembakan gas air mata, 23 mahasiswa ditangkap dengan alasan yg tidak jelas 5 terluka dan 1 kena tembakan gas air mata.”

Sayangnya, seperti yang saya sebutkan di atas, penyebutan dari kepolisian bahwa informasi yang diberikan Veronica Koman—pengacara hak asasi manusia dan pendamping mahasiswa Papua di Surabaya—ini hoaks, memang masih belum dijelaskan betul di mana letak kesalahan informasinya. Apakah data yang diberikan oleh Veronica ini salah dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan? Kalau memang salah, mohon maaf nih, yang benar kayak gimana ya, Pak?

Iklan

Kalau memang masih belum jelas-jelas amat letak kesalahannya Veronica Koman, kenapa ujug-ujug langsung dijadikan tersangka? Sementara, untuk lembaga yang jelas-jelas sebelumnya sudah memberikan informasi salah, mereka aman-aman saja? Sangat disayangkan aja sih, kalau perlakuan berbeda kayak gini masih terus dipelihara hanya demi melanggengkan monopoli kebenaran dalam isu Papua.

BACA JUGA Kerusuhan Papua Akibat Melulu Anggap Identitas Nasional = Pakai Baju Adat atau tulisan Audian Laili lainnya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2019 oleh

Tags: hoaksKominfoPapuapuspen TNIveronica koman
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
Rugi Buka SPBU di Papua? DPR Bisanya Cuma Omong Kosong MOJOK.CO
Esai

Rugi Buka SPBU di Papua? Kalau DPR Menantang, Korporasi Bisa Menantang Balik karena DPR Cuma Bisa Melempar Retorika

3 Oktober 2025
Sejarah Indonesia Berisi Kekerasan dan Negara Paksa Kita Lupa MOJOK.CO
Esai

Sejarah Indonesia Berisi Luka yang Diwariskan dan Negara Memaksa Kita untuk Melupakan Jejak kekerasan itu

30 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.