MOJOK.CO – Zaman sudah berganti, rasialisme tetap hidup. Wajar aja sih, kita memang nggak pernah punya proyek serius merumuskan identitas nasional.

Apa sih Indonesia itu? Jawab Jokowi di Sidang Istimewa MPR 2019 16 Agustus kemarin, “Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan hanya Jawa.” Jokowi katakan itu setelah memperkenalkan pakaian megah yang dia kenakan sebagai pakaian adat Sasak dari Nusa Tenggara Barat.

“Indonesia,” katanya lagi, “adalah seluruh pelosok tanah air.”

Ungkapan standar. Normatif. Tidak mengganggu orang. Wong itu cuma definisi geografis. Di balik pernyataan Jokowi itu, tersirat bahwa definisi apa itu Indonesia masih muter-muter di sekitar apa yang dulu dipakai di zaman Pak Harto.

Lalu peringatan 17-an dimeriahkan dengan parade pakaian daerah. Jelas terlihat saat upacara 17-an di Istana kemarin.

Situasinya tak berbeda dari 22 tahun lalu, ketika saya dikenalkan dengan kebudayaan nasional lewat tugas dari guru SD. Disuruh mengkliping kotak korek api yang bagian belakangnya bergambar sepasang lelaki dan perempuan memakai pakaian adat, di bagian bawah gambar ada keterangan nama provinsi, dan semua gambar itu harus lengkap dari provinsi ke-1 yakni Daerah Istimewa Aceh, hingga provinsi ke-27, Timor Timur.

Selain pakaian adat, kami juga diminta menghafal daftar lagu daerah dari masing-masing provinsi tersebut. Kalau Kalimantan Barat, provinsi tempat kami hidup, lagunya “Cik-cik Periok”. Kalau dari Jawa Tengah, “Suwe Ora Jamu”. Kalau Sulawesi Utara, “Si Patokaan”.

Tugas sekolah itu menanamkan dalam kepala kami, Indonesia adalah kumpulan provinsi-provinsinya. Bedanya, dulu provinsinya 27, sekarang sudah jadi 34. Mungkin sebelum kami dikasih tugas kliping kotak korek api itu, masing-masing provinsi sudah duluan dikasih PR sama pemerintah pusat: harus mencari apa identitas kulturalnya yang bisa diwakilkan lewat dua setel pakaian (untuk laki-laki dan perempuan), lagu daerah, dan…

…tiba-tiba saya teringat ini dan ingin tertawa. Di pelajaran IPS itu, saya baru ingat kami juga diminta menghafal sumber daya alam, flora, dan fauna khas masing-masing provinsi tersebut.

Tapi apalah yang bisa dibayangkan anak SD selain mematuhi perintah guru yang di masa itu, siap menghantam betis kami dengan penggaris kayu 1 meter saban kali kami selip menghafal. Mana ada kami memikirkan bahwa pelajaran itu seharusnya membuat kami tak mengejek-ejek satu anak baru yang masuk ketika kami memulai caturwulan pertama kelas III.

Baca juga:  Benarkah JK “Jodohkan” Jokowi dengan Puan Maharani dan Anies Baswedan?

Di hari itu wali kelas kami masuk dengan seorang anak berambut lebat, alis tebal, dan kulit hitam. Belakangan saya tahu, ia larinya kencang sekali. Penampilannya sangat kontras dengan tampilan setengah isi kelas yang Tionghoa, seperempat isi kelas yang Melayu, dan sisanya bersuku dan ras campuran. Anak itu bernama Joni.

Joni pindah dari mana? Tanya anak-anak ketika merubunginya di waktu istirahat. Dari NTT, kata Joni.

Saya ingat-ingat sekarang, kemungkinan keluarga Joni pindah ke pelosok Kalimantan Barat karena bisa jadi dia korban terdampak kerusuhan di perbatasan jelang Timtim merdeka. Dulu tentu saja tidak sadar. Setidak sadar ketika teman sebangku saya tahu-tahu tak ada begitu saja. Seorang anak perempuan Suku Madura bernama Halilah. Mungkin pindah terdampak kerusuhan Sampit. Bisa jadi.

Memang seperti itu kebiasaan kita orang Indonesia. Kalau bertemu, yang ditanyakan pertama “aslinya dari mana”. Sebenarnya ya menanyakan suku. Oh, Prima dari Purwokerto, orang Jawa berarti? Kok mukanya Cina? Kok agamanya Islam? Saya kira Kristen.

Kenyang dapat rundungan rasialis, saya sekarang nggak punya masalah dengan stereotip. Masih suka anggap stereotip itu tambang humor. Asal situasinya tepat. Karena saya perhatikan, orang yang bisa mencandai kesukuan saya adalah orang-orang yang aslinya rileks dan fleksibel dan nggak punya sentimen rasial ke saya. Ya gimana lagi, saya nggak bisa memalingkan muka dari kenyataan bahwa perbedaan itu memang ada.

Lepas dari soal stereotip, saya merasakan ada kebutuhan besar untuk punya identitas bersama yang mewadahi suku-suku dan ras di Indonesia. Setidaknya biar orang darah campuran macam saya bisa punya identitas. Satu identitas nasional seperti yang ditemukan ketika pertandingan olahraga mempertemukan timnas Indonesia melawan negara lain.

Biar kita punya solidaritas yang tulus antara orang yang beda-beda ras dan suku tapi tinggal di satu negara ini. Bosan kan dengar ancaman klise semacam, “Kamu kalau macam-macam, kami pulangkan ke provinsi asalmu!” lagi.

Baca juga:  Jokowi Tak Pernah Kalah, Mirip Arsenal dan Juventus Zaman Invincible

Tapi ini identitas nasional yang bukan ala Jokowi. Jokowi masih menganut ide kebudayaan nasional sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah. Memakai istilah Mohammad Hatta, yang model begini mah bukan bikin persatuan Indonesia, melainkan persatean Indonesia. Wong orang Kabupaten Banyumas, domisili orang tua saya sekarang, kadang suka sebel dan inferior kalau melihat bagaimana Provinsi Jawa Tengah diwakili dengan kultur yang menurut mereka kultur wetan; kulturnya Solo yang halus itu.

Identitas nasional itu diwakili oleh orang-orang campuran yang tidak peduli lagi dengan suku dan etnis. Biar kemudian nggak ada lagi istilah “orang asli” dan “pendatang”. Bahasa pemersatunya Indonesia. Budayanya apa, itu PR. Seni dan sastranya kayak gimana, itu juga PR. Yang penting ngasih ide dulu kan.

Kalau sudah begitu mestinya jadi enak. Orang Jawa nggak bisa ngeluh “wong jawa ilang jawane” lagi. Asal budaya Jawa masih ada yang pelihara, mau itu londo kampung atau cino Semarang atau blasteran Prancis-Magelang; asal bahasa Papua tetap dipelajari, nggak punah karena semua orang pakai bahasa Indonesia, terserah ia mau dipakai sama bule fasih bahasa Papua ini atau oleh orang Jawa yang udah puluhan tahun hidup di bumi Cendrawasih karena dulu mbahnya ikut transmigrasi.

Kasus rasialisme Papua ini adalah alarm agar kita makin serius memikirkan proyek identitas nasional Indonesia. Kalau sudah mulai jalan proyeknya; gayeng, asyik dibicarakan, dan produktif diskusinya, kita bisa cicil bahas problem lain.

Yang mana problem itu adalah fenomena orang tua Indonesia saat ini, yang hidupnya di Indonesia, beli gorengan masih pakai rupiah, tapi ngajarin anaknya bahasa Inggris semata. Ini fakta mengejutkan buat saya yang masih lajang. Karena ternyata, saudara-saudara, saat ini ada banyak anak Indonesia perkotaan yang nggak fasih bahasa Indonesia.

Menurut saya ini gila sih.

BACA JUGA Berterima Kasih kepada Bahasa Indonesia Setahun Sekali



Tirto.ID
Loading...

No more articles