MOJOK.CO – Kudeta klan Uchiha di Konoha kandas sebelum terlaksana. Namun, urusannya tak selesai ketika rencana itu terbongkar.
Banyak sekali contoh kudeta yang berhasil di dunia ini. Misalnya Perdana Menteri Mosaddegh di Iran. Pun penggulingan Presiden Jacobo Árbenz di Guatemala yang dapat kalian baca juga versi novelnya dalam Harsh Times-nya Mario Vargas Llosa.
Di antara kudeta yang berhasil itu, ada pula yang gagal. Misalnya Algiers Putsch, empat jenderal yang memberontak terhadap Presiden Charles de Gaulle karena menentang rencana pemberian kemerdekaan kepada Aljazair.
Tidak hanya militer saja yang melakukan kudeta. Dari pihak kepolisian pun ada juga. Operation Holdfast di Ceylon di Sri Lanka ketika kepolisian saling cepu. Ada juga percobaan kudeta yang dilakukan oleh kepolisiannya Konoha. Konoha yang benar-benar Konoha lho ya. Yakni Klan Uchiha.
Diskriminasi politik pada Klan Uchiha di Konoha
Meskipun tidak dapat dibenarkan, alasan kudeta klan Uchiha ini sangat jelas. Bahkan, beberapa orang mengatakan jika percobaan kudeta itu adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh.
Ketika serangan Kurama, Kyuubi berekor sembilan, melanda Konoha, klan Uchiha mendapatkan sorotan tajam. Mereka dituduh sebagai dalang utama hadirnya terror mengerikan itu. Sebab, hanya pemilik Sharingan yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan Kurama. Sedangkan pemilik Sharingan satu-satunya adalah klan Uchiha.
Padahal, setelah Konoha didirikan, Klan Uchiha diberi tanggung jawab mengelola kepolisian militer desa. Setelah kejadian Kurama, kepercayaan itu menurun drastis.
Menurunnya kepercayaan itu juga terjadi secara politis. Mereka tersingkir, seperti diasingkan, di desanya sendiri. Peran-peran krusial mereka bisa dikatakan nihil.
ABRI Zaman Orba
Jika Anda jadi teringat peran polisi ketika zaman orde baru, ketika kepolisian merupakan bagian dari ABRI, reorganisasi 1970 yang menegaskan bahwa Kapolri berada di bawah Panglima ABRI, Uchiha mirip-mirip seperti itu.
Kepolisian tidak mempunyai kemandirian kelembagaan. Di sisi lain, mereka melihat dominasi Angkatan Darat dalam percaturan politik seperti dwifungsi ABRI.
Tapi ya kepolisian negeri ini ketika masa orde baru tidak separah apa yang dialami oleh klan Uchiha. Sehingga muncul niatan kudeta. Ada dua suara yang berubah dalam rezim Konoha yang dipimpin Hiruzen Sarutobi saat itu. Ia ingin negosiasi, namun penasehat sekaligus pemegang, katakanlah, intelijennya Konoha, Danzo Shimura, memutuskan untuk membantai habis klan Uchiha.
Itulah kenapa harusnya satu kepemimpinan jangan diisi oleh dua suara alpha. Rusak sudah satu desa karena dua mbah-mbah. Yang ketiban sial siapa? Anak-anak muda seperti Sasuke, Itachi, Naruto, dan kawan-kawannya.
Pelajaran penting dalam kudeta di Konoha
Posisi kepolisian Konoha yang dipegang Klan Uchiha itu terjepit. Bukan tentang keuntungan cuan dari penanganan narkoba dan judi online yang didapat oleh bapaknya Sasuke jadi berkurang lho ya. Bukan. Tapi keberlanjutan kehidupan kelompok mereka dalam tatanan kehidupan Konoha.
Ada anak-anak di klan mereka yang mendapatkan tatapan sinis dan ketakutan. Mereka takut bahwa anak-anak mereka tak memiliki ruang yang baik untuk tumbuh dan berkembang. Perasaan-perasaan melankoli klan Uchiha itulah yang membuat mereka berniat untuk kudeta.
Kalau polisi yang sudah dapat posisi strategis di pemerintahan, enak untuk bergerak kesana kemari, ngapain juga kudeta jika bukan faktor tamak?
Maksud saya, tanpa tekanan dan tidak ada apa pun di atasnya selain presiden, ya buat apa kudeta? Kapolri dan bintang empat lainnya itu Kapolri sangat strategis dalam struktur pemerintahan.
Polri tidak perlu (lagi) melewati Panglima TNI atau kementerian untuk menyampaikan persoalan kelembagaannya pada presiden. Mereka juga memiliki otonomi institusional yang lebih luwes dari zaman orde baru.
Tapi ya itu hanya sekadar coretan teori di atas kertas. Ada kepentingan-kepentingan tersendiri, desakan politik, dan huru-hara di luar maupun di dalam tubuh kepolisian yang bisa saja menimbulkan kudeta yang berasal dari segelintir pihak yang tak puas. Tak puasnya karena apalagi? Masing-masing pihak punya alasan personal.
Siapa korban sesungguhnya?
Tiap kali elit berkonflik, saya selalu percaya bahwa lagi-lagi korbannya ya kalian-kalian itu sendiri. Saya, kalian, bapak-ibu yang lagi nyapu di halaman rumah, penjual es goreng, editor tulisan ini, dan kita semuanya sebagai rakyat biasa yang menonton elit saling sikut.
Warga Konoha pun sama. Ketika elit sabung kekuatan, Danzo naik dan yang menderita generasi-generasi muda kayak Naruto. Kita pun seperti Naruto. Pada akhirnya dosa-dosa orang yang mau dikudeta seakan terkelupas dan sebagian dari kita bersimpati. Narasi yang awalnya perlawanan menjadi bergeser, “daripada pihak si pengkudeta yang naik, mending pihak yang mau dikudeta.”
Nih, ya, memilih antara Danzo atau head clan-nya Uchiha, bapaknya Sasuke dan Itachi itu, sama seperti memilih antara tahi ayam atau tahi bebek. Sama-sama bau. Sama-sama kotor.
Penulis: Gusti Aditya
Editor: Agung Purwandono