ADVERTISEMENT

Laki-laki Diajarkan untuk Selalu Kuat, sampai Takut Mengakui Rasa Takut

Laki-laki Diajarkan untuk Selalu Kuat, sampai Takut Mengakui Rasa Takut M OJOK.CO

MOJOK.CO – Sejak kecil, laki-laki diajarkan untuk selalu kuat, berani, dan tidak menunjukkan rasa takut. Namun, bagaimana jika tuntutan itu justru membuat laki-laki semakin sulit menghadapi kecemasannya sendiri?

Beberapa teman yang saya anggap sangat maskulin justru menangis setelah pengumuman kenaikan kelas. Mereka menangis bukan karena gagal, melainkan karena bersyukur dapat naik kelas.

ADVERTISEMENT

Peristiwa itu terjadi saat kenaikan kelas XI ke kelas XII di SMA Kolese De Britto, sekolah yang seluruh siswanya laki-laki. Saya masih ingat, ketika menunggu pengumuman, mereka tidak terlihat terlalu tegang. Setelah mengetahui hasilnya, barulah tangisan itu muncul.

Saat itu, saya masih menganggap kecemasan sebagai bentuk kelemahan. Dalam lingkungan pergaulan yang seluruhnya laki-laki, saya tumbuh dengan pemahaman bahwa menunjukkan rasa takut dan cemas bukanlah sesuatu yang terlalu maskulin. Laki-laki seolah-olah harus selalu terlihat tenang, berani, dan mampu menghadapi segala sesuatu.

Tangisan teman-teman saya menggoyahkan pemahaman tersebut. Saya tidak tahu persis apa yang mereka rasakan selama menunggu pengumuman. Namun, saya mulai menyadari bahwa penampilan tenang tidak menceritakan seluruh pengalaman emosional seseorang. Orang yang saya anggap kuat pun dapat menangis, dan tangisan itu tidak membuat mereka menjadi lemah.

Seiring waktu, saya melanjutkan pendidikan di bidang psikologi dan kemudian mendalami neuroscience. Saya mulai memahami bahwa emosi dan kecemasan bukan sesuatu yang perlu selalu dihindari atau disembunyikan. 

Keduanya merupakan bagian alamiah dari kehidupan manusia. Namun, terkadang saya bertanya-tanya: apakah perubahan cara pandang ini terjadi karena ilmu yang saya pelajari, atau karena saya semakin dewasa dan mulai mampu memahami pengalaman emosional dengan lebih baik?

Kecemasan pada laki-laki bukan kesalahan dalam diri manusia

Dari perspektif evolusi, emosi membantu manusia merespons lingkungan, berkomunikasi, dan membangun kehidupan bersama. Kecemasan pun memiliki fungsi adaptif: membantu kita mengantisipasi ancaman dan bersiap menghadapinya. Pada masa lampau, kemungkinan keberadaan predator, misalnya, dapat membuat detak jantung meningkat, perhatian lebih waspada, dan tubuh siap untuk bertindak.

Dengan kata lain, kecemasan bukanlah kesalahan dalam sistem biologis manusia. Dalam kadar dan konteks yang sesuai, kecemasan membantu kita mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang mungkin terjadi.

Kini, sumber kecemasan kita tidak selalu berupa predator atau ancaman fisik yang terlihat. Ujian, hubungan dengan pasangan, penerimaan lingkungan sosial, ketidakpastian karier, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan hidup dapat memunculkan respons serupa. Bahkan, kemungkinan buruk yang baru terbayang dalam pikiran pun bisa membuat kita cemas.

ADVERTISEMENT

Kemampuan membayangkan masa depan memang membantu manusia merencanakan kehidupan. 

Namun, kemampuan yang sama juga memungkinkan kita menyusun berbagai skenario buruk yang belum tentu terjadi. Tanpa harus berhadapan langsung dengan ancaman, tubuh kita dapat ikut bereaksi terhadap kemungkinan yang kita pikirkan.

Mekanisme yang dahulu membantu manusia bertahan hidup tetap bekerja dalam diri kita. Bedanya, kini mekanisme tersebut merespons sumber kecemasan yang lebih beragam, termasuk persoalan yang tidak bisa kita hadapi atau hindari saat itu juga.

Remaja perlu bekal untuk memahami emosinya

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kita membicarakan masa remaja. Pada masa ini, seseorang mulai menjelajahi lingkungan, membangun identitas, mengembangkan kemandirian, dan mengambil berbagai keputusan penting. Proses tersebut membuka banyak kesempatan baru, tetapi juga membawa ketidakpastian dan risiko.

Dalam neurosains perkembangan, terdapat dual systems model yang membantu menjelaskan dinamika tersebut. Menurut model ini, sistem otak yang berkaitan dengan motivasi, penghargaan, dan pemrosesan emosi memiliki lintasan perkembangan yang tidak sepenuhnya sama dengan sistem kontrol kognitif. Sistem kontrol kognitif, yang melibatkan jaringan otak termasuk korteks prefrontal, terus berkembang hingga masa dewasa.

Untuk memudahkan pemahaman, model ini kerap dijelaskan melalui analogi pedal gas dan rem. Dorongan mencari pengalaman baru diibaratkan sebagai gas, sedangkan kontrol kognitif berperan seperti rem yang membantu seseorang mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak. Tentu saja, analogi ini merupakan penyederhanaan, bukan gambaran lengkap tentang cara kerja otak remaja.

Perbedaan lintasan perkembangan tersebut tidak berarti remaja selalu bertindak impulsif atau tidak mampu mengendalikan diri. Keinginan bereksplorasi dan mencoba hal baru justru dapat memiliki fungsi adaptif: membantu mereka mempelajari lingkungan, membangun kemandirian, dan menemukan identitas.

Bersamaan dengan proses itu, remaja menghadapi berbagai pengalaman emosional baru. Hubungan pertemanan, penerimaan teman sebaya, hubungan romantis, prestasi akademik, hingga bayangan tentang masa depan dapat menjadi sumber kecemasan. Sesuatu yang terlihat sepele bagi orang dewasa belum tentu terasa sepele bagi remaja yang mengalaminya.

Karena itu, kemampuan mengenali dan meregulasi emosi perlu dikembangkan sejak dini. Kita perlu membantu remaja memahami apa yang mereka rasakan dan bagaimana meresponsnya. Dengan demikian, mereka memiliki bekal untuk mengambil keputusan sekaligus menghadapi emosi yang menyertai pilihan dan konsekuensinya.

Menahan ekspresi bukan satu-satunya cara menghadapi emosi

Dalam psikologi, regulasi emosi merujuk pada berbagai proses yang digunakan seseorang untuk memengaruhi emosi yang dialami dan bagaimana emosi tersebut diekspresikan. Salah satu kerangka yang cukup dikenal adalah process model of emotion regulation yang dikembangkan James Gross.

Salah satu strategi di dalamnya ialah expressive suppression, yakni upaya menahan ekspresi emosi agar tidak terlihat oleh orang lain. Strategi ini dapat berguna dalam situasi sosial tertentu. Namun, jika menjadi kebiasaan yang kaku, menekan ekspresi emosi juga dapat memiliki konsekuensi terhadap pengalaman emosional dan interaksi sosial.

Saya terkadang bercanda di kelas bahwa salah satu bentuk regulasi emosi yang populer di masyarakat Jawa adalah nrimo ing pandum. Namun, menerima keadaan tidak selalu sama dengan menekan emosi. Seseorang bisa menerima situasi sambil tetap mengakui bahwa dirinya sedih, kecewa, atau takut.

Persoalannya bukan apakah laki-laki boleh menahan tangis atau menyimpan perasaan untuk sementara waktu. Yang perlu kita tanyakan ialah apakah ia memiliki pilihan lain ketika cara tersebut tidak lagi membantu. Apakah ia bisa mengakui kecemasannya, membicarakannya, atau mencari bantuan tanpa merasa harga dirinya berkurang?

Regulasi emosi memberi kita ruang untuk memiliki pilihan tersebut. Tujuannya bukan membuat seseorang selalu tenang, melainkan membantunya merespons emosi secara lebih sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Grounding: memberi perhatian pada yang sedang kita alami

Salah satu strategi dalam model Gross adalah attentional deployment, yaitu mengatur emosi dengan mengarahkan perhatian pada aspek tertentu dari suatu situasi. Salah satu teknik praktis yang memanfaatkan pengalihan perhatian menuju pengalaman saat ini adalah grounding.

Caranya bisa dengan mengidentifikasi lima benda yang terlihat, memperhatikan suara di sekitar, merasakan telapak kaki menyentuh lantai, atau memperhatikan sensasi tubuh ketika sedang duduk. Ketika pikiran terserap oleh berbagai kemungkinan buruk, perhatian diarahkan kembali pada informasi sensoris yang hadir di sekitar kita.

Grounding bukan tombol untuk mematikan kecemasan atau secara langsung mengaktifkan sistem saraf tertentu. Teknik ini juga tidak selalu berhasil untuk setiap orang dan setiap situasi. Namun, grounding dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan pengalaman saat ini, sehingga memiliki ruang untuk mengevaluasi situasi dan merespons emosinya dengan lebih adaptif.

Hal terpenting bukanlah menghilangkan emosi, melainkan menyadari apa yang sedang dirasakan tanpa harus langsung dikuasai olehnya. Bagi anak laki-laki yang terbiasa menyembunyikan kecemasan, mengenal cara lain untuk meresponsnya dapat menjadi bekal yang berarti.

Kembali ke sekolah, membawa cara pandang yang berbeda untuk remaja

Perjalanan mempelajari psikologi dan neurosains membawa saya kembali ke De Britto sebagai bagian dari tim Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dalam program pengabdian kepada masyarakat pada 22–28 Oktober 2026. Kami memperkenalkan kecemasan, mekanisme biologisnya, serta strategi regulasi emosi, termasuk grounding, kepada siswa kelas X. Tujuannya memberi bekal untuk memahami emosi, tanpa menganggap mereka sedang mengalami masalah psikologis.

Para siswa telah mendapatkan pendidikan karakter dan persiapan melanjutkan pendidikan. Namun, apakah kita juga memberi mereka ruang untuk memahami kecemasan yang menyertai tuntutan prestasi, pilihan pendidikan, dan masa depan?

Regulasi emosi dapat menjadi bekal menghadapi pengalaman sehari-hari. Meski begitu, kecemasan yang terus-menerus dan mengganggu keseharian perlu mendapat perhatian. Keterampilan ini tidak menggantikan dukungan profesional yang mungkin diperlukan.

Saya berharap kegiatan di De Britto membantu siswa memahami bahwa kecemasan pada laki-laki bukanlah tanda kelemahan yang harus disembunyikan demi tuntutan maskulinitas. Dahulu, saya mengira menjadi kuat berarti tidak cemas dan tidak menangis. Kini, saya memahami bahwa kekuatan juga berarti mengenali perasaan, memahami penyebabnya, dan mengetahui kapan membutuhkan bantuan.

Saya jadi teringat kata-kata Eisen, tokoh anime Frieren: Beyond Journey’s End: “It’s not a bad thing to be afraid. My fears have brought me this far.”

Penulis: Satrio Priyo Adi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Laki-Laki Diajari Tidak Boleh Menangis, tetapi Tidak Diajari Harus Bercerita kepada Siapa

Terakhir diperbarui pada 2 November 2026 oleh .

Satrio Priyo Adi

Kontributor aktif media opini dan satir.