Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Udahlah KPI, Nggak Usah Ikut Cawe-Cawe Ngurusin Platform Digital

Audian Laili oleh Audian Laili
7 Agustus 2019
A A
KPI MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Belum becus benerin program televisi, KPI tiba-tiba pengin ikut ngurusin konten di platform digital. Banyak tenaga betul~

Kalau ada lembaga negara yang senang betul cari-cari pekerjaan, mungkin Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah salah satunya. Bagaimana tidak? Belum becus ngurusin tayangan-tayangan di televisi supaya lebih bermutu, sekarang malah bakal cawe-cawe plaform digital seperti YouTube, Facebook, atau Netflix untuk melakukan pengawasan terhadap kontennya.

Sebetulnya, aturannya ini masih belum ada. Beliau-beliau ini masih sedang mengharapkan DPR merevisi Undang-Undang Penyiaran supaya segera dapat menjadi dasar hukum biar bisa ngawasi. Mungkin kalau di kelas, KPI ini udah mirip kayak anak rajin yang duduk di bangku paling depan. Hobi rajinnya itu, sering kali mengusik ketenangan siswa yang lain.

Ya, mohon maaf nih. Kami-kami yang selama ini berbahagia dalam menikmati konten-konten di YouTube atau Netflix sebetulnya memang sudah jengah dengan konten televisi yang terlalu banyak nggak masuk akalnya. Jadi, meski harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak—untuk beli kuota, tidak menjadi masalah: Demi konten yang berkualitas yang bisa memberikan nutrisi baik bagi otak.

Selain itu, KPI pengin melakukan pengawasan pada platform digital supaya konten yang ada memang layak ditonton dan punya nilai edukasi—sehingga bisa menjauhkan masyarakat dari konten berkualitas rendah.

Eh, bentar. Gimana? Punya nilai edukasi dan tidak berkualitas rendah? Terus, apa kabar sama program-program televisi kita selama ini?

Bukankah sudah terlalu banyak program yang betul-betul bobrok dan nggak layak dipertontonkan karena terlalu banyak settingan, ghibah, dan guyonan sampah? Eh, KPI juga terlihat nggak ada masalah, tuh. Ya, kalaupun ada yang dikasih peringatan, paling juga emang peringatan doang. Misalnya diperingatkan berkali-kali, biasanya sih “kekuatannya” stagnan. Sebut saja Fesbukers yang kontennya terlalu sering bermasalah, tapi masih tayang juga, kan? Palingan cuma dikurangi jam tayang.

Selain konten yang ide dan eksekusinya terlalu “minimalis”, program televisi juga menjemukkan dengan banyaknya gambar-gambar yang disensor. Memang yang menyensor itu bukan KPI-nya, tapi program televisinya sendiri. Namun, bukankah itu sebetulnya karena aturan panjang dari KPI yang kurang jelas—sehingga bikin televisi punya pemaknaan berbeda-beda? Lantas memilih cara aman hingga nggak masuk akal.

Kalau saja, KPI mau bikin pedoman dengan “lebih jelas”, tentu pemaknaan tersebut nggak bakal manasuka. Atau, sekalian ngasih sanksi yang beneran tegas biar program-program alay itu terhempas dari bumi pertelevisian dan bikin industri televisi kita berlomba-lomba di jalan yang lurus. Jalan yang diridhoi semesta.

Jadi, energi para kru televisi bisa disalurkan untuk bikin program yang berbobot. Bukannya sibuk nyensor bajunya Sandy di Spongebob, Shizuka, atau susunya sapi yang lagi diperah. Sungguh sebuah bukti persilangan paripurna antara pedoman yang kurang jelas dan industri televisi yang “terlalu ketakutan” tapi konteksnya nggak pas.

Oleh karena itu, kami nggak sudi rela kalau KPI harus ikut campur sama sama konten-konten di platform digital yang kami rasa nggak ada masalah. Tolonglah, kami juga nggak bodoh-bodoh amat dalam milih konten, kok. Biarkan kami menonton Black Mirror di Netflix dengan tenang. Biarkan kami nonton Spongebob di YouTube dengan pandangan lebih nyaman.

Jadi KPI, lebih baik benahi dulu program-program di TV. Sama anu, pemilihan komisionernya juga. Gimana bisa baik kalau yang terpilih jadi komisioner ujung-ujungnya orang yang berafiliasi sama industri TV-nya sendiri. Hehehe, lembaga independen macam apa~

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2019 oleh

Tags: acara televisikpiplatform digitalsensor
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

ilustrasi Sinetron Indosiar Bukan Nggak Masuk Akal, Itu Prediksi Masa Depan mojok.co
Pojokan

Sinetron Indosiar Bukan Nggak Masuk Akal, Itu Prediksi Masa Depan

21 September 2021
Saipul Jamil dalam Pusaran Ide Penyuluhan versi KPI dan KPK MOJOK.CO
Esai

Saipul Jamil dalam Pusaran Ide Penyuluhan versi KPI dan KPK

13 September 2021
ilustrasi Kita Cinta Steve Blues Clues tapi Benci sama Dora The Explorer, Kok Pilih-pilih Gitu? mojok.co
Pojokan

Kita Cinta Steve Blues Clues tapi Benci sama Dora The Explorer, Kok Pilih-pilih Gitu?

9 September 2021
Pojokan

Musik Azan Remix Bikin Geger Netizen Ava Korea. Hei MNet, Makanya Jangan Sembarangan Anda

9 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah Scam Itu Omongan Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

Kuliah Scam Itu Omongan Orang Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

8 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Selamat tinggal Doraemon di RCTI. MOJOK.CO

Doraemon dan RCTI Akhirnya Berpisah, Terima Kasih Telah Temani “Inner Child” Saya yang Terluka

7 Januari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.