Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Susahnya Menjadi Netral di Tengah Netizen yang Tidak Netral

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
8 Januari 2019
A A
netral
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dua hari yang lalu, akun Instagram Mojok membikin konten infografik yang isinya berisi daftar 40 caleg mantan napi korupsi yang dirilis oleh Indonesia Corruption Watch (ICW). Dalam daftar tersebut, disebutkan nama-nama si caleg beserta partai pengusungnya.

 

View this post on Instagram

 

INGET INGET NAMANYA!!1!1!!!!1! KAGAK USAH DIPILIH!1!!1!1!!!!!1 #mojokdotco #kilas

A post shared by MDC (@mojokdotco) on Jan 5, 2019 at 6:52pm PST

Golkar, Gerindra, Hanura, dan Demokrat menjadi empat partai teratas yang paling banyak mengusung caleg mantan koruptor.

Nah, dalam daftar tersebut, tidak ada partai PDI Perjuangan, PSI, Nasdem, dan PKB. Empat partai yang kebetulan semuanya menjadi pengusung pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amien.

Tidak adanya empat partai tersebut, utamanya PDI Perjuangan, membuat banyak netizen yang kemudian menuduh Mojok tidak netral. Ada banyak sekali komentar yang menganggap Mojok condong ke Jokowi.

“Mojok adalah favorit ku, makanya aku mnjd followers nya, tp setelah berita ini turun maka aku resmi utk meninggalkan nya, mojok semakin tdk berimbang.”

“Yg fair dong min.. Semua partai lah harusnya nanti kesannya mojok cuma media pesanan.. Klo mmg ga ada ya bagus lah tapi klo mmg ada ya masukin jg dong…”

“Yahhhh… Berpihak gak usah di share min, PDIP jugak korup lohh.. ternyata admin nya caleg PDIP haha.”

Sebagai orang yang bekerja di Mojok, tentu saja saya dibikin ngelu. Lha gimana, dalam daftar yang dirilis oleh ICW, keempat partai yakni PDI Perjuangan, PSI, Nasdem, dan PKB memang tidak dicantumkan karena tidak memperbolehkan mantan koruptor untuk maju sebagai caleg. Masak kami harus mencantumkan sesuatu yang memang tidak bisa dicantumkan.

PDI Perjuangan, misalnya, sejak September tahun lalu memang melarang mantan napi korupsi untuk maju sebagai caleg. Bahkan satu caleg asal dapil Poso yang maju melalui PDI Perjuangan akhirnya dicoret oleh partai kendati secara aturan diperbolehkan.

Iklan

PSI lebih “berani” lagi. Sejak awal, sejak masa pembukaan pendaftaran, PSI sudah melarang mantan napi korupsi untuk ikut mendaftar.

Dari sini saya mulai belajar, bahwa kenetralan kadang hadir bukan melalui standar yang netral. Ia hadir melalui kacamata keinginan yang tentu saja berpihak.

Kali lain, Mojok pernah dianggap sebagai media partisan karena sering mengulas kelucuan-kelucuan dan kewaguan-kewaguan tokoh-tokoh dari kubu pendukung Prabowo.

Sekali lagi, ini cukup bikin saya ngelu dan agak mumet.

Lha Mojok selama ini memang media yang dikenal suka mengakspos isu-isu yang lucu.

Nah, dalam kontestasi politik menjelang 2019 ini, sosok-sosok politisi yang tingkahnya lucu memang kebetulan kebanyakan dari kubu pendukung Prabowo.

Sebut saja Amien Rais yang menyebut partai setan dan partai Allah. Kemudian Ferdinand Hutahaean yang menyebut tanda-tanda kemenangan Prabowo karena mobilnya kejatuhan tahi burung berbentuk angka 2. Lalu ada Habiburokhman yang menyebut Prabowo akan menang karena ia melihat awan di langit membentuk siluet gambar Prabowo sedang memakai topi koboi. Tak ketinggalan sosok Ratna Sarumpaet yang wajahnya bengkak karena operasi medias tapi mengaku dianiaya. Sampai Sandiaga Uno yang dengan sangat lucunya menggunakan gimik jurus bangau sampai wig dari petai.

Nah, sementara dari kubu Jokowi, sejauh yang Mojok tahu, sosok-sosok lucu dan wagu mentok hanyalah Ngabalin dan Farhat Abbas. Itupun yang disebut terakhir sudah dipecat dari tim pemenangan karena pernyataannya terlalu wagu.

Sungguh, kalau kebetulan orang-orang yang lucu itu sebagian besar berada dalam kubu Jokowi, pasti Mojok akan lebih banyak membahas mereka dengan segala kelucuan dan kewaguannya.

Ah, susah betul dianggap netral di tengah masyarakat yang bahkan memandang sesuatu dengan tidak netral.

Pantas saja Netral ganti nama jadi NTRL. Sebab memang Sudah menjadi Netral.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2019 oleh

Tags: jokowiNetralprabowo
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Derita anak bungsu. MOJOK.CO

Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

9 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.