Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Solusi Dahsyat Keluar dari Kemiskinan versi Fadjroel Rachman

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
16 Januari 2020
A A
fadroel rachman kemiskinan turun data susenas september 2019 twitter mojok.co

fadroel rachman kemiskinan turun data susenas september 2019 twitter mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman membagikan tips keluar dari kemiskinan. Wow. Luar biasa. Dahsyat. Akhirnya ada juga yang terpikirkan solusi ini.

Jika ditanya, apa sih yang bikin seseorang menjadi miskin, kita-kita yang selama ini berbangga menjadi sobat miskin tentu paling ahli dong untuk menjawabnya. Orang jadi miskin ya sudah pasti karena pendapatannya lebih kecil daripada pengeluaran.

Kita juga amat sangat ahli menjawab, apa saja penyebab pendapatan kita (atau seseorang lah, kalau kamu nggak merasa miskin) lebih kecil daripada pengeluaran.

Bisa jadi karena boros.

Tapi, untuk membatasi kapan seseorang disebut boros dan kapan seseorang disebut kekurangan, dalam dunia perburuhan ada istilah kebutuhan hidup layak (KHL) yang terdiri dari 7 komponen dan puluhan item turunan. Komponen-komponen itu terdiri dari makanan dan minuman, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, serta rekreasi dan tabungan.

Dari KHL ini kemudian ditentukanlah standar upah minimum yang per kabupaten dan kota, jumlahnya bervariasi.

Sedangkan BPS memakai Garis Kemiskinan untuk membatasi seseorang bisa disebut miskin apa nggak. Garis Kemiskinan adalah batas pengeluaran seseorang selama satu bulan yang jika pengeluarannya di bawah itu, ia bisa disebut miskin. Angkanya sebesar Rp425.250 per kapita per bulan.

Saya harap Fadjroel Rachman membaca tulisan ini dan sampai sini, clear sama penjelasannya.

Tapi ada kalanya kita yang miskin ini, meski berpenghasilan, tetap tak bisa memenuhi kebutuhan hidup layak. Contoh, tadinya beli beras masih mampu, sekarang jadi harus ngutang karena iuran BPJS Kesehatan naik. Atau contoh lain, karena anak sudah mulai masuk sekolah, tadinya penghasilan masih bisa disisihkan untuk nabung, sekarang jadi tidak bisa.

Tapi sesulit apa pun hidup ini, kalau masih punya pekerjaan, kalau masih punya pemasukan rutin, masih alhamdulillah namanya. Sebab, ada orang-orang yang pemasukannya tak tentu karena jadi buruh lepas (atau jadi freelancer berupah kecil, beda nama sih, tapi sama saja). Namun, jadi buruh lepas pun, kita kadang tetap perlu bersyukur, sebab menurut data BPS Agustus 2009, di setiap 100 orang angkatan kerja, ada 5 orang yang menganggur.

Penyebab kemiskinan adalah kajian yang kompleks. Daftarnya merentang dari kualitas pendidikan, situasi politik, kualitas pemerintahan, korupsi, kerusakan lingkungan, harga komoditas, penggunaan teknologi untuk mengganti tenaga manusia, disabilitas, diskriminasi, kelebihan populasi, perang, wabah penyakit… kalau daftar ini diteruskan, saya malah jadi seperti merendahkan kapasitas intelektual Fadjroel Rachman.

Tapi kapasitas intelektual Pak Fadjroel ini memang perlu dipertanyakan. Sebab ia baru saja, dengan bermodel tabel Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2019, memvonis bahwa perokok miskin di Indonesia sebaiknya berhenti merokok karena rokok adalah komoditas peringkat kedua dalam menyumbang garis kemiskinan.

Tahukah anda, penyumbang terbesar kedua garis kemiskinan di Indonesia? ROKOK! Tidakkah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok ini? Sekarang angka kemiskinan terendah dalam 20 tahun terakhir, 9,22 persen! (BPS, 2020). Terimakasih kerja keras Presiden @jokowi & jajaran~ FR pic.twitter.com/hHRQ2smDLp

— Fadjroel Rachman/JURU BICARA PRESIDEN RI (@fadjroeL) January 16, 2020

“Tahukah anda, penyumbang terbesar kedua garis kemiskinan di Indonesia? ROKOK! Tidakkah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok ini? Sekarang angka kemiskinan terendah dalam 20 tahun terakhir, 9,22 persen! (BPS, 2020). Terimakasih kerja keras  Presiden @jokowi & jajaran~ FR”

Iklan

(Anda harusnya ditulis dengan diawali huruf kapital. Itu antara keras dan Presiden ada spasi ganda. Terima kasih dipisah. Kalimat diakhiri titik. Tolong Perpres 63/2019 dibuka lagi, Pak Fadjroel.) 

Bagaimana saya jadi tidak mempertanyakan, atau merendahkan kalau mau ekstrem, jika dalam satu twit Fadjroel Rachman bisa menyebut beli rokok membuat orang miskin sekaligus memuji Jokowi menurunkan angka kemiskinan?

Padahal di tabel itu, di atas rokok ada beras, di bawah rokok ada telur, daging, mi instan, gula, kue, kopi, tempe, roti, tahu, bawang merah, ikan, bawang, dan seterusnya.

Tidakkah ini tidak menggoda orang namanya? Menggoda untuk meneruskan logika Pak Fadjroel bahwa keluar dari kemiskinan bisa dilakukan dengan berhenti merokok, berhenti makan beras, berhenti ngopi, berhenti punya rumah, berhenti pakai bensin, dan berhenti mandi.

Juru bicara presiden kok baca tabelnya begitu.

Lah, kalau saya melihatnya malah beda. Tabel ini justru jadi penggugat soal angka upah orang Indonesia. Masak situ nggak prihatin ketika 25,82% penghasilan orang di perdesaan malah habis untuk beli beras saja? Ini kan antara penghasilannya terlalu kecil atau harga berasnya terlalu mahal.

Pernyataan ini tidak bisa tidak membuat saya teringat pernyataan Puan Maharani saat menjadi Menko PMK dulu, ketika mengomentari harga beras mahal yang memberatkan warga miskin. Solusinya khas orang kaya: Orang miskin disuruh diet nasi. Ngurangi makan nasi.

Pola pikir yang mirip-mirip lah sama anak-anak neolib di Twitter ketika memandang kemiskinan. Pasti bilangnya cuma karena kamu malas, malas, dan malas. Coba bilang “Dasar pemalas!” ke guru honorer kalau berani, Nyet!

Logika sejenis Fadjroel Rachman ini makin absurd ketika komoditas rokok tercatat sebagai penyumbang cukai terbesar yang uangnya dipakai untuk menalangi defisit BPJS Kesehatan dan entah membayari apa lagi dalam belanja negara.

Rokok disebut-sebut membuat negara menghabiskan ongkos sampai ratusan triliun setiap tahun untuk mengobati orang yang sakit karena rokok. Tapi data ini dipertanyakan. Bagaimana menyebut suatu kanker paru-paru yang diidap seseorang disebabkan rokok, bukan polusi, misalnya.

Artinya, rokok itu merugikan masih jadi bahan perdebatan.

Tapi kalau uang negara terbuang sia-sia karena korupsi, menggaji tinggi komisaris BUMN yang inkompeten, mengganti kerugian perusahaan negara yang dikelola dengan serampangan, mengongkosi kerugian pascabencana gara-gara usaha pencegahan bencana menyedihkan, soal-soal ini tak ada perdebatan lagi.

Klasemen sementara LIGA KORUPSI INDONESIA:

1. Jiwasraya: 13.7 Triliun
2. Asabri: 10 Triliun
3. Bank Century: 8 Triliun
4. Pelindo II: 6 Triliun
5. Kota Waringin Timur: 5.8 Triliun
6. BLBI: 4.5 Triliun
7. E-KTP: 2.3 Triliun
8. Hambalang: 700 Miliar

(Source: WAG)

— Buya Eson (@emerson_yuntho) January 14, 2020

Halo Pak Fadjroel, dapat salam dari Pak Emerson Yuntho.

Jadi, Pak Fadjroel Rachman/JURU BICARA PRESIDEN RI *insert centang biru*, kalau mau jadi juru bicara yang baik dan bisa dengan elegan memuji bos Anda, mending itu pelemahan KPK yang jadi keresahan banyak orang yang Anda desakkan ke presiden.

Mudeng ora, Son?

BACA JUGA Bukan Jokowi, Inilah Daftar Penyebab Kita Jadi Miskin atau artikel lain di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 16 Januari 2020 oleh

Tags: Fadjroel Rachmankemiskinan
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Raya, bocah asal Sukabumi yang meninggal karena cacing gelang. Sempat ditolong rumah teduh. MOJOK.CO
Catatan

Pesan Raya dari Surga: Jangan Pernah Hilang Empati terhadap “Orang Miskin” karena Pemerintah Mengabaikanmu

23 Agustus 2025
Upaya Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, entaskan kemiskinan di Jateng MOJOK.CO
Kilas

Target Gubernur: Tak Ada Warga Jawa Tengah yang Terbelenggu Kemiskinan Bertahun-tahun

24 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.