Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Seni Menjual Kesusahpayahan dengan Harga yang Kelewat Mahal

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
21 September 2020
A A
menanam padi
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pekerjaan bagi seseorang adalah materi outbound bagi seseorang yang lain. 

Dua hari terakhir ini, saya menginap di Kembang Kuning. Sebuah desa wisata yang sangat indah di wilayah Kecamatan Sikut, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Saya bersama beberapa kawan memang sedang mengerjakan proyek penulisan buku tentang program Lomba Kampung Sehat, yang mana Desa Kembang Kuning merupakan salah satu pesertanya.

Berlokasi di wilayah dataran tinggi, Kembang Kuning menawarkan bentang alam persawahan yang syahdu dan semlehoy. Dari Kembang Kuning, gagahnya Gunung Rinjani itu bisa dinikmati dengan jelas sehingga makin menambah indah pemandangan persawahan di sana.

Sebagai sebuah desa wisata, tentu saja bukan hanya keindahan alam yang ditawarkan kepada para turis yang datang ke sana. Maklum, di banyak daerah di Indonesia, keindahan alam adalah hal yang biasa. Ia sudah menjadi semacam kebudayaan.

Hal tak biasa yang mampu ditawarkan oleh Kembang Kuning kepada turis yang datang adalah sesuatu yang saya sebut sebagai “sensasi bersusah payah.”

Di desa wisata ini, ada banyak menu makanan dan minuman yang bisa dinikmati. Ikan bakar dengan aneka sayur dan sambal yang ciamik lengkap dengan nasi yang pulennya menggemaskan. Minumannya pun tak kalah dahsyat, ada es jeruk, kopi tubruk khas Kembang Kuning, juga tak ketinggalan air kelapa muda segar yang langsung petik.

Harganya? Cukup terjangkau. Asal nggak melarat-melarat amat, aneka sajian makanan dan minuman itu bisa dengan mudah ditebus.

Nah, yang menarik adalah, harga makanan dan minuman itu bisa naik dengan drastis jika pengunjung yang memesan menu tersebut mau ikut bersusah-payah dalam mendapatkan menu tersebut.

“Harga kelapa muda ini satu butirnya lima ribu, Mas,” terang Kades Kembang Kuning Lalu Muhammad Sujian pada saya, “Namun kalau Mas mau metik langsung dari pohonnya, dalam artian Mas yang manjat pohonnya, maka harganya jadi lima puluh ribu.”

Saya sempat berpikir itu hanya sekadar guyonan belaka. Namun setelah saya tanyakan lebih lanjut, apa yang dikatakan oleh Pak Kades yang gampang tertawa itu ternyata serius adanya. Memang itu yang dijual oleh desa ini.

“Bukan hanya kelapa, Mas. Makanan yang lain juga,” katanya.

“Hah? contohnya, Pak?” tanya saya.

“Kopi, misalnya. Kopi asli Kembang Kuning ini seperempat kilo kami jual dua puluh lima ribu, tapi kalau yang beli ikut menumbuk dan menggiling sendiri kopinya, maka harganya jadi dua ratus lima puluh ribu. Lalu ikan bakar, itu per porsi harganya sekitar lima puluh ribu, tapi kalau pengunjung ikut memancing dan memasak sendiri ikannya, maka harganya jadi lima ratus ribu.”

Tentu saya agak kaget dibuatnya.

Iklan

Saya memang sudah akrab dengan konsep turis ikut merasakan proses seperti menanam padi, membajak sawah, memanjat pohon kelapa, angon kebo, mencabuti ketela, dan aktivitas pedesaan lainnya. Bagi banyak orang-orang desa, aktivitas menanam padi dan sebangsanya itu adalah pekerjaaan sehari-hari. Namun bagi orang-orang kota, aktivitas tersebut tentu saja adalah sebuah pengalaman spiritual.

Maka, tak heran jika kemudian pedesaan dengan segala aktivitas susah payahnya itu “dikomersilkan” menjadi dagangan.

Mungkin memang begitulah seharusnya. Semata agar keseimbangan kosmis tetap terjaga. Orang-orang desa yang selalu menganggap kota sebagai entitas yang modern, maju, dan serba gemerlap itu harus sadar, bahwa di kota, ada banyak orang-orang yang mau membayar mahal untuk bisa menjadi “orang desa” barang sehari dua.

Sudah mafhum bahwa pekerjaan bagi seseorang adalah materi outbound bagi seseorang yang lain.

Namun khusus apa yang terjadi di Kembang Kuning adalah hal yang istimewa. Mereka menjual kerja keras itu dengan harga sepuluh kali lipat. Saya tak menyangka bahwa ada yang bersedia membayar semahal itu untuk sebuah susah payah. Ini sungguh membuat saya heran setengah mampus.

“Itu yang mau manjat pohon kelapa bayar lima puluh ribu jumlahnya banyak, Pak?” Tanya saya.

“Banyak, banyak sekali, Mas.”

“Orang Indonesia?”

“Ya nggak lah. Turis manca. Turis Indonesia mana mau bayar segitu,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Mendengar jawaban pendek itu, saya lega. Keheranan saya mendadak sirna. Bagaimana pun, di Indonesia ini, bukan hanya keindahan alam yang menjadi budaya, namun juga keengganan untuk membayar sesuatu dengan harga yang mahal.

Dan jawaban Pak Kades menjadi bukti penting bahwa orang-orang Indonesia cukup tekun dalam menjaga budayanya.

BACA JUGA Belajar Bersyukur dari Kisah Tsutomu Yamaguchi dan artikel Agus Mulyadi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2020 oleh

Tags: Desamenanam padituris
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa MOJOK.CO
Ragam

Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa

30 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Hidup di Desa.MOJOK.CO
Ragam

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.