Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sekolah Ibu: Ketika Tanggung Jawab Awetnya Pernikahan Berada di Pundak Perempuan

Audian Laili oleh Audian Laili
29 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Program Sekolah Ibu yang digagas oleh Hengky Kurniawan, dipertanyakan. Lantaran program ini seakan menjadikan perempuan yang bertanggung jawab penuh atas awetnya sebuah pernikahan.

Hengky Kurniawan, seorang selebriti tanah air yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat, sedang menjadi serbuan dan amukan sorotan ibu-ibu. Pasalnya, melalui postingannya di akun Instagram miliknya, ia mencetuskan program ‘Sekolah Ibu’ untuk mengatasi angka perceraiannya di Bandung Barat yang tinggi sepanjang akhir tahun 2018. Ia mengungkapkan, terhitung sejak tanggal 5-30 November 2018 ada 244 kasus perceraian di Kabupaten Bandung Barat. Jadi jika dirata-rata artinya setiap hari ada 9-10 orang yang mendaftarkan perceraian.

Menurutnya, ini telah menjadi masalah yang serius khususnya bagi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Oleh karena itu, program ‘Sekolah Ibu’ tersebut dicetuskan bertujuan untuk mengedukasi para istri tentang bagaimana seharusnya kehidupan berumah tangga supaya dapat berjalan damai dan bahagia.

Ketika mendengar sekilas mengenai program Sekolah Ibu ini, seperti tidak ada yang aneh dan tampak baik-baik saja. Bisa dikatakan, ini adalah program yang bagus. Toh bagaimanapun juga edukasi bagi perempuan tentang pernikahan, memang dibutuhkan. Selain itu, jarang-jarang ada seorang pemimpin yang bisa sepeduli itu terhadap masyarakatnya dan betul-betul menginginkan masyarakatnya bahagia.

Namun, ketika membaca lebih lanjut caption di postingan Hengky Kurniawan—meski akhirnya sudah diedit, tapi tetap tidak membantu apa pun, kok, hati saya—yang belum pernah menjadi ibu ini—jadi terasa cenat-cenut ya~

Begini, dalam caption Instagram–nya, Hengky menuliskan,

https://www.instagram.com/p/Br31rCKFIfK/

Helooow, mohon maaf nih, Pak. Kalau dilihat dari tujuan programnya, kok, seakan-akan yang butuh dididik ‘dengan benar’ untuk menekan angka perceraian hanya ibu-ibunya doang? Seolah hanya seorang ibu lah yang bertanggung jawab atas awet tidaknya sebuah pernikahan. Lha terus, bapak-bapaknya apa kabar? Memangnya, para bapak ini betul-betul nggak menyumbang apa pun atas terjadinya sebuah perceraian? Sehingga Bapak menganggap bahwa lelaki tidak perlu dididik—seperti perempuan?

Begini ya, Bapak Hengky yang terhormat, Bapak ini sebetulnya tahu atau nggak, sih? Kalau banyak kasus perceraian yang terjadi dikarenakan sang suami yang dicintai—penginnya sampai mati—itu, nggak bisa ngasih nafkah eh malah melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Ini hanya sedikit contoh dari begitu banyaknya perlakuan suami yang tidak menyenangkan, ya selingkuh lah, hutang sana-sini nggak bilang lah. Memangnya yang kayak gini, tetap nggak perlu diedukasi? Jadi, secara nggak langsung, kalau hal-hal semacam ini terjadi, artinya memang tetap salahnya perempuan dan perempuan harus diedukasi dengan lebih baik lagi? Iya, Pak? Heeh?

Ya iyalah, Mbak. Seorang istri memang punya tanggung jawab untuk paham caranya menghadapi suami, menahan emosi. Kalau istrinya paham, pasti suaminya nggak akan kasar kayak gitu~

Mohon maaf, nih. Kalau kayak gini sih, yang ada istrinya mati pelan-pelan. Lha wong, tidak dihargai dan diperlakukan dengan kasar oleh orang tersayang saja sudah menyakitkan. Apalagi diminta untuk memahami perlakuan tersebut dan…

…mengalah.

Begini loh, Pak. Saya memang belum menikah, tidak seperti Bapak yang sudah menikah dua kali. Namun dalam nalar goblok saya, ketika dua insan sudah memutuskan untuk bersama, itu artinya semuanya telah menjadi tanggung jawab berdua. Jadi bukan hanya salah satu pihak saja yang berusaha. Semuanya harus dijalankan dengan ‘saling’ dan kerja sama, Pak.

Di dalam tujuan program tersebut, Bapak mengungkapkan supaya seorang istri dapat memahami suami. Pak, masalah ‘memahami’ ini bukan hanya tanggung jawab istri. Namun menjadi tanggung jawab kedua belah pihak. Berumah tangga itu seperti ber-partner loh, Pak. Kalau hanya salah satu pihak yang ngoyo, ya buat apa seseorang akhirnya memilih untuk ber-partner?

Iklan

Memangnya enak, Pak. Jadi seorang istri yang terus menerus diminta untuk memahami suami, tapi nggak dipahami sama suaminya sendiri? Kalau kayak gini waktu pacaran aja udah capek, Pak. Apalagi kalau itu sudah berumah tangga yang intensitas interaksinya pun juga bertambah.

Tujuan lainnya yang bikin saya gatel yakni, dapat menahan emosi. Pak, memangnya enak jika diminta untuk terus-terusan menahan emosi jika terjadi hal yang tidak menyenangkan di hati? Begini, Pak, menahan emosi apalagi dalam waktu yang lama itu betul-betul nggak sehat bagi kesehatan mental. Tahukah Bapak, kalau kondisi mental yang tidak sehat ini akan sulit untuk bikin seorang ibu merasa bahagia.

Bayangkan saja, jika seorang Ibunya saja tidak bahagia, bagaimana dia bisa betul-betul membuat suasana rumahnya menjadi bahagia juga? Yang ada, karena terus menerus menahan emosi, justru anak-anaknya juga ikut-ikutan ngerasa stres.

Jadi, bukan sekadar menahan emosi, Pak. Emosi itu bukan ditahan, tapi dikeluarkan dengan cara yang baik dan nggak anarkis. Hal ini dapat terlaksana dengan baik, tentu dengan bantuan seorang suami yang juga teredukasi, yang juga dapat memahami partner-nya.

Mohon maaf nih, Pak. Kalau Bapak masih menganggap bahwa Ibu lah yang punya tanggung jawab lebih besar dalam awet dan langgengnya sebuah pernikahan, sehingga ‘Sekolah Ibu’ merupakan satu-satunya solusi. Itu artinya mengenai pengalaman Bapak waktu itu, secara nggak langsung Bapak mau bilang kalau: harusnya ‘Sekolah Ibu’ ada sejak dulu, sehingga Mbaknya bisa lebih memahami Bapak, gitu, ya?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: perempuanpernikahansekolah ibu
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Tepuk Sakinah saat bimbingan kawin bikin Gen Z takut menikah. Tapi punya pesan penting bagi calon pengantin (catin) sebelum ke jenjang pernikahan MOJOK.CO
Ragam

Terngiang-ngiang Tepuk Sakinah: Gen Z Malah Jadi Males Menikah, Tapi Manjur Juga Pas Diterapkan di Rumah Tangga

26 September 2025
Suka Duka Wedding Organizer Jogja yang Menyulap Pernikahan Jadi Cerita Tak Terlupakan
Video

Suka Duka Wedding Organizer Jogja yang Menyulap Pernikahan Jadi Cerita Tak Terlupakan

21 Juni 2025
Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6
Video

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.