Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ribetnya Orang Indonesia Saat Menentukan Tanggal Pernikahan

Audian Laili oleh Audian Laili
15 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di Indonesia, perkara menentukan tanggal pernikahan ribetnya bisa nggak karuan. Ternyata, dalam pernikahan, tanggal bukan lagi sekadar masalah angka.

Salah seorang teman dekat saya, sedang merencanakan pernikahan dengan pacarnya. Semua rencana yang mereka jalani sebelumnya, bisa dikatakan lancar-lancar saja. Sampai akhirnya, mereka kepentok dalam perkara menentukan tanggal pernikahan. Teman saya ini, tidak menduga kalau menentukan tanggal pernikahan ternyata bisa sangat ribet dan sealot itu.

Kesulitan pertama, kedua keluarga belum ada kesepakatan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan pernikahan. Keluarga pasangannya ingin menyelenggarakannya sesegera mungkin. Mereka menganggap, nggak baik kalau jarak antara lamaran dan akad terlalu jauh. Sementara keluarga dia sendiri, merasa kesulitan untuk mempersiapkan jika harus dilaksanakan dalam waktu dekat. Apalagi, kalau diselenggarakan dalam waktu dekat dan seolah terburu-buru, takut orang lain mikir-mikir macam-macam. Yak, maksudnya takut dikira udah hamil duluan~

Kesulitan kedua, belum lagi masalah menentukan tanggal pernikahan ini, harus menyesuaikan izin cuti kedua orang tua mereka. Termasuk mereka sendiri—yang sama-sama bekerja. Apalagi kedua keluarga bisa dikatakan memiliki background pekerjaan berbeda. Tentu saja, hal ini semakin menyulitkan dalam mempertimbangkan kapan bisa cuti, dan kapan betul-betul nggak bisa ambil cuti.

Kesulitan ketiga, usut punya usut, ternyata segala masukan tersebut bukan hanya berdasarkan keluarga inti saja. Namun juga kedua keluarga besar. Ya, keluarga besar punya suara yang sama untuk ikut urun usul. Pasalnya, semua anggota keluarga penginnya ikut datang dalam pesta pernikahan tersebut. Tidak ingin melewatkannya hanya karena ada urusan lain yang betul-betul tidak dapat ditinggalkan.

Kesulitan keempat, ini menjadi semakin ruwet kalau ternyata keluarga tersebut punya pantangan terhadap tanggal-tanggal tertentu untuk dijadikan tanggal pernikahan. Padahal kan, bukannya semua tanggal itu baik, ya? Kok ada yang jadi pantangan? Misalnya, weton meninggalnya Kakek atau Neneknya. Atau kalau di Jawa, punya anggapan nggak boleh nikah di Bulan Suro—soalnya menjadi pembuka bulan yang disakralkan sehingga nggak boleh ada perayaan pesta. Hadeeeh, jika seperti ini, semakin panjang urusannya.

Kalau udah kayak gini, boro-boro mau mikirin tanggal yang punya nilai historis bagi romansa hubungan mereka. Misalnya, kayak tanggal kencan pertama atau tanggal jadian. Apalagi mau bayangin bisa nikah di tanggal cantik biar epic? Sudah tentu tidak mampu. Perkara yang krusial aja masih belum kelar dan belum ada kesepakatan, kok malah mikir soal epic-epic an. Hasssh!

Teman saya ini juga cerita, kalau hubungannya sama pacar jadi agak renggang hanya karena ribut tentang menentukan tanggal pernikahan. Tapi, ya, mohon maaf, nih. Masalah tanggal ini, bukanlah sesuatu yang ‘hanya karena’. Pasalnya, kepastian tanggal ini adalah suatu hal inti yang kemudian menentukan hal-hal berikutnya. Misalnya booking venue, pesen katering, sewa dekorasi, dan bab pesen-pesen yang lainnya.

Kecuali kalau kamu memang sudah punya wedding organizer sendiri plus punya gedung atau venue sendiri. Jadi, nggak perlu ribet-ribet amat booking sana-sini. Eh, tetep ribet, ding. Kalau di tanggal itu, ternyata jasanya udah kadung di-DP sama orang lain, gimana? Jadi, sama aja, kan?

Tapi, kenapa harus ribet, sih? Kan yang nikah cuma dua orang, aja.

Memang betul, menikah adalah urusan si pasangan. Pun yang menjalaninya juga si pasangan. Namun, masalahnya, dalam budaya kita (((iya, budaya kita))), menikah dengan seseorang berarti juga menikahi seluruh keluarganya, Sayang. Makanya, jangan lupa sebelum nikah cari tahu dulu, apakah keluarganya betul-betul menerimamu. Atau nggak. Apalagi dalam penghelatan pernikahan tersebut—bagaimanapun juga—pihak keluarga ikut berperan dalam membantu dan mendukung keberlangsungan acara tersebut.

Maka menjadi wajar-wajar saja, kalau mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Tentu saja, supaya semuanya berjalan dengan lancar, penuh restu, dan berkah. Tanpa ada gerundelan di belakang. Meskipun lagi-lagi, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang, sih~

Mungkin keadaan yang dialami oleh teman saya ini, akan berbeda jika keluarganya punya budaya yang lebih individualis. Mereka nggak terlalu memikirkan apa-kata-keluarga-besar. Mungkin, (((mungkin loh, ya))) kesepakatan yang diambil nggak bakal terlalu ribet-ribet amat. Lantaran, musyawarah untuk mencapai kata mufakatnya hanya merunut dari pertimbangan keluarga inti saja.

Tapi teman saya juga menyadari, di tengah kehiruk-pikukan menyelaraskan pikiran banyak kepala, dia harus tetap menjaga kepalanya tetap dingin. Meski diam-diam, hal tersebut menguras emosinya. Apalagi, dia tipe orang yang cenderung selalu menginginkan segala hal berjalan sesuai dengan yang dia rencanakan. Hmmm, makin tambah-tambah sumber kesumpekannya.

Iklan

Saya yang bukan siapa-siapa, sebetulnya hanya bisa mendengar ceritanya. Serta memastikan kalau dia nggak jadi Bridezilla karena ribet ngurusin nikahannya sendiri—tapi harus bisa memenuhi keinginan seluruh keluarganya.

Melihat keribetan teman saya ini, saya merasa cukup beruntung. Di saat teman-teman saya yang lain lagi ribet nyari-nyari tanggal nikah. Saya justru sibuk nyari tanggal liburan yang tepat untuk menghilang dari tuntutan kerja dan peradaban.

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2019 oleh

Tags: bridezillamenentukan tanggal pernikahanpernikahanwedding organizer
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan

10 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.