Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Punya Anak di Indonesia Adalah Perkara yang (Memang Seharusnya) Ribet 

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
29 Januari 2020
A A
punya anak omongan orang persiapan menikah dewasa sebelum punya anak dinamika keluarga mojok.co

punya anak omongan orang persiapan menikah dewasa sebelum punya anak dinamika keluarga mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Punya anak itu ribet dan membuat semua orang merasa harus ikut campur.

Semua ini bermula ketika seorang tenaga kesehatan mengeluh di Twitter bagaimana para ibu hamil yang ia temui sebenarnya nggak siap untuk punya anak.

“Pernah dapet pasien 18 tahun, baru nikah, masih pengen jadi ‘anak muda’, trus hamil. Udah gede nih hamilnya, 27-28 minggu. Cerita kalau males minum suplemen besi, asam folat, calc, aspirin (iya, skrining PE +), karena bosen minum obat kaya orang sakit,” demikian akun @dafinabalqis memulai utasnya.

Ibu hamil malas minum asam folat itu jelas egois. Tapi bukan cuma itu kasus yang ditemui si pembuat utas. Ia juga menemukan perempuan 41 tahun yang kaget karena hamil lagi serta pasien 17 tahun yang sembarangan memperlakukan kandungannya (dan masih ceria karena kayaknya nggak paham risikonya).

Utas itu kemudian disisipi imbauan keras yang bikin kuping merah.

TOLONG YA PARA WANITA.
KALAU MEMANG NGGA SIAP JADI IBU, TOLONG BANGET, KB YA.

Beneran kasian anak-anak kecil tanpa dosa itu kalau nanti lahir dari kondisi kehamilan ngga optimal, pas lahir gizi jg ngga optimal, tumbuh kembang terganggu, kualitas hidupnya sbg manusia jg menurun.

— mbal (@dafinabalqis) January 26, 2020

Soalnya….

Pas udah gede kalau ngga pinter karena sempat malnutrisi, yang marah ibunya. Dibilang anaknya gak belajar.

Padahal ya emang brain development nya ngga bisa maksimal. Emaknya ngga ngasih makan yg bener sejak hamil.

Hamil aja gak niat kok anaknya yang dimarahin kan gimana ya.

— mbal (@dafinabalqis) January 26, 2020

Si sesembak got her point, tapi ada respons lain yang berusaha meluruskan cara pandangnya: kalau ada ibu hamil yang kehamilannya bikin tenaga kesehatan prihatin, ya yang disalahin jangan cuma istrinya.

TOLONG YA PARA PRIA. KALAU MEMANG GAK SIAP JADI AYAH, TOLONG BANGET, KB YA.
DUREX ISI 3 HARGA 15RB. KALO KEMAHALAN SUTERA ISI 3 CUMA 5RB. JANGAN PAKE ALESAN GA ENAK. MAU ENAK EWI2, SEMUA TANGGUNG JAWAB DILEMPAR KE WANITA. https://t.co/h8FWko52Wn pic.twitter.com/4YqNrQ8odI

— Cici⁷☕ (@cicipls) January 28, 2020

Membaca balasan itu, saya jadi mikir, kalau ada orang mau punya anak tanpa perencanaan matang, yang salah bukan cuma si suami istri atau si laki dan si perempuan, tapi hampir semua orang. Kalau mau dibikin bales-balesan, daftarnya bisa tak terhingga.

Orang tua, misalnya, di Indonesia mereka sering sekali jadi  pihak yang paling kebelet pengin anaknya menikah karena termakan mitos nggak nikah-nikah = nggak laku. Dan kalau anak sudah menikah, apa lagi tuntutannya kalau bukan memberi cucu?

Sering kejadian kok, sebenarnya si anak aslinya tahu dirinya belum siap. Nggak siapnya bisa secara psikologi, tapi terutama masalah ekonomi karena problem satu ini efeknya yang paling ke mana-mana. Namun… karena orang tua kebanyakan intervensi, si anak kemudian memutuskan menikah punya anak. Entah karena jadi kepengin gara-gara dipanas-panasin orang tua, entah dapat janji setelah menikah tetap dapat support orang tua, bisa jadi juga takut dicap anak durhaka karena melawan keinginan orang tua.

Lalu teman, tetangga, keluarga besar, dan lingkungan sosial lain yang kamu tahu sendiri… sering banyak bacot. Mungkin cuma karena bosan dan butuh bahan omongan.

Iklan

Kalau kamu tak berada di lingkungan racun seperti ini, bersyukurlah. Karena saya sendiri ada di lingkungan kayak gini.

Kalau bicara dari sisi suami-istri yang mau punya anak, saya rasa kita-kita ini aslinya masih punya pilihan ketika menghadapi serangan semacam itu. Yaitu pilihan untuk memutuskan apa yang terbaik bagi diri kita. Syaratnya, kita melihat masalahnya dengan dibekali pendidikan seksual yang baik. Idealnya, kalau sudah begitu, kita lebih matang lah dalam memilah saran-saran yang masuk.

Kalau keputusan kita akhirnya melawan arus utama, kita harus akui: itu sulit memang.

Tapi, daripada hanya karena tidak enak, sungkan, segan, lalu kita menyengsarakan diri untuk waktu sangat panjang, jelas itu pilihan yang sangat tidak taktis dan visioner.

Wong nyatanya kita tak bisa memilih untuk bebas dari omongan orang, tapi kita masih bebas untuk tidak mendengarkan mereka.

Ketika itu sudah terlampaui, atau dirasa mudah diatasi, mungkin yang rada ribet justru melawan keinginan impulsif diri sendiri. Semacam, pengin nikah karena tergiur jadi raja dan ratu sehari, tapi tabungan aja nggak punya padahal sadar ongkos ngasih makan dan pendidikan anak itu muahal.

Saya masuk golongan orang yang nggak percaya bahwa “Tenang aja, memberanikan diri nikah dan punya anak akan membuka pintu rezeki”. Jika kamu percaya, silakan. Saya sendiri sudah cukup trauma menyaksikan kesedihan-kesedihan orang tua.

Bagi saya, cukup sudah perangai impulsif membuat masa-masa umur 25 tahun ke bawah saya penuh drama dan turbulensi. Sekarang yang saya tahu, saya takut sekali jika keputusan salah saya soal menikah dan punya anak membuat saya menderita kelak. Dan dalam jangka panjang.

Sebab, jika pun saya salah ambil keputusan, saya sih memang pantas menyesal dan menanggung hukumannya. Tapi ini soal punya anak, dan anak adalah nyawa baru, diri baru, pribadi lain di luar diri kita. Keputusan salah soal punya anak berimbas paling besar pada diri mereka alih-alih pada si ayah dan ibu, si kakek dan nenek, si tetangga, si om dan tante, dan si-si lainnya.

Saya takut sekali anak saya kelak menyesal saya lahirkan dan berkata, “Seandainya aja aku jadi anaknya orang lain….”

Dari sisi para pihak yang terbukti memang bisa mengintervensi keputusan satu pasangan untuk punya anak, saya memandang mereka juga mengintervensi ke arah sebaliknya. Ketika mereka bisa menjerumuskan orang ke keputusan salah, mereka juga bisa menyelamatkan orang dari keputusan yang salah.

Ini menurut saya: @dafinabalqis benar, @cicipls benar, namun sebaik-baiknya imbauan adalah dengan menghilangkan subjeknya. Menekankan bahwa yang salah adalah A saja atau B saja malah mengaburkan tanggung jawab pihak yang lain. Membuat pihak lain seakan-akan tak punya peran dan kuasa apa pun.

Rumah tangga, sebagai institusi yang salah satu pembangunnya adalah cinta atau emosi, adalah masalah kompleks. Siapa yang salah bisa sangat situasional. Mungkin ini tentang suami yang berkeras bahwa banyak anak, banyak rezeki. Mungkin ini perkara istri yang terjebak dengan perasaan belum menjadi wanita jika belum punya anak.

Tulisan ini akhirnya menjadi sangat normatif. Tapi tengoklah, mungkin kamu sendiri adalah korban rumah tangga yang tidak dipersiapkan dengan baik. Mungkin kamu sendiri kerap terenyuh menyaksikan berita-berita tragis, akibat dari orang yang tak layak jadi orang tua tapi ngeyel dan jalan terus.

Jadi, kepada siapa pun kalian, sebaiknya tekankan pada diri sendiri, perkara anak sejatinya memang ribet dan sudah seharusnya ribet. Demi kebaikan yang lebih besar, pendapat saya yang paling ekstrem menganggap, lebih baik menjadi tak beranak tapi bisa menyayangi semua makhluk hidup ketimbang menjadi orang tua yang buruk.

Toh, apa gunanya ilusi melanjutkan keturunan ketika dunia sangat tidak baik-baik saja seperti sekarang ini. Nambah masalah aja. Iya, gara-gara tiap hari baca berita, pandangan saya jadi sesurem ini 🙁

BACA JUGA Alasan Mengapa Hanya Pohon Tertentu yang Jadi Tempat Tinggal Hantu atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2020 oleh

Tags: anakmenikahtwitter
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO
Esai

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Tepuk Sakinah saat bimbingan kawin bikin Gen Z takut menikah. Tapi punya pesan penting bagi calon pengantin (catin) sebelum ke jenjang pernikahan MOJOK.CO
Ragam

Terngiang-ngiang Tepuk Sakinah: Gen Z Malah Jadi Males Menikah, Tapi Manjur Juga Pas Diterapkan di Rumah Tangga

26 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
tunadaksa lulusan S1 universitas terbuka (UT). MOJOK.CO

Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT

10 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.